Pecel ala Minyak Goreng Hitam!

"Berani makan?"
“Berani makan?”

Teman saya sering mengajak makan di warung pinggir jalan, warung tenda, warteg dan warung-warung pecel-pecelan di pinggir jalan, yang bukanya biasa malam.

Saya sering kali menjawab, “Sorry ya, tubuh gue, tenggorokan gue, udah nggak bisa nerima makan di tempat begituan. Pasti habis itu radang tenggorokan dan batuk.”

Teman saya selalu bilang,”Gaya lu! Biasa juga makan di pinggir got!”

Sebelum saya menyadari kesehatan itu penting, YES! Saya dulu doyan pecel lele, pecel ayam. Setelah sadar, saya sebisa mungkin tidak makan. Bukan masalah ayamnya. Bukan masalah lelenya. Tetapi masalah kebersihannya dan masalah minyaknya.

Menggoda sih. Memang. Sungguh. Semenggoda gorengan abang-abangan yang menjajakan tempe, tahu, pisang dan gorengan lain, dan sekali lagi, saya setengah mampus menahan godaan untuk tidak membelinya. So far cukup berhasil. Sudah lama saya tidak makan gorengan di pinggir jalan itu atau biasa juga ada di depan minimarket.

Lantas, kenapa sih sebegitu gayanya saya tidak mau makan di warung tenda jenis pecel-pecelan.

Pertama, tenggorokan saya sudah tidak bisa menerima gempuran makanan yang digoreng dengan warna minyak yang sudah kaya oli. Coba deh kalian, yang doyan makan di warung tenda, perhatikan minyak goreng di wajan. Seperti apa rupanya. Sementara saya di rumah, minyak goreng hanya dua kali pakai.

Kedua, saya juga kadang suka geli cara mencuci piringnya. Siapa yang tidak pernah melihat dua ember di pojokan belakang tenda. Satu isi ember untuk membilas dan satu ember untuk mencuci. Kebayang kan mau sebersih apa pun, tetaplah bakteri dan kuman ada di ember. Mungkin semakin banyak. Terkadang itu lah yang membuat ketika saya makan terus berpikir cara mencucinya.

Sekali lagi, bukan masalah pecel lele atau ayamnya ya.

Nah, akhirnya. Setelah lamaaaaaa sekali tidak makan hal seperti ini. Teman saya mengajak makan di Benhil. Katanya ada AYAM PENYET enak banget. Di kepala saya sih ayam pencet macam di LEKO sejenisnyalah. Rupanya, ayam penyet di pinggir jalan.

Oke. Saya ragu, namun lapar dan teman saya sudah memesan. Hmmm…!

Saya pesan ayam.

Dan tentu saja dong ya kekepoan saya dengan minyaknya seperti apa. Jadi, saya melihatlah adegan mereka menggoreng. Beneran nih dalam hati saya, bakalan sakit tenggorokan. Mau dibatalin, eh sudah digoreng. Mau nggak dimakan juga gimana jadinya.

Bismilah saja yah. Saya makan dan minum yang banyak.

Tidak perlu menunggu besoknya. Beberapa menit setelah saya makan, tenggorokan mulai protes. Gatal dan seperti ada sesuatu di tenggorokan yang membuat saya batuk-batuk.

Kalau sudah begini, minum vitamin, minum Brand’s Essence of Chicken dan minum air hangat yang banyak. Minum air lemon paginya dan makan gandum plus susu untuk beberapa hari ke depan. Supaya radang tenggorokan tidak terjadi.

Beruntunglah tidak parah efeknya, meksipun tenggorokan saya sampai sekarang masih terasa gatal.

Gimana? Kalian masih berani makan gorengan yang minyaknya sudah menghitam?

*Mungkin tidak semua mereka menggunakan minyak goreng sampai hitam. Mungkin lho ya*

 

“sonofmountmalang”

7 thoughts on “Pecel ala Minyak Goreng Hitam!

Any comments, please....

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s