Dongeng (38) Mencari Rumput

Sekarang, malam ini, aku mau dongengin soal rumput ya.
       “Kamu tahu, kan? Ting? Rumput?”
Ranting diam saja. Ia hanya melirik ke arahku, kemudian menarik ujung jari-jariku. Ia menggenggamnya. Memainkannya dengan ujung jempol. Sesekali terasa kukunya menekan ujung jari. Ia memang suka iseng. Kadang suka mencubit kecil-kecil, namun tidak begitu sakit.
Rumput, di kaki Gunung Malang, bagi kebanyakan penduduk, memiliki peranan sangat penting. Kalau dibilang kebutuhan premier, bisa dibilang juga begitu ya. Tidak ada rumput, seluruh penduduk kampung bisa panik dibuatnya.
Kenapa rumput begitu penting?
Setiap kepala keluarga, bahkan anak-anaknya, pasti memiliki hewan piaraan. Ada yang punya kambing. Domba. Kerbau. Kelinci. Marmut. Hampir setiap keluarga pasti memiliki kelinci dan marmut. Domba juga pasti. Yang jarang itu memelihara kambing dan kerbau. Hanya orang-orang tertentu saja. Biasanya, yang memiliki kerbau itu para pembajak sawah. Jadi, Ting, pembajak sawah di kaki Gunung Malang itu bisa disewa untuk membajak sawah. Soalnya, tidak semua bisa membajak sawah menggunakan kerbau. Dibutuhkan keahlian tersendiri untuk mengendalikan kerbau dan menggunakan bajak sawah.
Itulah sebabnya, kenapa rumput begitu penting perannya di kaki Gunung Malang. Karena setiap penduduk harus memberi makan hewan peliharaan setiap pagi dan sore.
Dan ya, Ting, biasanya juga, rata-rata itu setiap penduduk memiliki, minimal, empat ekor domba. Itu minimal ya, Ting. Banyak yang lebih dari empat ekor sih. Ada yang sampai punya 10 ekor per kepala keluarga.
Nah, aku, punya dua ekor domba, ketika itu, pas aku masih di kaki Gunung Malang. Selainnya, aku bantuin kakek, yang memiliki hampir 20 ekor domba. Tapi, aku nggak akan cerita soal dombanya ya. Aku mau cerita soal rumput aja.
Ada banyak jenis rumput yang harus diketahui para pencari rumput. Itu pengetahuan dasar. Ada rumput yang bisa dimakan kelinci. Ada rumput yang bisa dimakan marmut. Ada rumput yang bisa dimakan domba, kambing dan kerbau. Ada rumput yang bisa dimakan semua jenis hewan peliharaan. Ada rumput yang bisa bikin hewan keracunan. Ada rumput yang bisa bikin hewan peliharaan mencret parah. Ada juga rumput yang bisa bikin hewan peliharaan susah BAB. Ada rumput yang nggak boleh disabit sama sekali. Soalnya, pasti tidak bisa dimakan sama semua jenis hewan peliharaan.
Jadi, aku dan para penduduk lainnya harus mengenali semua berbagai secara mendalam, agar hewan peliharaan tetap tumbuh dengan baik dan tidak terkena penyakit.
Tapi, misalnya, kalau hewan peliharaan mencret, esoknya kita harus mencari rumput yang bisa membuat ee-nya itu keras. Nah, soal nama-nama rumputnya, aku sudah lupa. Mungkin aku harus ke kaki Gunung Malang dan bertanya ke penduduk di sana, kemudian memotret jenis rumputnya. Atau, nanti kalau ke kaki Gunung Malang, aku langsung ajak kamu mencari rumput bareng anak-anak di sana.
Yang aku ingat sih, ada namanya rumput katepos, rumput sintrong, rumput, rumput signal, rumput benggala, rumput gajah, daun kaliandra, dan banyak banget rumput lainnya yang harus dikenali. Supaya pertumbuhan hewan ternak lebih sempurna dan tidak penyakitan. Sama halnya kaya kita, manusia, makan sembarangan kan bisa bahaya juga. Berlaku untuk hewan peliharaan.
Khusus untuk kelinci, biasanya dikasih makan rumput sintrong dan legetan. Marmut pun rumputnya beda. Rata-rata marmut dikasih rumput-rumput yang tumbuh di pematang sawah. Rumputnya cenderung kecil-kecil, teksturnya lembut dan lebih ranum. Itu memudahkan mereka dalam proses memakannya. Secara mulut mereka kecil dan giginya tidak sebesar gigi domba, kambing atau pun kerbau.
Aku, Ting, biasanya, mencari rumput untuk tiga kategori. Untuk kambing, kelinci dan marmut,.
Oh, ya Ting.
Satu aturan yang tidak boleh dilanggar.
Di setiap harinya, harus ada stok sekarung rumput. Untuk jaga-jaga kalau ada hari di mana tidak memungkinkan kita mencari rumput. Stok tergantung banyaknya jumlah domba atau pun kambing.
Kalau aku, karena cuma punya dua domba, jadi ya cukup punya sekarung stoknya.
Meknismenya begini.
Rumput yang disabit pagi hari untuk dimakan sore hari. Rumput yang disabit sore hari untuk pagi hari keesokannya. Stok rumput lainnya disabit pada siang hari atau sore hari. Itu berlaku untuk yang tidak punya pekerjaan atau tidak sekolah. Kalau yang sekolah atau pun punya pekerjaan pada pagi harinya, ya pencarian rumput dilakukan pada siang dan sore hari.
Dalam proses pencarian rumput, aku tidak pernah sendirian. Selalu ditemani seekor anjing. Namanya Dora. Kadang, mencari rumputnya bertiga sama temanku. Tapi, biasanya, aku lebih sering ditemanin sama Dora. Kecuali mencari rumputnya ke hutan. Itu baru rame-rame.
Selain ditemanin Dora, aku juga ditemani radio kecil. Lumayan kan, penyemangat sambil dengerin musik. Terus, aku juga bawa minum. Kalau-kalau kehausan, dan ya, biasanya sih, pasti kehausan.
Kalau lagi bersemangat, Ting, aku bisa menyabit rumput dua karung sekaligus. Ya, bawanya saja sih gempor. Dikit-dikit istirahat. Dikit-dikit istirahat. Sampai rumah tewas.
       “Gitu Ting…..!”
Dia sudah tertidur. Pulas.
“sonofmountmalang”

Any comments, please....

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s