Kabur dari Jakarta; Brokeback Beach di Pulau Kelagian

_MG_5865

Pemandangan langsung dari pintu tenda.

          “Masih ingat nggak, dialog apa di Brokeback Mountain saat di dalam tenda, yang membuat dua pria itu akhirnya begituan?”
          Lempar pertanyaan seorang teman yang batangan, seakan memancing kami yang semuanya batangan untuk menjawab, kemudian dia berharap, skandal Brokeback Mountain menjadi Brokeback Beach. Asli yah! Pertanyaan jebakan. Untung nggak ada yang hapal dialognya, dan kami terlepas dari jebakan. Ya keleesss ya empat batang pria kemudian tergoda main gila di tenda sempit. Jangan bayangin! Hahhaaha!
          Jangan bayangin yaaa!
          Lupakan!
          Lupakan!
          Eh, kok bayangin sih!
          Jangaaannnn!
          Hahahahha!
          Lupakan! Okeh! Cukup! Bakar tendaaaaaa!
          Jadi, setelah dari Pulau Pahawang, perahu diarahkan menuju Pulau Kelagian, kami berkenalan dengan penjaga Pulau Kelagian. Niatnya mau mendirikan tenda persis di pinggir pantai. Hanya berjarak dua meter dari siraman ombak pelan.
         “Kalau mau nenda, bayarnya 50 ribu. Pertenda. Bukan per orang. Kalau mau pake saung, bayarnya beda lagi. Itu bayar ke ibu-ibu di warung sana,” kata petugasnya yang sedang sibuk membersihkan sampah di pantai.
            Lima puluh ribu itu murah banget yah. Okehlah! Nggak masalah. Kami orang kaya raya. Ya, kalau kaya ke Maldives kelesssss! Tenda didirikan di bawah pohon, menghadap laut dan asiknya nggak begitu ramai. Cuma, sayang banget. Sayaaangggg banget! Pantainya banyak sampah. Padahal pantainya masih bagus. Ketika saya tanya ke petugas yang sibuk membersihkan sampah. Ia pun bercerita.
           Begini ceritanya.
         “Lagi musim hujan nih. Di sana ada sungai besar banget. Semua yang dibawa sungai, mampir juga di pulau ini. Arusnya melewati pulau ini. Apalagi kalau hujan besar, penuh sampah nih pantai.”
         “Wah! Sayang banget yah pak!”
         “Iya, sayang banget!”
          Kemudian kami berdua berpelukan. Sayang-sayangan. Moduussss. Hahahhaha!
          Ya, nggak begitu juga sih.
         “Ya udah pak, semangat ya! Saya mau bangun tenda.”
         Ia pun menunjuk lokasi untuk membangun tenda yang enak, di bawah pohon rindang.
          Setelah membangun tenda, saya pergi lagi ke sisi laut. Kembali melihat si bapak yang sibuk membersihkan sampah di sisi pantai. Mulai dari batangan kayu, segala jenis papan, buah kelapa, pelapah kelapa, pohon pisang, ranting, sekumpulan plastik dan sampah-sampah lainnya. Belum aja ada kasur, bantal dan sekalian aja mobil gitu, koper isi dolar atau cewek cantik ikutan ngambang. Itu pasti saya yang pertama membereskannya.
           Sebenarnya, jujur saja, saya lebih suka Pulau Kelagian. Cuma entah saya lagi sial atau bagaimana, ya rasanya ini sampah nggak habis-habisnya ya. Plus, kalau saya, lebih baik di pulau itu nggak ada gubuk-gubuk dan penjual indomi-indomian sama sekali. Saya lebih milih Pulau Kelagian yang bener-bener natural. Cuma karena tuntutan ekonomi sebagian warga, jadilah ada gubuk-gubuk warung Indomie, toilet umum. Itu sih okeh ya. Toilet wajib ada. Jangan sampai ada yang BAB di kebon atau gali pasir. Iuyyyyyyy!
           Jadi, kalau saya jadi pemkot sekitar, lebih baik itu pulau di biarkan alami. Lha!? Emang masih alami sih. Nggak ada rumah permanen. Semuanya gubuk. Tapi kan mendingan nggak usah ada gubuk sekalian. Kok gue yang ngatur yah!
           Tapi ya itu sih resikonya, kalau musim hujan, sampah bawaan dari sungai besar tidak bisa dihindari. Plus juga, Pulau Kelagian itu memang diperuntukan untuk LATIHAN MILITER, di mana para tentara bisa nembak-nembakan. Cieeeee!
           Jadinya, memang bukan wisata minded sih pulaunya. Alias wisata ala kadarnya. Kalau sampahnya sampah alami sih masih bisa diterima, cuma kalau udah ada plastik, pempers, botol, dan mungkin ada BH atau cangcut kalau mau nyari juga ada. Hahahaha!
           Udah dulu ya. Mau foto-foto!
20160207_091224_Richtone(HDR)
Dermaga di Pulau Kelagian. Terbuat dari papan pohon kelapa. Dermaganya sepi. Cocok untuk pacaran, curhat dan menatap masa depan.
20160207_091215_Richtone(HDR)
Pos jaga. Selamat datang di Pulau Kelagiaaaannnn!
_MG_5908
Santai dulu. Tuh kan, santai tapi batangan semua sih.
_MG_5828
Aslinya, pantainya bagus dan sampahnya itu kebanyakan sampah hasil sisa dari sungai besar.
_MG_5853
Karena mendung, sunset-nya pun nggak bagus.
IMG_7010
Di sini kita membangun tenda.
_MG_5835
Tuh kan banyak sampah ngambang.

 

 

_MG_5874

Hujan mulai turun.

_MG_5872
Siap-siap masuk tenda.
_MG_5858
Ini nih salah satu sampah yang hanyut. Kayu sebagong ini dan kalau bisa saya bawa nih buat bikin kursi atau meja. Sayangnya jauhhhh.
_MG_5867
Santai di dermaga sambil nunggu hujan deras beneran turun.

 

Note:

  1. Jangan lupa bawa alat snorkeling.

  2. Jangan lupa bawa tenda.

  3. Jangan lupa bawa autan.

  4. Jangan lupa bawa perlengkapan masak karena kalian cuma bisa makan Indomie dan mie sebangsanya doank di warung.

  5. Jangan lupa bawa perlengkapan bahan untuk dimasak.

  6. Jangan lupa bawa alat ngopi

  7. Jangan datang pas musim hujan. JANGAN! HARAM!

  8. Jangan lupa bawa lampu badai.

  9. Jangan lupa bawa senter.

  10. Jangan lupa bawa powerbank.

  11. Bayar nge-charge handphone lima ribu sampai penuh.

  12. Mandi bayar lima ribu/mandi.

  13. Kalau mau bakar-bakaran, jangan lupa bawa ikan sendiri.

  14. Jangan lupa bawa pasangan.

  15. Kalau ngga bawa pasangan, jangan sampai terjadi skandal Brokeback Beach!! Hahahhahaha!

  16. Sebisa mungkin jangan batangan semua kalau nenda. GARIIINGGG!! KERIINGG!

 

“sonofmountmalang”

4 thoughts on “Kabur dari Jakarta; Brokeback Beach di Pulau Kelagian

Any comments, please....

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s