Dongeng (12) Dora

Aceh Gayo sudah dituang ke dalam cangkir kecil dari Moka Pot yang masih panas. Wanginya memenuhi kamar. Konon, Aceh Gayo ini mengandung serbukan ganja. Jadi saya berharap di tengah-tengah pendongengan, mata terlelap lebih awal. Semoga saja kadar ganja di Aceh Gayo ini melebih kadar aman. Selain sensasi pahit, saya juga bisa merasakan sensasi gele. Semoga lho ya. Mari…!

    “Sudah siap?”

    “Siaappp!” sambut pacar saya girang.

    “Wokeh!”

Saya pun berbenah diri. Membetulkan posisi bantal dan badan. Supaya nyaman ketika mendongeng.

Malam ini saya akan mendongeng tentang seekor anjing berburu. Dia anjing peliharaan. Anjing itu bernama Dora. Warnanya perpaduan coklat dan putih. Bagian coklatnya setengah ekor, bagian keempat dengkul sampai bawah, kedua kuping, dari mata ke moncongnya, sebaris di punggungnya dan bagian perut. Sisanya berwarna putih. Ia sahabat mencari kayu bakar, rumput dan segala kegiatan di hutan, di padang liar dan di alam bebas lainnya.

Nama Dora sendiri diambil dari sebuah lagu. Apa ya judulnya. Judulnya Dora-Dora atau Dora. Saya lupa. Pernah mendengar judul ini? Kalau pernah ya, itulah asal usul nama Dora.

Dora merupakan seekor anjing terlatih. Kemana pun saya pergi, untuk urusan ke tempat-tempat di alam bebas atau liar, Dora pasti ikut. Kecuali saat hari dimana saya dikejar babi di tengah hutan. Kenapa dia tidak ikut? Itu akan ada di akhir dongeng.

    “Nah, mulai deh ada dongeng di dongeng. Rese nih.”

    “Mau denger Dora nggak nih?”

    “Mau mau.”

    “Jangan motong dulu dong.”

    “Hihihihihihi!”

Dora ini penciumannya sangat tajam. Ya iyalah! Namanya juga anjing. Ia dengan mudah bisa mendeteksi keberadaan buruannya. Apa sih buruan saya bersama Dora? Ini nih bagian seru bersama Dora.

Saya biasa berburu kelinci liar di padang rumput. Kelinci-kelinci ini larinya sangat cepat dan biasanya mereka lari ke lubang. Kalau sudah ke lubang, Doralah yang kerja keras. Dia akan menggali tanah sambil terus menggongong, sementara saya sibuk mencari ujung lubang pelarian kelinci, yang biasanya tidak jauh dari lubang masuknya kelinci. Antara jarak lubang masuknya kelinci dan ujung lubang pelarian, biasanya, pada umumnya, sekitar lima meteran. Ada juga sih yang 10 meteran.

Saat Dora menggali lubang sambil terus menggonggong, saya menutup ujung lubang satunya dengan karung. Jadi, ketika kelincinya ketakutan didesak Dora, dia akan melarikan diri melalui lubang satunya dan langsung masuk ke dalam karung. Kalau kelincinya sudah masuk karung, saya tinggal teriak,”DORA!” sambil menunjukkan karung berisi kelinci yang masih berontak. Dora pun berhenti menggali lubang, dia akan berlari ke arah saya dan terus menggonggong senang.

Dan, saya pulang ke rumah membawa kelinci liar di dalam karung.

    “Terus kelincinya diapain?”

    “Mau aku dongengin sekarang atau nanti di akhir dongeng?”

    “Emang Doranya ngapain lagi?”

    “Ada dongeng seru lainnya soal Dora.”

    “Ohhh! Ya udah deh, di akhir aja.”

Selain teman berburu kelinci, Dora juga berguna untuk mengusir babi saat saya jalan-jalan ke hutan. Di hutan ini biasanya saya berburu landak dan trenggiling. Jika sedang beruntung, saya berburu kancil. Tugas Dora adalah menaklukan mereka semua. Landak, trenggiling dan kancil. Paling susah sih si kancil. Dora kadang suka kalah larinya. Sementara kalau berburu landak, Dora sering tertusuk duri. Paling gampang sih trenggiling, ada suara gonggongan, dia lari ke lubang. Kalau tidak sempat ya membulatkan tubuhnya jadi kaya bola. Saat membulatkan tubuhnya, Dora akan terus mengancam dan saya langsung menangkapnya menggunakan karung.

    “Kamu melakukan semua itu berduaan aja?”

    “Nggak dong. Kan ada dua sahabatku. Yang akan aku ceritain kapan-kapan ya.”

    “Ohhh! Siapa sih dua sahabat kamu ini?”

    “Ada deh.”

    “Ahhhhh! Kenalin sekarang dong!”

    “Besoknya lagi ah!”

    “Huh! Ya udah deh.”

    “Lanjut ya.”

    “Iya.”

Kancil sih paling susah ditangkap. Larinya kencang. Dora suka kalah kencang. Tapi pernah sesekali Dora menangkap kancil. Biasanya kancil ABG. Larinya tidak sekencang kancil dewasa. Dan, cara ampuh mengalahkannya, Dora menggigit salah satu kakinya dan tidak akan dilepaskan sampai saya tiba dengan napas ngos-ngosan. Lalu saya akan mengikat kaki kancil menggunakan pohon merambat atau kulit pohon atau rotan kecil. Kancil yang sudah terikat dibawa menuju kaki gunung.

Sekarang, saya akan menceritakan bagian, kira-kira diapain sih hasil buruannya. Siap-siap ngiler yaaaa! Hahahahaha!

Ada dua nasib untuk kelinci buruan saya bersama Dora. Dipelihara, meskipun pada akhirnya suka kabur dengan menggali tanah atau dipotong untuk  dipanggang di atas api unggun. Rasa daging kelinci liar itu enaakkk! Dagingnya gurih dan hmmm…..jadi lapar. Hahaha! Yuk makan kelinci, tapi jangan disate. Enaknya kelinci dipanggang di atas bara, kemudian disiram bir atau wine. Eh, coba saat itu di kaki Gunung Malang ada wine atau bir, pasti rasa kelincinya makin enak. Glek! Saya jadi menelan ludah sendiri. Kebayang nikmatnya daging kelinci panggang. Nyammm!

Itu tadi nasib kelinci. Nasib kancil, landak dan trenggiling tidak pernah bagus. Mereka biasanya berakhir di perut. Dipanggang di atas api untuk dinikmati dagingnya. Gurih, manis dan DELISIA!

    “Ih, kamu pernah makan daging landak sama trenggiling?”

    “Aku pernah makan banyak jenis daging dari binatang di hutan, kecuali babi!”

    “Jahat ih.”

    “Kan enak dagingnya. Nyam nyam!”

    “Kaya apa sih rasanya?”

    “Enakkkkk! Kapan-kapan berburu yuk!

    “Nggak mau. Kasian. Lagian Dora masih ada?”

Oh iya, saya mau dongenging kenapa Dora tidak ada ketika saya dikejar babi. Dora sudah meninggal sebulan sebelum kejadian itu. Ia dibawa ikut berburu babi di hutan bersama anjing-anjing pemburu lainnya. Namun sial menimpa Dora, tubuhnya luka-luka dihajar babi gila. Ia pulang digotong pemburu. Lukanya sudah tidak bisa sembuh lagi. Bahkan, satu kaki depannya patah digigit babi. Kata pemburu, Dora dikeroyok dua babi segede bagong. Satu yang ngamuk mati dihajar timah panas oleh pemburu, babi satunya lagi keburu kabur ke kedalaman hutan.

Tiga hari kemudian, Dora meninggal. Saya dan kedua sahabat bermain, menguburkan Dora di kebun teh belakang rumah milik nenek. Tidak lama setelah menguburkan Dora, hujan pun turun di kaki Gunung Malang. Saya menangis saat itu, di tengah kebun teh, menatap kuburannya. Sambil merengek, Dora kenapa mati, Dore kenapa mati. Teman saya mengambil daun pisang, mereka menutupi kepala saya dari guyuran hujan sambil menghibur ringan.

Selamat tinggal, Dora.

Dan, semenjak itu, kebencian saya terhadap babi makin memuncak. Hingga detik ini, saya tidak suka babi! Meskipun orang-orang bilang babi itu enak, saya tetap tidak tertarik makan babi.

    “Kasian Si Dora.”

    “Iya,” ucap pacar saya.

    “Aku jadi sedih.”

    “Yaaahhh…! Jangan dong. Dongengin aku lagi aja.

     Yang seru-seru. Jangan yang sedih.”

    “Udah malem banget.”

    “Yah….!”

    “Besok lagi deh.”

    “Besok-besok terus ih.”

    “Setahun aku ceritain juga nggak bakal habis.”

    “Ya udah deh. Bobo aja.”

Tumben dia belum tidur di tengah dongeng. Besok-besok, kayanya, saya harus mendongeng gantung, supaya dia penasaran dan tidak tidur duluan. Ide bagus.

Besok ya, dongengnya dilanjut. Sekarang, berhubung jam sudah berbunyi 12 kali, jadi saya pamit tidur dulu.

“sonofmountmalang”

4 thoughts on “Dongeng (12) Dora

Any comments, please....

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s