Dongeng (14) Berburu sarang burung

Ada dongeng sebelum tidur apa malam ini? Banyaaaak! Mau lanjutin dongeng soal air sungai yang rasanya bisa berubah menjadi manis di lidah? Atau mau dongeng yang lebih seru lagi?

    “Yang lebih seru!! Emang air berubah jadi manis nggak seru?”

    “Serunya beda.”

    “Ohhhh!”

    “Boleh deh. Cerita apa?”

    “Sarang burung.”

    “Yahhhh! Nggak seru ah.”

    “Seru! Kalau nggak, besok aku bayarin makan di tempat makan paling mahal se-Jakarta!”

    “Awas ya kalau nggak seru!”

    “Iya!”

Beginilah nasib jadi pendongeng sebelum tidur. Digaji juga nggak, diancem iya. Hahahah!

Malam ini saya akan mendongengkan sebelum tidur tentang Sarang Burung. Sebelum memasuki dunia dongeng, sebentar saja ya saya akan menyeduh kopi ala tubruk. Seperti yang seharusnya dilakukan setiap malam sebagai ritual dalam menemani pendongengan oleh nenek saya dulu. Jenis kopi yang akan menemani dongeng malam ini dari Sumatera. Harumnya memenuhi ruangan. Ini lumayan untuk menaikkan mood bercerita. Sebelum memulainya, saya menghirup asapnya. Energi untuk mendongeng sudah penuh.

Okeh! Sekarang, saya sudah siap mendongeng.

Pernah melihat bentuk sarang burung kan? Pernah menyentuh sarang burung? Pernah memegang sarang burung? Pernah mengangkat sarang burung atau pernah tahu jenis-jenis sarang burung? Pasti banyak dari kalian yang tahunya sebatas sarang burung saja. Iya kan?

    “Tala, kamu tahu sarang burung kan?”

    “Tahu dong.”

    “Dari mana?”

    “Gambar-gambar waktu kecil sama dari TV juga kayanya.”

    “Hahahahahaha! Kasian ya.”

    “Ahhh! Biarin! Buruan ceritanya. Lama nih!”

Sepanjang hidup saya, selama hidup di alam bebas, di kaki Gunung Malang, saya sudah menjejalahi banyak sekali sarang burung. Sarang burung pipit, burung biji nangka, cucak rowo, elang, gagak, kutilang, tekukur, puyuh, manintin dan burung-burung lainnya. Termasuk sarang ular sekali pun untuk dicolong telurnya. Sampai saya sendiri tidak pernah tahu jenis burungnya apa. Saat itu, pengetahuan soal jenis burung masih sangat terbatas. Maklum. Hidup di jaman kegelapan.

Saya biasa mencari sarang burung untuk diambil telurnya atau anaknya. Jika kebetulan di sarangnya terdapat telurnya, saya mengambil telurnya. Dengan catatan telurnya masih belum siap dierami.

    “Kamu bisa bedain emang?”

    “Gampang banget itu mah.”

Ambil satu telur, lalu terawang ke cahaya matahari. Dari situ ketahuan telurnya masih bagus atau sudah berjanin. Hebat ya. Hahahaha!

Emang telur burung buat apaan sih? Doh! Jangan banyak nanya dong kalau lagi serius mendongeng. Dengerin saja. Nanyanya di belakang. Kalau sudah tamat dongengnya. Oke?

Dengerin lagi ya. Ini bagian yang harus didengarkan baik-baik. Telur, eh ini saya mendongeng soal sarang burung pipit dulu ya. Karena sarang burung ini paling banyak, paling sering diburu dan paling gampang.

Telur burung pipit biasanya dimakan mentah-mentah. Rasanya manis, gurih dan tak begitu berbau amis. SUMPAH! ENAK BANGET! Itu kalau saya mendapatkan telur burung pipitnya sedikit. Kalau lumayan banyak, semua telur disatukan. Biasanya digoreng atau direbus. Kecil-kecil sih ukurannya, tapi enak. Kira-kira seukura kacang atom.

Pada saat itu, meskipun ukurannya kecil, menurut saya sih rasanya sangat enak! Saya ketagihan memakan telur burung pipit. Seminggu bisa dua sampai tiga kali berburu burung pipit.

    “Kasihan tuh burung. Telurnya hilang terus.”

    “Hahahaha! Ya nggak setiap hari juga. Lagian kan burung pipit di kaki Gunung Malang itu musuh petani padi di sawah atau huma. Burung pipit dalam jumlah ratusan ribu bisa menghabiskan padi di sawah dalam waktu cepat.”

    “Ooohhh! Terus, kamu dapet sarangnya dari mana?”

    “Sebentar ya. Aku minum dulu.”

Saya menyiramkan kopi Sumatera semi panas ke dalam kerongkongan. Lumayan untuk melicinkan cerita berikutnya.

Dulu, saya melanjutkan dongengnya ya. Dulu, di kaki Gunung Malang, selain ditemukan banyak perkebunan teh dan kopi, juga banyak ditemukan perkebunan cengkeh. Seperti biasa, dongeng tentang cengkeh juga akan ada ya. Kopi juga. Teh juga.

    “Haaaaa?! Rese!”

    “Hahahahaha!”

Kembali ke sarang burung ya. Saya biasanya mencari sarang burung di perkebunan cengkeh. Pohon cengkeh di kaki Gunung Malang tumbuh subur dengan tinggi bervariasi. Dari tinggi dua meter hingga sepuluh meter. Tergantung usia tanamnya. Semakin tua, semakin tinggi, rimbun dan buahnya semakin banyak pada musim panen. Nah, pohon cengkeh ini dijadikan tempat favorit burung pipit untuk berkembang biak. Mereka biasanya membuat sarang di bagian paling puncak pohon cengkeh. Di satu pohon cengkeh bisa terdapat dua sampai tiga sarang burung pipit. Tapi rata-rata atau pada umumnya hanya satu sarang burung di satu pohon.

Cara menemukan sarang burung juga gampang. Dari ribuan pohon cengkeh, saya biasanya mencari pohon cengkeh yang rimbun bagian puncaknya. Kemudian saya mengintip dari bawah. Jika ada benda hitam menggunduk bulat seukuran cangkir kopi di bagian cabang-babang paling puncak, sudah dipastikan itu sarang burung pipit. Supaya tidak tertipu sudah capai-capai naik hingga ke puncak pohon, maka sebelum naik, goyangkan pohonnya dari bawah. Jika ada burung pipit terbang keluar dari sarangnya, sudah bisa dipastikan di dalam sarang itu ada sesuatu. Dan, saya pun mulai memanjat pohon cengkeh. Mudah kok memanjat pohon cengkeh. Dari bawah hingga atas, dahannya dibiarkan tumbuh dan rimbun.  Lagipula, soal panjat memanjat pohon, saya cukup lihai. Keciill!

Sekarang saja saya jadi takut gara-gara trauma. Soal trauma itu kenapa, ada ceritanya juga. Xixixixixixi!

Kalau sudah berada di puncak pohon cengkeh, saya mengintip ke dalam sarang burung. Jika posisinya cukup sulit, saya merogohkan tangan ke dalamnya. Ketemu telur ya ambil telurnya. Ketemu anak burung ya ambil anak burungnya. Lebih kejam lagi kalau telurnya banyak atau anak burungnya juga banyak, sekalian saja ambil sarangnya. Telur burungnya dikumpulkan atau langsung dimakan di tempat. Cara makan telur burungnya ya langsung dimasukin ke mulut, dipecahin di mulut dan dihisap hingga tersisa cangkangnya. Kalau telurnya terkumpul banyak, disatuin buat direbus atau didadar. DE  MI TU HAAANN! ENAK BANGET! Hahahaha!

    “Weeeee!” celetuknya kegelian membayangkan saya makan telur burung pipit.

Eh, tunggu dulu. Jangan wee dulu. Ini ada yang lebih weee! Kalau kebetulan sarang burung itu isinya anak burung, nasibnya ada tiga pilihan. Dibalikin lagi ke pohon jika usianya masih terlalu muda, dipiara sampai besar atau biasanya sih saya selalu menggunakan pilihan ketiga, yaitu disembelih dan dipanggang di atas api kecil. Harumnya, gurihnya dan ranumnya itu DE MI TU HAAAANN! ENAK BANGET! Haaaahahah! Oops!

Asli! Burung pipit itu salah satu burung dengan cita rasa luar biasa. Tahu nggak kenapa rasanya bisa enak? Soalnya burung pipit itu makannya padi setengah matang yang rasanya masih manis. Dan sekali lagi ya, kata ibu dan nenekku, buat apa miara bangsat padi lebih baik dimakan saja. Okeh! Nyam! Nyam! Nyam!

Cerita soal sarang burung pipit cukup sampai di sini ya. Selanjutnya, saya berburu sarang burung puyuh yang posisinya selalu ada di sekitaran tanah, sarang burung biji nangka yang adanya di pohon Kiteble atau pohon teh. Sarang burung tekukur, sarang burung kutilang di atas pohon pinus, pohon rasamala atau puspa dan pohon tinggi lainnya. Sarang burung gagak dan elang di puncak pohon kiara atau beringin.

Burung gagak dan elang ini paling susah disentuh sarangnya. Mereka berdua jenis burung yang membangun sarangnya di puncak pohon yang ketinggiannya sudah tidak bisa dipanjat. Selain tinggi, juga biasanya mereka memilih bersarang di pohon yang usianya sudah puluhan tahun dengan ukuran pohon segede drum atau lebih. Apa kabar kan tuh manjatnya. Meskipun tingginya najis begitu, saya sempat suatu hari mendapati anak elang yang belum bisa terbang ngesot-ngesot di tanah. Saya memeliharanya hingga besar. Namanya Helang. Ini ceritanya nanti ya.

    “Gimana? Mau nyobain telur burung pipit atau ngerasain panggang anak burung pipit atau telur-telur burung lainnya? Mau?

     Zzzz…ngrok!

    “Halo? Halo? Masih bangun?”

    Zzzzzzzzzzzz…ngrok!

Itulah jawaban di sebelah saya. Waks! Saya mengoceh sendiri sedari tadi. Kaya orang gila. Padahal cerita sarang burung masih belum kelar. Ah, tapi ya sudah deh ya. Saya sambung besok-besok saja. Sekarang, kita semua merem dulu yuk!

“sonofmountmalang”

18 thoughts on “Dongeng (14) Berburu sarang burung

    • Hihihihihih!
      Burung biji nangka itu gedenya ya segede biji nangka. Warnya kaya kulit nangka mau menuju matang. Antara kuning dan hijau. Sementara pohon kiteble, wah ini harus difoto. Pohon kiteble biasa digunakan untuk membalut luka. Bagian kulitnya dikerik dan dijadikan antiseptik dengan cara dicocol ke luka. Perihnya setengah mampus tapi luka jadi cepet kering. Pohonnya kaya apa, nanti kalau jalan-jalan ke hutan atau padang belantara saya foto deh:d

  1. Your posts really intrigued me because every time it popped on my news feed there’s an amazing photo or a really nice photo in it. Everytime i hit the translate button from malay to english, i could only comprehend a few😄 anyway, i really love those photos you took and post :))

Any comments, please....

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s