Dongeng (37) Si Unyil

Malam ini aku akan dongengin soal Si Unyil ya. Tapi bukan tentang Si Unyilnya sih. Ini tentang bagaimana susahnya mau nonton Si Unyil. Bertepatan juga dengan hari di mana Pak Raden meninggal. Sekalian mengenang serunya hidup di jaman dulu.
            “Kamu sudah siap dengerin dongeng, Ting?”
Ranting sudah rebahan di sebelah saya. Dia sudah mulai mengucek-ngucek matanya.
            “Aku mulai ya.”
Jaman dahulu kala, tempat di mana aku menikmati masa kecil, di kaki Gunung Malang, itu belum ada listrik. Semua orang mengandalkan minyak tanah. Eh, Ting, ini ada sesi dongeng tersendiri ya. Jadi, kalau mau nonton TV, pemilik TV harus punya AKI. Itu pun, di kaki Gunung Malang, waktu itu, satu kampung hanya satu orang yang memiliki TV. Jadi, setiap hari Minggu pagi, rumah itu rameeeee banget. Nonton TV sampai nongkrong di jendela kalau di dalam tidak kebagian tempat duduk.
Nah, acara yang selalu ditunggu-tunggu itu ya Si Unyil. Untuk bisa menonton Si Unyil, aku dan temanku yang punya TV itu harus mengambil AKI di tempat penyetruman AKI. Jaraknya sekitar 10 KM. Aku dan temanku menggotong AKI bergantian. Soalnya AKI-nya itu beraaaattt. Lagian kan aku masih kecil waktu itu. Tapi, ya demi menonton Si Unyil, apa pun dilakukan.
Setelah AKI-nya sampai ke rumah, mulai dipasang dan tra raaa! Si Unyil pun siap ditonton. Eh, tunggu. Ada satu sesi lagi, Ting. Kadang, kalau sinyal TV-nya jelek, orang dewasa harus memutar-mutar antena yang tiangnya tinggiiiiiiii banget dan terbuat dari bambu. Nah, kalau sudah dapet sinyal bagus, siaran Si Unyil pun siap ditonton. Kamu jangan bayangin TV kaya sekarang ya. HD-lah, HDTV-lah dan tekonologi canggih lainnya. Waktu itu, TV yang aku tonton masih BEWEEEE alias HITAM PUTIH saja. Ukuran TV-nya pun kecil. Jadi kalau nonton harus dekat-dekat. Kalau perlu duduk di bagian paling depan. Nongkrongin TV.
Meskipun TV-nya hitam putih, aku dan temanku tetap menikmati tontonan seru Si Unyil.
Nonton TV akan bubar kalau acara Si Unyilnya sudah kelar. Kebanyakan sih, yang nonton Si Unyil itu anak-anak. Ada juga yang orang dewasa. Orang dewasa biasanya lanjut nonton acara berikutnya. Kalau anak-anak, lanjut main di luar.
            “Gimana Ting? Seru kan?”
Dijawab suara suara dengkuran.
Ya, begitulah. Dongeng belum selesai, pendengarnya pasti selalu tidur lebih dulu. Dan hampir selalu dijawab dengkuran kalau ditanya. Padahal aku mau lanjut keseruan habis nonton Si Unyil. Hmmm…!
Besok, aku dongengin yang lebih seru deh. Ya ya ya. Selamat tidur.
“sonofmountmalang”
Advertisements

One thought on “Dongeng (37) Si Unyil

Any comments, please....

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s