Kenalan dengan Pangandaran yuk!

Sesuai janji saya, bahwa pelancongan singkat di Pangandaran akan terbeber-beberkan sesuai dengan penglihatan saya sendiri. Untuk lebih tahu beberannya, hayuk kita toyor-toyor pedal gas menuju Pangandaran.

Pangandaran tidak sedekat Pelabuhan Ratu atau Sawarna. Untuk yang lokasinya masih di pantai Jawa Barat, Pangandaran bisa dibilang cukup jauh. Saya berangkat jam empat pagi supaya mendapati jalanan sepi. Namun SIAL! Pemerintah daerah Rancakekek memang bangke. Jalanan, akses utama wisata ke Garut, Tasik atau pun Pangandaran, harus stuck selama 40 menit lebih gara-gara lubang-lubang segede babi hutan menganga di sekitaran Kahatex atau pasar di Rancaekek. Itu lubang sudah menganga sejak 4 bulanan lalu saat saya ke Garut dan sampai detik ini lubang-lubangnya semakin parah. Bangke!

Selepas Rancaekek, mobil pun kembali melaju menuju Pangandaran. Ingat ya, di jalanan harus ekstra hati-hati. Tikungannya dan turunan menyeramkan diperlengkap oleh cara menyetir tronton, bis, truk dan kendaraan berat lainnya itu gila semua. So, salah-salah, pas tikungan ciuman sama kendaran berat yang malas ngerem. Jangan lupa juga harus rajin-rajin nyalip kendaraan berat supaya tidak terlalu lama di jalan.

Biar tenaga untuk ngebut cukup banyak, saya isi perut dulu di Asep Stroberi Nagreg. Sambil menikmati udara super sejuk di jam delapan pagi dengan pemandangan sawah, saya menikmati sarapan berat. NASI LIWET dan teh panas tawar. Kenyang!

Perjalanan berlanjut melewati Tasik yang sesekali macet, jalanan berlubang– Ciamis juga demikian – Banjar dengan jalanannya halus tertata dan bersih – Pangandaran bergelombang dan berlubang. Waktu tempuh total plus macet di Rancaekek, plus sarapan di Nagreg dan stuck di Tasik karena perbaikan jalan itu SEPULUH JAM! Saya pun sampai di gerbang Pangandaran itu pukul 14.15, membayar 35.000 dan check in di ROSE INN. Soal ROSE INN akan ada tulisan tersendiri ya buat refrensi kalian.

Sepuluh jam itu cukup melelahkan juga ya. Jadi, beberapa jam ke depan, saya hanya akan rebahan, santai menunggu SUNSET, ngobrol ringan dengan pacar saya, @dwiyuniartid dan sahabat saya, @minkewh, di atas pasir Pangandaran sambil ngopi ringan.

Sebelum menjelajah KARANG NINI, CAGAR ALAM, GOA-GOA, PASIR PUTIH, DIVING, SNORKLING, MANCING, BANANA BOAT, JETSKI, CITUMANG, BATU HIU, BATU KARAS, GREEN CANYON dan wisata-wisata lainnya, ada baiknya saya berkenalan dahulu dengan Pangandaran. Supaya lebih ikrib! Setuju kan ya?

Menurut pemandu asli pemuda setempat, Pangandaran berasal dari kata PANGAN dan DARAN, atau bisa juga ANDAR-ANDAR. Pangan artinya makanan dan Daran atau Andar-Andar artinya pendatang. Pangandaran bisa dibilang tempat para pendatang mencari makan, pencaharian atau nafkah. Lebih dalamnya lagi, bisa dibilang juga, orang-orang datang ke Pangandaran untuk mencari kehidupan. #barutahu

Itu awal muawal nama Pangandaran. Sampai sekarang masih banyak pendatang mencari nafkah di Pangandaran. Bahkan orang-orang dari luar negeri, datang ke Pangandaran untuk mencari nafkah. Lupakan soal yang mencari nafkah, saya akan membahas sekilas soal Pangandaran.

By the way, tulisan pengenalan saya soal Pangandaran akan sedikit panjang ya. Jadi siapkan saja ganja atau bir atau tuak atau teh sebagai teman bacaan. Mau?:p #maubanget

Pertama kali saya masuk ke Pantai Pangandaran, saya ingat Kuta atau Legian. Kontur tanah dan tata jalanan di Pangandaran sangat mirip sekali Kuta. Jalanan dan pantai posisinya sejajar. Bedanya, Pantai Kuta dan sekitarnya cenderung tertata, minim sampah dan nyaman meskipun dipenuhi orang. Sementara Pantai Pangandaran, cenderung tidak tertata, awut-awutan, berantakan dan kotor. Berikut keadaan di bagian dalam kompleks Pangandaran. Pantainya akan ada tulisan tersendiri ya biar seru.

Pertama, jalanan di Pangandaran enaknya bisa tembus sana tembus sini, tembus Pantai Timur dan tembus Pantai Barat. Mau SUNSET tinggal jalan kaki ke Pantai Barat, mau SUNRISE tinggal jalan kaki juga ke Pantai Timur. Jaraknya pun tidak jauh. Lima menit sudah sampai.

Kedua, selain dengan berjalan kaki, di sini bisa juga keliling sekitaran menggunakan sepeda sewaan, becak, motor ATV, mobil cinta dan motor.

Ketiga, rombong-rombong bambu, kelontong bambu di pinggir jalan merusak pemandangan dan membuat Pangandaran terlihat semewarut. Meskipun di beberapa jalan ada toko-toko permanen yang lebih tertata, sehingga nyaman untuk beli-beli kebutuhan mantai.

Keempat, hotel-hotel dan penginapan sangat mudah ditemukan di Pangandaran. Dari harga jutaan hingga harga ratusan. Tinggal pilih saja mau hotel jenis apa.

Kelima, sedikit ke arah Pantai Barat yang masih sangat sepi sekali, berdiri deretan gubug-gubug bambu yang disebut kafe remang-remang. Kalau malam, ramai dangdutan dan wanita hiburan. Kata sahabat saya, inilah pelacuran yang dihalalkan pemerintah dan preman. Tidak seorang pun bisa membongkarnya. Bahkan FPI pun tidak bisa masuk ke Pangandaran, karena preman di sini lebih berkuasa dari polisi bahkan pemerintahan. Buat kalian yang ingin mencicipi kafe-kafe bambu remang-remang sambil goyang dangdutan dan digoyang perempuan hiburan, silakan masuk ke salah satu kafenya pada malam hari. Dijamin NGECROD! Begitu sih katanya.

Keenam, ada beberapa restoran, warung bakso, indomie, warung makan. Sementara tempat nyaman untuk nongkrong santai sambil menikmati suasana pantai nyaris tidak ada.

Ketujuh, di sini saya tidak menemukan kafe yang asik seperti di Kuta, Seminyak, Legian atau Jimbaran untuk ngobrol santai, nulis santai dan minum santai dengan makanan enak. Yah, mungkin karena penduduk Pangandaran belum mengerti cara mengolah wisata menjadi begitu menjanjikan, menguntungkan dan menyenangkan.

Kedelapan, karena ketidakberdayaan pemerintah dalam mengembangkan fasilitas, menata warung-warung dan toko-toko, maka pemasukannya dibebankan di pintu masuk saja. Selebihnya, terserah pengunjung dan orang-orang di dalam kompleks.

Kesembilan, saya salut dengan penduduk di Pangandaran. Mereka melarang penjualan tanah ke warga Asing. Jadi, nyaris semua hotel pemiliknya orang lokal. Menurut gosip, orang Bandung menjadi investor paling banyak. Baguslah. Tidak seperti Bali. Tapi dampaknya, tidak sedikit juga hotel yang kurang terawat dan dibiarkan begitu adanya.

Dan banyak lagi persoalan lainnya jika terus diperhatikan. Namun tidak adil sih membandingkan Pangandaran dengan Kuta atau pun Legian. Kuta itu sudah puluhan tahun ditata, penduduknya sudah melek wisata dan mereka sudah sadar bahwa wisata adalah aset yang menguntungkan. Sementara Pangandaran mungkin baru menggeliat dan itu pun tidak dikelola dengan baik oleh pemerintahan setempat. Menurut rumor, ya Pangandaran dikelola oleh ormas dan preman. Dibiarkan semerawut dan apa adanya.

Sebetulnya, sangat menarik menulis premanisme ormas di Pangandaran, tapi bukan ini tujuan saya ke Pangandaran. Saya ke sini hanya untuk menikmati liburan. Lagipula, saya tidak menggali lebih jauh peran preman, sosiologi, sosial budaya dan permasalahannya di Pangandaran. (Semoga informasi soal premanisme ormas, kecuekan aparat dan pemerintahan hanya rumor.)

Itulah pengenalan saya pertama kali dengan Pangandaran. Semua tulisan ini berdasarkan pengamatan dan ngobrol ringan. Jika ada yang tidak setuju, silakan saja ya.

Di tulisan berikutnya, saya akan membahas Pantai Barat, Pantai Timur dan beberapa lokasi wisata lainnya.

Terus pantau ya jika ada waktu:p

“sonofmountmalang”

17 thoughts on “Kenalan dengan Pangandaran yuk!

  1. jadi ingat dulu ke sana…
    berangkat sore dari Cirebon, sampai di sana tengah malam, itu setelah muter-muter-muter-muter… dan berkali-kali saya tanya ke teman saya: ‘sudah sampai?’
    rasanya lama banget. hehehehe.

    tapi memang menyenangkan sih di sana. sayangnya memang agak kurang terawat. katanya sih itu karena tsunami dulu, jadi belum berbenah penuh. entah kalau sekarang (saya ke sana tahun 2009). ditunggu fotonya nih

    • Jauh ya. Saya merasakan hal yang sama. Perasaan udah genjot gas, sulap salip bis, truk, kulak kelok, ketemu kota, hutan, kota, hutan lagi kok masih belum sampai juga.

      Justru katanya setelah tsunami malah lebih berbenah dan namanya makin melambung di dunia perturisan. Katanya lho ya:d.

      • o ya.
        gak tau juga sih. gak pernah ke sana sblm tsunami sih.
        pas kemarin itu sih memang masih agak sepi. tapi kurang puas. cuma duduk2 di warung pantai sambil minum air kelapa n liatin temen yg maen aer.

        memang sih lebih ok Kuta, Bali. di Pangandaran memang masih agak kurang utk fasilitas pendukungnya. Jarang ditemukan tempat utk duduk santai. Padahal, dia itu jauh dari mana-mana.
        Jadi kangen…

Any comments, please....

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s