Dongeng (27) Arwah dan Kopi

Malam ini saya kembali mendongeng. Tetapi sebelumnya, saya membuat kopi Papua Wamena. Akhirnya, setelah mencari Wamena sebulanan, dapat juga dari seorang teman. Dia beli di Botani. Konon, Wamena yang ini berasal dari kopi yang ditanam di hutan liar, sehingga sangat alami dan rasanya sungguhan liar, manis, spicy, medium dan full body. Sambil mencoba Wamena, saya akan mendongeng.

Nenek saya sangat percaya, bahwa setiap orang yang meninggal, arwahnya tidak akan pernah jauh dari rumah. Arwah akan selalu ada di tempat yang sudah disediakan oleh nenek, yaitu di dalam LEUIT, tempat nenek menyimpan hasil panen berupa padi yang sudah kering, ketan merah, ketan putih dan ketan hitam, jagung yang sudah kering, gandum, labu dan semua hasil panen yang bisa disimpan dalam jangka waktu lama. Luas Leuit nenek ukurannya sekitar 3×4 meter persegi. Simpanan hasil panen cukup untuk setahun ke depan. Bahkan lebih.

Setiap malam Jumat, bahkan setiap malam jika sedang ingat dan rajin, nenek selalu membuatkan kopi hitam, telor rebus, kue-kue dan kadang goreng paha ayam kampung. Tergantung, arwah itu, ketika hidup, kesukaannya apa. Kebetulan, ibu dan bapaknya nenek saya dan anak terakhir nenek yang meninggal di usia 17 tahun karena disantet. Katanya. Oh ya, soal anak terakhir nenek juga ada dongengnya. Tapi nanti ya dongengnya.

Nah, kebetulan mereka bertiga semasa hidupnya doyan banget sama kopi, paha ayam dan kue-kue manis. Maka, nenek pun selalu menyediakan sesajen di Leuit.

Nenek bilang, “Arwah juga butuh makan, butuh ngopi dan butuh ngemil. Semua makanan dan minuman akan kehilangan rasanya kalau sudah dimakan arwah. Arwah itu hanya makan sari-sarinya saja. Kalau makan sisa arwah, nggak akan berasa apa-apa.”

Sampai suatu pagi, sebelum nenek bangun, saya meminum kopi dua cangkir di Leuit sampai habis. Kopinya pahit dan manis. Dingin. Buat saya, kopi itu enak. Apanya yang diminum arwah ya.

Nenek kaget ketika melihat cangkir kopi kosong. Kata nenek, arwahnya haus, biasa cuma habis sedikit, padahal itu bukan diminum arwah, tetapi menguap ke udara. Sekarang arwahnya meminum kopi sampai habis, katanya. Dalam hati, aku ngikik, belum tahu dia siapa yang minum. Sejak saat itulah, setiap pagi, sebelum nenek bangun, saya selalu meminum kopi untuk arwah di Leuit. Sampai akhirnya, saya meminta sisa makanan arwah. Kadang ada telor rebus, kue lapis, kue kering, paha goreng, ati goreng dan kalau lagi beruntung itu pas nenek motong domba. Saya mendapatkan sate domba bagian paha sisa arwah. Sementara cucu lainnya tidak berani makan sisa arwah. Katanya takut didatangi malam-malam. Saya, bodo amat! Yang penting kenyang. Hahahah! Toh, daging sama sisa makanan arwah lainnya tetap enak dilidah. Plus. Tentu saja kenyang.

Kemudian saya menutup dongeng sambil meminum regukan terakhir Papua Wamena. Rasanya sepahit nasib orang-orang Papua, yang terus diperas oleh pemerintahan Indonesia dan dikeruk kekayaan alamnya oleh Amerika. Sementara mereka, tetap melarat!

 Selamat malam dan tertidur manis.

“sonofmountmalang”

5 thoughts on “Dongeng (27) Arwah dan Kopi

Any comments, please....

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s