6haridiBali (11) Pantai Pandawa, Kesenangan Seluas Lautan

siap memainkan-dimainkan laut?

siap memainkan-dimainkan laut?

Saya bisa menuliskan senangnya ombak pertama kali dijahili matahari di berhalaman-halaman buku setebal dua ratus lima puluh depalan setengah.

 Semisalnya saja, halaman depan dicoreti kalimat, “Kesenangan Seluas Lautan.”  

 Di halaman pertama akan saya tuliskan sepanjang perjalanannya,”Jalanan membelah angin. Langit tak bercacat. Aspal selicin otak-otak para bapak yang molor di gedung kura-kura. Pola-pola jalan tak terterka. Kadang melurus. Kadang meliuk. Kadang menurun. Kadang membelok. Kadang menanjak. Kadang menghenti. Kadang menyesat. Kadang tak terterka arah menuju kemana. Metaforanya jalanan di hati pararempuan.”

 Di halaman kedua, saya bisa menuliskan,”Jiwa digiring angin. Insting menyala, merasa-rasa sebuah rasa, sesamar-samaran terdengar senyawa ombak, sehembus-hembus wangi molekul pasir menguapkan hara bahagia ke udara. Mereka-mereka menggiring tubuh menuju belahan bukit kapur tertatah patung-patung pandawa. Saya melihat, dari atas, lambaian-lambaian gelombangnya, mendengar seruannya supaya saya segera memelukinya.”

 Di halaman ketiga, saya kisahkan pertemuannya dari alpha hingga omega, ”Menyepertikannya, sebotol kesenangan tanpa hydroxy atau pun psychedelic mushroom, ketika kaki memijak sebiji-biji merica atau keriangan ombak-ombak mendorong dan menarik tubuh-tubuh mungil, gendut, kecil, tinggi, pendek dan seribu ras, yang mempermainkannya. Dihempas ke daratan. Ditarik ke lautan.”

 Di halaman kelima, akan saya tuturkan,”Pantai yang bajunya baru saja tersingkap. Masih sepi pemerkosa alam. Semisalkannyalah vila mewah. Restoran mahal. Kolam renang kelas Tuhan. Café-café seharga emas antam. Saya tergilai oleh sepinya. Asing. Tanpa musik. Hanya koloni ombak kalap melahap perpasiran. Hanya gubug-gubug busuk petani rumput laut. Sedikit terkontraskan oleh payung-payung malas ala Ibiza. Hiliran-hiliran petani ceking hitam memungut rumput laut terdampar.”

 Di halaman berikutnya, saya akan terus menuliskan,”Terbiarkan di Pantai Pandawa. Bermain gila berduaan bersama partner gegilaan saya, @dwiyuniartid. Semoga tidak ada vila kelas dunia yang akan menggusur gubuk-gubuk rompeng petani rumput laut. Setidaknya, jangan sekarang. Tetapi mereka pasti akan terpinggirkan kacung kapitalis. Segera.”

 Halaman berikutnya, Kesenangan  Seluas Lautan akan saya isi, kelak saja. Sekarang, kita bermain-dipermainkan laut.

bukit ditatah demi menikmati pantai perawan.

bukit ditatah demi menikmati pantai perawan.

ada apa di balik kaca spion?

ada apa di balik kaca spion?

pahatan patung pandawanya belum komplit.

pahatan patung pandawanya belum komplit.

siapa yang tidak ingin nyemplung?

siapa yang tidak ingin nyemplung?

enak. sepi.

enak. sepi.

bermain-main dengan laut.

bermain-main dengan laut.

kontrasnya petani rumput laut dan kursi malas.

kontrasnya petani rumput laut dan kursi malas.

petani rumput laut sibuk bolak-balik memungut rumput laut.

petani rumput laut sibuk bolak-balik memungut rumput laut.

terdampar.

terdampar.

miskin dan kaya

miskin dan kaya

tidak mau beranjak dari laut.

tidak mau beranjak dari laut.

pantai pandawa-uluwatu, bali-indonesia.

“sonofmountmalang”

21 thoughts on “6haridiBali (11) Pantai Pandawa, Kesenangan Seluas Lautan

Any comments, please....

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s