Berkontemplasi di Pantai Timur

Awannya sedang egois, tetapi nelayan ban tetap mengayuh bannya menggunakan piring plastik ke tengah laut untuk menyerbar jala.

Awannya sedang egois, tetapi nelayan ban tetap mengayuh bannya menggunakan piring plastik ke tengah laut untuk menyebar jala.

Sahabat saya, @minkewh, dari Pangandaran bilang,”Di sinilah titik terang akan lahir dari balik bukit untuk menerangi lautan, kalian dan seluruh dunia.”

Saya pun bangun di pagi buta. Berjalan kaki bersama @dwiyuniartid menuju Pantai Timur selama lima menit. Saya duduk di tembok penghalang tsunami. Menurut sahabat saya, tembok ini dibuat khusus untuk mengurangi dampak tsunami, namun penduduk sekitar membangun gubug-gubug warung di beberapa titik untuk berjualan. Temboknya cukup lebar dan ada jalur untuk lari pagi. Entah diperuntukan untuk lari pagi atau bukan, yang jelas jalur ini di beberapa titik terhalang oleh gubug-gubug bambu.

Sedikit ke arah barat terdapat dermaga-dermagaan dari bambu. Dermaga kayu dibuat untuk wisatawan yang ingin bermain air, banana boat, jetski dan mainan air lainnya. Di Pantai Timur lebih nyaman untuk berolah raga air karena nyaris tidak ada gelombang. Air lautnya cenderung santai. Buat kalian yang ingin seru-seruan, Pantai Timur tempatnya.

Tapi saya datang ke Pantai Timur bukan untuk berolah raga air, saya duduk menikmati tenangnya laut sambil menunggu matahari muncul dari bukit tipis dan menyalakan riak-riak di tengah lautan. Sayangnya, awan sedang egois. Saya pun hanya bisa melihat celah kuning tipis di tengah awan hitam, abu-abu, putih dan kelabu. Riak-riak di laut pun tetap dingin dan muram, sementara nelayan sederhana begitu bersemangat mengayuh bannya menggunakan dua piring plastik menuju tengah laut untuk menyebarkan jala.

Setidaknya itu yang saya lihat. Mereka merupakan nelayan yang tidak memiliki perahu. Modalnya hanya ban, dua piring plastik untuk mengayuh dan jaring. Ketika saatnya tiba, nelayan-nelayan itu akan menarik jala dari tengah laut menggunakan tambang. Dibutuhkan empat sampai lima orang untuk menarik jala dari tengah lautan menggunakan tambang menuju pantai. Saya tidak memotretnya. Tidak tega melihatnya. Cukup melihatnya dan tetap berharap titik terang muncul dari kemendungan.

Akhirnya saya memutuskan untuk kembali ke hotel. Menyiapkan diri menuju Batu Hiu, Batu Karas, Green Canyon dan Citumang.

Seperti apakah Batu Hiu, Batu Karas, Green Canyon dan Citumang? Tunggu saja ya.

Pemandangan sepanjang pantai timur ke arah Cagar Alam Pananjung. Mendung dan dingin.

Pemandangan sepanjang pantai timur ke arah Cagar Alam Pananjung. Mendung dan dingin. Perahu-perahu masih terpasung di sisi pantai.

“sonofmountmalang”

Advertisements

18 thoughts on “Berkontemplasi di Pantai Timur

  1. Itu beneran ndayungnya pakai piring? Jadi keinget cerita dongeng ada orang ngedayung pake piring. Untung perahunya bukan dari panci, penggorengan, atau yang sejenisnya.

Any comments, please....

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s