Dongeng (26) Puncak Bungah; Si Jago

Di tempat tinggal ibu dan ayah, di Puncak Bungah, saya diberi satu peliharaan. Ayam jago. Sudah menjadi kebiasaan orang tua di kaki Gunung Malang, bahwa anak harus diberikan sesuatu yang hidup. Jika bisanya diberi domba ya domba. Kerbau ya kerbau. Mampunya memberi sapi ya sapi. Kalau mampunya memberi ayam, ya ayam pun tidak apa-apa. Tujuannya cukup mulia. Katanya, supaya si anak mulai memiliki tanggung jawab untuk dirinya sendiri. Jadi, kalau dikasih ayam, ya ayam itu menjadi tanggung jawab si anak untuk membesarkannya. Kebetulan, saya diberi ayam. Meskipun saya punya satu ekor ayam jago warna hitam di kaki Gunung Malang, tapi ibuku di Puncak Bungah tetap memberiku satu ayam lagi. Ayam jago warna merah.

Saya memberinya nama Jago. Jago artinya jagoan, jantan, pemberani dan tidak takut akan apa pun. Si Jago tumbuh cukup cepat. Ia tidak pernah kekurangan makanan. Sebab makanan di Puncak Bungah sangat banyak. Selain diberi makan khusus makanan dari ayam ternak, Si Jago juga sering diberi makan daging-dagingan. Minumnya saja susu sapi segar, dan setiap minggu saya cekoki jamu dicampur ulekan cabai. Jenggernya merah, tinggi dan tebal. Paruhnya panjang. Taring di kakinya pun tajam dan panjang. Badannya cukup tinggi dan besar. Untuk ukuran ayam jantan kampung, Si Jago termasuk besar sekaligus terbongsor. Ia yang akan menemaniku jalan-jalan di sekitaran Puncak Bungah. Jalan-jalan di perkebunan sayur, bunga, buah-buahan dan keliling Puncak Bungah. Ia ikut kemanapun saya jalan. Termasuk menjebak burung di kebun teh sebelah Puncak Bungah. Ia ikut di belakang saya sambil memakan makanan untuk menjebak burung. Weleh!

Ia pun menjadi bodyguard saya di Puncak Bungah. Anjing ia kejar. Ada orang lewat ia kejar. Siapa pun yang mencurigakan akan ia kejar. Tidak tanggung-tanggung, ia mengejar siapa pun sampai jauh dan pasti akan kembali.

Pernah suatu waktu, ada seekor anjing kampung lewat ketika saya sedang bermain layang-layang di Puncak Bungah. Anjing itu hanya lewat begitu saja. Tidak ada maksud apa-apa, namun tanpa basa basi yang jelas, Si Jago menghajar anjing itu menggunakan kedua taring di kakinya. Anjingnya kabur dan ia mengejarnya sampai jauh ke bawah bukit. Ia kembali lagi setengah jam kemudian dengan mulut menganga kecapean. Geblek!

Selain anjing, orang yang tidak ia kenal pun dikejar. Sampai orang itu minta tolong dan aku harus menangkap Si Jago.

     “Itu ayam apa serigala sih?” tanya Tala heran.

     “Ayam.”

     “Asli?”

     “Asli! Ayam jantang kampung.”

     “Beneran galak?”

     “Semua orang yang dia kejar lari kok. Pernah juga ada orang dihajar terkena taring di kakinya dan terluka.”

     “Hah? Parah banget sih ayamnya.”

     “Parah galaknya. Dia hanya nurut sama aku dan ibuku.”

Si Jago pernah mengantarkanku pulang dari Puncak Bungah ke kaki Gunung Malang. Ketika saya sudah sampai di rumah nenek, Si Jago kembali ke Puncak Bungah sendirian. Saya sempat khawatir, takut di tengah jalan ia diterkam harimau atau binatang buas hutan Gunung Malang, tapi minggu depannya saya kembali ke Puncak Bungah, ia sedang mengejar-ngejar domba ternak di padang rumput.

Saya tinggal bertepuk tangan beberapa kali, ia berhenti mengejar domba dan berlari ke arah saya. Saya cukup mengelus badannya dan ia siap dibawa jalan-jalan keliling Puncak Bungah.

     “Pernah diadu?” tanya Tala.

     “Sama ayam?”

     “Emang sama apa?”

    “Sama ayam, tapi percuma. Ayam lain mana berani.”

     “Iya sih. Anjing aja dikejar. Hahhaha.”

Si Jago menjadi teman saya di Puncak Bungah sekitar tiga tahunan. Ia semakin tua dan nakal. Sampai pada suatu hari, kata pekerja di Puncak Bungah yang menceritakan akhir hidup Si Jago ke ibuku, katanya ia mengejar orang dari kampung seberang yang baru pulang mencari kayu bakar. Ketika sedang memanggul kayu bakar, Si Jago iseng mengejarnya. Si pencari kayu bakar berlari dan terjatuh. Kayunya pun berantakan di jalanan. Ia kesal, lalu mengambil golok dan melemparkannya ke arah Si Jago. Goloknya tepat mengenai leher Si Jago. Seketika mati di tempat. Si pencari kayu bakar meninggalkannya di tengah jalan.

Si Jago ditemukan oleh anak buah ayah saya. Ia membawa bangkai Si Jago ke tempat tinggal ibu dan ayah. Ibu saya menguburnya di halaman depan rumah. Kuburannya ditanami dua jenis bunga. Lili warna merah dan mawar warna pink. Keduanya ditanam dalam kondisi sedang mau mekar.

Ketika saya ke Puncak Bungah dan mendengar cerita serta melihat kuburannya, saya menangis seharian. Saya pergi ke bukit dan melamunkan Si Jago sampai sore. Sedih rasanya. Inilah salah satu kesedihan dari sekian kesedihan saya. Tidak ada lagi suara kokok keras. Tidak ada suara orang berteriak dikejar. Tidak ada suara anjing kaing-kaing terkena taring kakinya Si Jago. Tidak ada lagi teman jalan-jalan di Puncak Bungah. Si Jago tidak pernah tergantikan, oleh ayam mana pun.

Saya menolak penggantinya ketika ibu memberi anak ayam baru. Saya menolak dan tidak ingin memelihara ayam lagi di Puncak Bungah.

Semenjak kematiannya, saya pun mulai jarang ke Puncak Bungah. Hanya sebulan sekali. Rasanya cukup sedih setiap kali pergi ke Puncak Bungah membayangkan wajah Si Jago dan kelakuan konyolnya, itu membuat saya selalu merasa sedih.

     “Kamu sedih nggak sih?” tanya saya, dan dibalas suara ngorok Tala.

     “Orang lagi cerita sedih, dia malah tidur,” gerutu saya sambil mengambil ancang-ancang tidur.

Selamat tidur nyenyak!

“sonofmountmalang”

2 thoughts on “Dongeng (26) Puncak Bungah; Si Jago

Any comments, please....

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s