Manggung di Gua Panggung

Kebayang nggak kalau perahunya ditata rapi, rumah-rumah di ujung sana juga ditata rapi. Kebayang nggak, duduk di sini saat sunrise. Hmmmm...! Pantai ini posisinya sebelum Gua Panggung alias ada di sebelahnya.

Kebayang nggak kalau perahunya ditata rapi, rumah-rumah di ujung sana juga ditata rapi. Kebayang nggak, duduk di sini saat sunrise. Hmmmm…! Pantai ini posisinya sebelum Gua Panggung alias ada di sebelahnya.

Tulisan ini merupakan kelanjutan dari wisata Cagar Alam Hutan Pananjung ya.

Setelah ke situs Batu Kalde, saya menuju Gua Panggung. Ini gua cukup besar. Duduk di sini kayanya enak. Bisa melihat ke laut melalui celah besar. Saya membayangkan, dulunya air laut ini pasti lebih tinggi dari sekarang, sehingga gelombangnya mampu menciptakan lubang di karang. Menciptakan karya alam yang cukup menawan. Sayangnya, pencahayaan di sini rada gelap. Kamera apa adanya tidak mampu menghasilkan kualitas foto sekelas NATGEO. #alesan!

Itu menurut analisis saya. Berbeda dengan cerita di balik Gua Panggung ini. Kononnya, gua ini ditempati Embah Jaga Lautan. Nama lainnya, panggil saja Kyai Pancing Benar. Dia itu anak angkatnya Nyi Roro Kidul. Di sini tidak boleh nyebut Nyi Roro Kidul. Di sini bolehnya nyebut Nyi Roki. Panggilan gaulnya di Pangandaran. Wah! Hebat juga ya Nyi Roki. Gitu-gitu juga jiwa sosialnya tinggi, sampai ngangkat anak segala. #saya sih nggak mau diangkat

Ada pun Nyi Roki ini menugaskan anak angkatnya untuk menjaga lautan di Jawa Barat dan juga pantai di Indonesia. Tugas yang berat tuh buat Embah Jaga Lautan. Sekarang saja lautan dijaga Marinir masih tetap disantroni pembajak dan maling pasir dan maling ikan ya. Salut Mbah!

Eh, tapi menurut gosip juga, Si Embah Jaga Lautan ini asalnya dari Mesir. Tugasnya menyebarkan agama Islam di Pangandaran. Owwww! Sepertinya Si Embah Jaga Lautan ini nih yang merusak Candi Hindu Batu Kalde. #nuduh

Hebatnya lagi, selain menjaga lautan, menyebarkan Islam, Si Embah ini punya istri 7! Haduh! Pasti nih Si Embah kuat banget. Setiap malam dia datang ke istri berbeda. Artinya, satu malam satu istri. Selama seminggu dia menggilir istri-istrinya. Letoy-letoy dah tuh mbah. *maaf ya, saya sengaja nulisnya sambil bercanda supaya tidak ngantuk* #Zzzzzzz!

Saking banyaknya istri, pada suatu hari Si Embah lupa mendatangi istri ke tujuhnya. Tuh kan, saya bilang juga apa. Satu istri cukup mbah! Kebanyakan jadi lupa deh tuh. Atau, jangan-jangan Si Embah lagi nyari daun muda. #nunggu 3GP-nya!

Masalahnya sepele sih. Dia lupa karena keasikan memancing di laut. Saat memancing itu dia mendapatkan ikan Topel. Disebut ikan Topel dikarenakan ikannya menempel di pancingan, bukan mengait. Sebab, pancingan yang dia gunakan merupakan pancingan lurus. Sayangnya nih Si Embah tidak meninggalkan pancingan lurus di Gua Panggung. Jadi saya tidak bisa menunjukkannya ke kalian. Ngayal saja ya pancingan lurus itu kaya apa.

Nah, karena dia mendapatkan ikan Topel aka ikan yang menempel, maka seluruh istrinya tetap rukun dan tetap menempel ke Si Embah. Wahhhhh! Boleh juga tuh. Kalau saya bisa mendapatkan IKAN TOPEL, saya akan mengumbar cinta ke para wanita, gadis dan perawan cantik, tingting, unyu, gres dan super model di seluruh dunia supaya pada nempel! Haaaa?!!! #tujuannyajelek

Dari sinilah Si Embah Jaga Lautan mendapatkan nama lainnya, yaitu Kyai Pancing Benar. Katanya, sampai detik ini, masih banyak orang-orang dari seluruh Indonesia, yang percaya hal-hal mistis, tetap berusaha mendapatkan IKAN TOPEL. Kalau benar ada mah, saya juga mau atuh!

Selain cerita mistisnya, pemandangan di Gua Panggung juga bagus untuk foto-foto stalaktit dan berdiri di panggung. Ya, namanya juga Gua Panggung, pastinya ada bagian panggungnya.

Di bagian tengah Gua Panggung ini ada makam. Katanya, ini simbolisnya makam Kyai Pancing Benar. Makam itu dibuat untuk mengenang Si Embah Jaga Lautan yang tiba-tiba menghilang saat bertapa di gua ini. Hmmm..! Ketujuh istrinya pasti kesepian tuh ya. Sayangnya saya belum ada saat itu. Coba kalau saya sudah ada, pastilah saya gantikan peran Si Embah. #genjoootttttt7hari7malam

Karena keterkenalannya Si Embah Jaga Lautan, pada bulan-bulan tertentu, gua ini sering dijadikan tempat untuk meditasi, istilah saya dan ngelmu atau semedi atau bertapa istilah mereka. Memang sangat ideal sih untuk meditasi. Suasana sejuk, ombak, sepi dan mistis sangat paslah untuk bertapa mencari wangsit atau sekedar menenangkan jiwa.

Sebagai informasi tambahan, Gua Panggung ini dulunya sering digunakan sembahyang para wali dan orang-orang yang akan ke Mekkah. Pada jaman wali-wali itu Garuda Indonesia atau Lion Air sudah ada belum sih. Kalau belum, pada naek apaan ke Mekkah? Au deh. Berenang kali yak!

Kalau sudah bosan di Gua Panggung, gampanggg! Tinggal nyebur ke PANTAI PASIR PUTIH di sebelahnya. Ombaknya cuma segede upil. Mau?

Satu hal lagi. Karena pantainya adalah pantai nelayan. Menurut nelayan sih itu pantai nelayan, bukan pantai wisatawan, jadinya ya kalian tahulah orang Indonesia. Pantai bagus pun jadi terlihat butut dan tidak dibersihkan dari sampah-sampah alam atau pun sampah manusia. Juga banyaknya perahu rusak di pantai dekat hutan merusak pemandangan. Arrrgggghhh! Kenapa sih? Tidak bisa ya diatur sedikit gitu biar lebih enak dipandang. Ini pemandangannya bagus, pantainya juga bagus. Ini aset untuk wisatawan. Ini sumber penghasilan kalian lho. #marahmarahteruspergi

Saran saya buat pengelola Cagar Alam supaya pemasukan banyak, wisatawan nyaman, cobalah bersihkan sampah-sampah di pantai sebelah Gua Panggung. Rapihkan juga perahu-perahu nelayan seperti di Pantai Amed. Bikinlah nyaman. Ini spot yang bagus untuk melihat sunrise. Kalau bisa, buatlah bangku panjang di dekat hutan untuk duduk-duduk melihat sunrise. Tidak usah menggunakan semen-semen segala. Tuh kan banyak kayu-kayu yang sudah tumbang. Sayang kan dibiarkan lapuk atau dijual ke orang luar. Lebih baik gunakan untuk tujuan wisatawan lebih nyaman. Lumayan lho. Wisatawan kan nggak datang cuma sekali ke Pangandaran. Sekali mereka senang, bersih, nyaman, saya jamin! Mereka akan kembali lagi.

Mang Rasyid, para pemandu, nelayan dan petugas hutan mungkin bisa membuat gerakan ini. Coba deh. Tidak rugi kok ya. Ya ya ya. Maaf ya, saya menulis tidak hanya melulu memuji tempat wisata. Supaya mereka sadar saja sih. Kalau sadar. Kalau ngga, ya terserah. Itu semua buat kebaikan mereka dan lingkungan sekitarnya juga. Kalau mereka tidak berbenah juga….?

Berserakan perahu-perahu nelayan di atas Pantai Pasir Putih yang tidak terlalu luas.

Berserakan perahu-perahu nelayan di atas Pantai Pasir Putih yang tidak terlalu luas. Harusnya jadi tempat bagus, ini malah sumpek dan kotor. Sayang sekali ya.

Kapal-kapal berserakan. Padahal kalau mau, petugas hutan, pemandung dan nelayan, cobalah rapihkan tempat ini. Ini spot bagus untuk melihat sunrise.

Posisi perahu kacau balau. Sebagian sudah rusak. Padahal kalau mau, petugas hutan, pemandung dan nelayan, cobalah rapihkan tempat ini. Ini spot bagus untuk melihat sunrise.

Pohon raksasa tumbang dibiarkan tumbang dan busuk secara alamiah. Saya suka konsep alamiahnya, tapi bisa kan dirapihkan supaya tidak merusak pemandangan.

Pohon raksasa tumbang dibiarkan tergeletak dan busuk secara alamiah. Saya suka konsep alamiahnya, tapi bisa kan dirapihkan supaya tidak merusak pemandangan.

Pantai Pasir Putih di samping Gua Panggung.

Pantai Pasir Putih di samping Gua Panggung.

Pintu masuk Gua Panggung.

Pintu masuk Gua Panggung.

Kondisi di Gua Panggung. Saya butuh cahaya sama flash lebih bagus untuk menghasilkan jepretan bagus. Sementara, pake flash apa adanya dan kamera apa adanya juga ya.

Kondisi di Gua Panggung. Saya butuh cahaya sama flash lebih bagus untuk menghasilkan jepretan bagus. Sementara, pake flash apa adanya dan kamera apa adanya juga ya.

Pemandangan dari atas Gua Panggung. Ada celah menuju lautan.

Pemandangan dari atas Gua Panggung. Ada celah menuju lautan.

Celahnya tidak terlalu besar, namun cukup untuk mengintik ke luat di Pantai Timur Pangandaran.

Celahnya tidak terlalu besar, namun cukup untuk mengintik ke luat di Pantai Timur Pangandaran.

 Sisanya akan dilanjutkan besok ya. Jangan lupa lho, masih ada GREEN CANYON. Hihihihihihihi!

 “sonofmountmalang”

 

 

 

19 thoughts on “Manggung di Gua Panggung

Any comments, please....

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s