Apa Jimatmu Sekarang?

20150808_150503_Richtone(HDR)

azimat n amulet, cula, jampi, jimat, obat pekasih, obat pengasih, pacau, pelet (cak), penangkal, pencacau, pepunden, pripih, susuk, uduh

Ketika saya masih kecil. Ketika masih hidup di kaki Gunung Malang. Ketika mitos-mitos masih begitu melekat di kehidupan sehari-hari. Kata jimat, bagi saya, adalah makanan sehari-hari. Ketika orang tua di sana, jika ingin melakukan apa pun, ada jampi-jampinya, juga ada jimatnya.

Pergi ke hutan, membawa jimat. Supaya tidak celaka. Pulang dengan selamat dan tidak bertemu binatang buas. Pergi memancing, juga ada jimatnya. Pergi berdagang di pasar atau pun dagang keliling atau membuka warung, sudah bisa dipastikan ada jimatnya. Pergi pacaran pun atau apel ke rumah gadis, ada jimatnya. Bahkan kebelet beol pun ada jimatnya supaya bisa ditahan beolnya. Pergi berladang, pergi ke kota, pergi berjualan dan apa pun aktivitasnya, pasti ada jimatnya.

Saya pernah diberi jimat oleh nenek saya. Berupa kalung yang terbuat dari benang hitam dan terdapat kantong kecil, kira-kira seukuran setengah plat metal kalung tentara Amerika. Jimatnya ada di bagian dalam kantong tersebut. Isinya saya tidak tahu. Yang jelas, kata nenek saya, jimat itu untuk membuat saya tetap sehat dan dijauhkan dari penyakit.

Ada pula jimat yang hanya boleh dipakai di acara tertentu dan tidak boleh dibawa beol atau pun kencing. Ada juga jimat yang ditaruh di dompet, dikalungin, digelangin, ditaruh di jari jadi cincin.

Sepertinya, pada jaman saya kecil, hidup setiap orang pasti ada jimatnya sendiri-sendiri. Bisa dibilang juga, satu orang memiliki lebih dari satu jimat yang dibawa sehari-hari.

Jimat itu, menurut saya, sekarang, sebagai bentuk motivasi yang bisa menghasilkan energi positif bagi diri dan memberi aura baik bagi orang lain. Terlepas dari sifat magis-magisan, yang pada akhirnya, saya tidak percaya.

Contoh sederhana, ketika masih kecil, seringkali dalam perjalanan jauh, tiba-tiba kebelet beol dan orang tua saya mengambil batu kecil, menjampi-jampinya, lalu menyuruhnya menaruh batu tersebut di saku celana. Katanya, itu jimat, untuk menahan beol. Di kepala saya, percaya, bahwa batu itu bisa menahan beol. Karena saya percaya dan energi positif saya bilang, bahwa saya bisa menahan beol, ya akhirnya selalu bisa nahan beol, sampai bertemu jamban atau sungai.

Itulah jimat menurut saya. Jimat menurut teman saya, Arie Triono, yang sudah lama tinggal di Ubud dan berkarya di sana, jimat itu adalah Wearable mantras for you and the universe. Simple yet beautifully crafted.”

Untuk mereka, kalian dan siapa saja, yang ingin memiliki jimat berupa kalung berisikan kuote-kuote penyemangat, untuk sang petualang, sang pelari, sang pendiam diri, sang penulis, sang penjelajah, sang pencerah, sang pencari jati diri dan sang lainnya.

Silakan cek IG-nya. Siapa tahu, kalian butuh jimat!

instagram.com/jimatbykerdus/

20150808_150540_Richtone(HDR)

20150808_150624_Richtone(HDR)

20150808_150642_Richtone(HDR)

20150808_150704_Richtone(HDR)

20150808_152047_Richtone(HDR)

20150808_150344_Richtone(HDR)

14393682855761

Ini JIMAT pilihan Virgillyan Ranting Areythuza

“sonofmountmalang”

9 thoughts on “Apa Jimatmu Sekarang?

Any comments, please....

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s