Dongeng (13) Madu Hutan

“Ada dongeng apa lagi malam ini?” belum juga saya membereskan bantal, pacar saya sudah menodong. Ada dongeng apa lagi ya. Sampai kakek nenek kita berdua, dongeng tentang kehidupan di kaki Gunung Malang, tidak akan pernah selesai.

“Iya, ada dongeng apa lagi? Dongengin dong. Aku pengen ngantuk nih. Besok ada presentasi ke client.”

“Mau yang seru atau serem?”

“Yang seru!”

“Mau di hutan atau di kaki Gunung Malang?”

“Dimana ya? Mmmmm….!  Di hutan lagi kayanya seru.”

“Yakin?”

“Iya, yakin.”

“DONGENG SOAL MADU HUTAN mau?”

“Seru kan?”

“Dengerin aja. Kalau nggak seru, tinggal pindah ke dongeng lain.”

“Iya deh, MADU HUTAN. Siap!”

Pacar saya membetulkan posisi tidurnya. Dia sudah siap sekali sepertinya mendengarkan dongeng sebelum tidur.

Sekarang, saya akan membawamu ke Cagar Alam Gunung Malang. Di hutan ini pohonnya tidak tersentuh oleh siapa pun. Polisi hutan melarang seluruh penduduk di kaki Gunung Malang masuk ke Cagar Alam jika tujuannya mengambil kayu. Kayu untuk apa saja tidak boleh. Bahkan, ada kayu sudah tumbang pun tidak boleh diambil. Dibiarkan begitu saja. Berlumut. Lapuk. Berjamur. Yang boleh diambil ya jamur-jamurnya saja. Soal jamur, bisa dibuatkan sesi tersendiri. Hahahahaha!

Saya kembalikan ke madu hutan. Di Cagar Alam ini pohonnya sudah tua dan ukuranya besar-besar. Ya, paling besar ukurannya tiga kali drum aspal. Hutannya lebat. Cahaya matahari sangat kesulitan untuk menembus ke bagian permukaan tanah. Bagi orang yang belum ahli soal tersesat di hutan, masuk ke kegelapan hutan di Gunung Malang, pasti sulit untuk kembali ke kaki gunung.

Yuk! Kita masuk ke Cagar Alam lebih dalam lagi. Untuk bisa menemukan madu hutan, saya, mereka dan para pemburu madu harus memasang telinga tajam-tajam. Sebab, hanya dengan ketajaman telinga, keberadaan madu bisa ditemukan. Biasanya, telinga tajam akan mendeteksi dengungan segerombolan lebah. Di hutan yang hanya terdengar suara hutan-hutan, mendeteksi suara lebah tidaklah terlalu sulit jika posisinya sudah dekat. Dengar saja dengungannya. Jika sudah, tinggal perhatikan pola terbang lebah. Lebah-lebah akan terbang ke satu tujuan. Tujuan itulah tempat dimana sarangnya berada.

Semakin banyak lebah bergerombol di satu pohon yang sudah mati, semakin meyakinkanlah, bahwa itulah sarang lebah dan madunya. Selanjutnya, saya menyiapkan  kampak untuk membelah kayu. Kayu terbelah, lebah buyar dan madu hutan siap diambil. Disengat-sengat satu dua lebah sih tidak masalah. Sudah biasa. Asal jangan sampai ada tawon saja. Eh, ada cerita seru soal tawon. Nanti saya ceritain juga ya.

Sarang lebah sudah ditangan. Kuning tua, wangi dan segar. Saya biasanya meniru adegan beruang madu. Menyedot penuh naspu madu dan mengunyah sarangnya hingga yang tersisah hanyalah sepah. Saya tidak memakan semua madu. Takut teler. Soalnya manis banget kan. Sisakan untuk orang-orang di kaki gunung. Atau kalau madunya sedikit, orang-orang di kaki gunung dibawain bayi lebah saja. Mereka memasaknya dengan cara digoreng bersama nasi atau dipepes atau disangrai saja. Rasanya gurih, enak dan penuh protein. Duh! Jadi ngiler begini ya. Kapan lagi ya bisa berburu madu hutan dan memakan bayinya. Hahahahha!

“Kamu makan bayi lebah juga?”

“Iyalah!”

“Emang enak?”

“Outback, Hollycow, Skipjack dan makanan mahal lainnya sih lewatlah!”

“Lebay!”

“Hahahahahah!”

“Terus terus… ngapain lagi?”

Saya pulang ke kaki gunung menyusuri sungai di tengah hutan. Di sungai saya biasanya menghilangkan haus dengan meminum air sungai.

Dingin. Bening. Jernih. Segar.

Lumayan untuk mengilangkan rasa haus setelah melahap madu dan sarangnya. Kalau mau rasa airnya berbeda, saya punya cara tersendiri supaya airnya manis di lidah.

“Mau tahu?”

“Mauuuu!”

“Oke. Aku simpan ceritanya buat besok ya.”

“Yaaaaaaa! Sekarang dong. Belum ngantuk banget nih.”

“Besok dua cerita deh sekaligus. Aku harus ngetik novel yang belum kelar-kelar juga nih.”

“Hahahahahah! Masih tuh?!” nadanya ngenye.

Pacar saya pun menarik selimut, merapihkan bantalnya. Ia membalikkan badan, memunggungi saya dan tidak lama kemudian ia tertidur.

Sampai di dongeng sebelum tidur berikutnya. Selamat malam.

 

“sonofmountmalang”

 

 

6 thoughts on “Dongeng (13) Madu Hutan

    • Disengat Chantal pastinya bengkak. Lhoooo!? Hahahah! Kalau disengat lebah sih cuma CLETUT! Kaget. Abis itu nggak apa-apa. Kalau tawon, CLETUT trus cecenutan, perih, sakit dan bengkak. Mau nyobain bedanya mas?

Any comments, please....

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s