Dongeng (15) Cinta mati

    “Malam ini akan ada dongeng apa?”

    “Dongeng apa ya?”

    “Masih banyak kan dongeng kamu?”

    “Banyak banget!”

    “Dongengin aku soal masa kecil kamu lagi dong.”

    “Bagian yang mana?”

    “Yang mana aja.”

    “Yang serem? Mau?”

    “Ah, yang kemaren-kemaren nggak serem.”

    “Kali ini dijamin serem!”

    “Beneran?”

    “Iya, percaya deh.”

    “Oowwkeh! Aku siap!”

Di kaki Gunung Malang, pernah terjadi sebuah kejadian menyeramkan. Seorang perempuan muda dilarang pacaran oleh ayahnya dengan pemuda dari desa seberang. Ayahnya meminta mereka berdua putus. Bahkan, sang pemuda sempat diancam dengan golok oleh sang ayah wanita.

Dengan berat hati, sang pemuda memutuskan cintanya di tengah jalan. Sang perempuan kecewa, dia bersumpah di depan ayahnya, bahwa dia lebih baik mati daripada harus berpisah dengan sang pacar. Ayahnya menantang,”Mati saja kalau berani!”

Dia pergi ke perkebunan tomat ayahnya. Di kebun itu, dia meminum racun serangga dan hama untuk tanaman tomat.

Beberapa jam kemudian ayahnya menemukan anak perempuannya dalam kondisi sekarat di kebun tomat. Dari mulutnya keluar busa bercampur darah segar.

    “Ahhhh! Serem ah! Males dengerinnya.”

    “Yehhh! Gimana sih. Katanya mau yang serem.”

    “Tapi males ah serem-serem gitu.”

    “Jadi gimana? Mau ganti dongeng?”

    “Ganti deh. Yang seremnya besok aja. Lanjutin soal air tawar berubah manis atau elang piaraan kamu aja deh”

    “Hadeehh! Padahal dongeng horor udah mulai panas.”

    “Bodo ah. Aku nggak mau dengerin.”

    “Iya iya! Bawel!”

Mood dongeng horor langsung drop. Pendongeng bisa drop juga ya. Hihihihi! Saya bingung mau cerita yang mana jadinya. Air tawar jadi manis? Atau Si Helang? Atau mau yang lain? Hmm….! Atau mau lanjutannya berburu sarang burung?

    “Lanjutan berburu sarang burung aja deh.”

    “Oke!”

Kali ini saya berburu sarang burungnya malam hari. Lebih seru, lebih menantang.

Sebelum berburu sarang burung pada malam hari, siangnya saya pergi bersama dua sahabat ke perkebunan teh. Di sana kami bertiga mencari sarang burung jenis apa saja. Pokoknya bulu warna burungnya bagus. Di satu burung, bisa terdapat tiga sampai empat corak warna. Merah kuning hijau biru. Ukurannya sebesar parkit.

Kalau sudah menemukan sarangnya, saya memberi tanda dengan menancapkan ranting di sebelah pohon teh tempat burung bersarang. Biasanya, ada dua pilihan. Cukup memberinya tanda saja, atau saya memasang nilon di seputaran pintu sarangnya. Wah! Susah ya jelasinnya. Harus digambarin atau difoto caranya.

Saya jelasin sederhananya saja ya. Saya memasang nilon di sekitaran pintu sarangnya. Nantinya, jika nilon ditarik dari jarak sekitar 10-15 meter, maka pintu sarang tersebut akan tertutup rapat. Mengerti kan ya? Kapan-kapan ya kita ke Gunung Malang. Saya akan kasih tahu caranya dan kalau perlu saya foto prosesnya.

Malamnya, saya dan kedua sahabat pergi ke perkebunan teh. Ketika sudah berada di tengah perkebunan, jalannya harus mengendap-ngendap. Jangan sampai mengeluarkan bunyi sedikit pun. Jangan ada pembicaraan. Burung jenis ini sangat sensitif terhadap gerakan. Mendengar bunyi asing sedikit, dia langsung kabur dari sarangnya.

Pelan-pelan ya jalannya. Kalau sudah sampai ke ujung nilon yang sudah diberi tanda, saya dan kedua teman memiliki tugas penting. Saya menarik nilon supaya lubang pintu satu-satunya di sarang burung tertutup rapat, sahabat satunya berlari ke arah sarang burung dan sahabat satunya lagi meneranginya menggunakan senter.

Jika beruntung, satu burung tertangkap. Jika tidak, ya biasanya pulang dengan tangan kosong. Sebab, sekali membuat kebisingan di tengah perkebunan teh, seluruh penguni sarang burung akan berhamburan kabur. Jadi, satu malam satu kesempatan.

    “Kalau dapet, burungnya diapain? Dimakan juga?”

    “Khusus untuk burung warna warni ini nggak dimakan. Biasanya dipelihara di sangkar bambu.”

    “Ohhh. Kirain dimakan juga. Terus… apalagi?”

    “Ya udah. Itu dongeng kalau berburu sarang burung di malam hari.”

    “Nggak ada lagi?”

    “Mau aku lanjutin cerita horornya?”

    “Nggak mau ah. Besok aja. Takut nggak bisa tidur.”

    “Hahahahah! Dasar penakut!”

    “Biarin!”

    “Mau aku ceritain cara lainnya menangkap burung?”

    “Bosen ah cerita burung terus.”

    “Waks! Ya, udah. Kita tidur aja.”

Saya menarik selimut, membetulkan posisi bantal dan dalam hitungan menit sudah terdengar suara ngorok tipis di samping saya.  Cerita horornya akan saya lanjutkan besok ya.

Selamat bobo!

“sonofmountmalang”

6 thoughts on “Dongeng (15) Cinta mati

Any comments, please....

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s