Copywriter Banci: Karyawan Bank Mandiri Heboh

Belakangan ini saya sering ke Plaza Bank Mandiri untuk bertemu client, presentasi materi kreatif atau menerima brief. Kebetulan, setelah prisen, saya kebelet kencing. Jadi, saya pamit ke temen-temen sekantor, mau ke toilet dulu. Saya buru-buru ke toilet yang ada logo untuk cowok, which is ada di kanan. Toilet cewek kan di sebelah kiri ya.

Di dalam, seperti biasa ya, saya kencing berdiri. Pas keluar toilet, teman-teman saya heboh. Rupanya, ada bapak-bapak yang teriak heboh, nyuruh ke teman saya, ngasih tahu kalau toilet yang saya tuju itu toilet cowok, bukan toilet cewek. Teman saya bilang, iya pak, itu memang toilet cowok. Si bapak bilang, itu si embaknya salah toilet. Teman saya bilang, dia memang cowok. Bapaknya tidak percaya, masa cowok sih, bukannya cewek. Teman saya meyakinkan kalau yang masuk toilet cowok itu memang cowok, bukan cewek.

Akhirnya ya, mereka, teman saya ini, menyaksikan juga dengan kepala dan mata mereka sendiri kalau kejadian begini sering menimpa saya. Setelah mertua saya tidak pernah percaya ada yang manggil saya mba, akhirnya dia menyaksikan saya dipanggil mba berkali-kali sama tukang parkir. Weks!

Kemudian, teman saya membahas. Apanya yang kaya cewek ya? Saya pun masih tetap bingung. Nggak punya tete. Langkah gagah gempita laki banget, nggak melambai kaya Alm. Olga. Rambut pendek. Berjenggot menjuntai. Berkumis tebal kaya inspektur pijay. Pantat juga kaga demplon kaya Kim Kardarshian. Aneh. Bagian mana yang bisa bikin orang berpikir kalau saya CEWEEEKKK!

Sekian cerita Copywriter Banci. Besok-besok, kalau ada kejadian begini, saya buka dada aja kali ya, nunjukkin kalau saya tak bertete gede. Eh!

“sonofmountmalang”

Copywriter Banci; Toilet Senayan City

Kalau bosan dengan makanan di seputaran kantor, biasanya saya makan siang di Senayan City atau ITC Permata Hijau atau di Puri Indah. Catatan, kalau sudah gajihan ya.

Hari itu, saya makan siang di Sensi, Itasuki. Sehabis makan, seperti biasa, karena makan kebanyakan kuah-kuahan dan minum teh, saya berniat pergi ke toilet. Ketika  dalam kondisi terburu-buru ingin ke toilet cowok, tiba-tiba ada suara ibu-ibu di belakang setengah berlari mengejar saya,”Mba! Mba! Mba salah masuk! Itu toilet cowok!”

Saya terus berjalan tergesa-gesa masuk. Kemudian si ibunya menegur OB yang kebetulan sedang mengepel lantai,”Mas! Mas!” katanya panik,”Mas, bilangin si mbanya itu, dia salah masuk!”

Saya langsung membuka pintu dan menuju tempat kencing. Membuka celana. Kencing berdiri penuh rasa bangga. Lalu mas OB membuka pintu, menatap saya. Saya menatapnya. Ia melihat dari atas kepala hingga ke bawah kaki. Lantas menutup pintu. Terdengar obrolan di luar,”Itu cowok, bu.”

Terdengar suara si ibu menyahut,”Ohhhh….! Kirain cewek….”

Selesai kencing berdiri, saya keluar dengan langkah tegap, dada membusung, dagu ke atas. Mau nunjukin ke OB, kalau saya ini pria SEJATI!

“sonofmountmalang”

note; sepertinya saya akan menghidupkan kategori “COPYWRITER BANCI” lagi nih. Tak apalah memposting kenistaan sekali-kali ya:((!

Copywriter Banci; Cerita Jimbaran

Ini cerita beberapa bulan lalu ketika saya pergi ke Bali untuk suting iklan rokok. Kebetulan orang-orang dari rumah produksi mengajak makan di Jimbaran. Ini pertama kalinya saya ke Jimbaran. Tempatnya romantis ya. Lilin-lilin, wangi laut, deburan lembut ombak dan pengamen dengan suara merdunya.

Saya, teman sekantor, klien dan gerombolan dari rumah produksi duduk di salah satu spot yang cukup enak. Duduk tenang sambil memesan makanan. Cumi bakar, ikan bakar, udang bakar, kerang, kangkung dan minuman segar. Ini makan malan bakalan seru.

Setelah menulis pesanan, pelayannya pergi. Dan tidak lama kemudian, pelayan lainnya datang membawa piring. Dia membagikan piring dari ujung. Sesampainya di tempat saya, pelayan itu memerikan piring dan sendok.

“Piringnya, bu…” ucapnya dengan sopan. Saya menengok ke arahnya, dia langsung merevisi ucapanya,”Ini piringnya mba…”

Sigh!

Segerombolan PH serentak komen,”Itu cowok, mas. Bukan cewek…” diakhiri tawa. Mas pelayannya pergi tanpa berkata apa-apa.

Saya pun angkat kaki dari meja menuju sisi laut. Memainkan air dan pasir sambil menangis. Halah! Nggak segitunya.

Setelah makanan tiba, saya makan layaknya pria. Membabi buta sampai tidak bisa mengunyah lagi. Kenyang.

Itulah cerita Jimbaran pertama saya. Sekarang, apa ceritamu? #kayaindomie

“sonofmountmalang”

Copywriter Banci; Kekhilafan Satpam Tea Addict

Siang itu, gerimis lucu menyalak di sekitaran Tea Addict. Parkiran cukup penuh, sehingga harus menggunakan jasa valet. Saya mematikan mesin, turun dan menyerahkan kunci ke satpam yang berjaga.

“Terima kasih, pak.” ucapnya saya.

“Sama-sama,” katanya sambil menyerahkan nomor.

Setelah selesai melakukan per-meeting-an, saya pun siap pulang. Kebetulan saat itu teman saya, Dani, orang account ikut nebeng. Saya memberikan nomor ke satpam yang sama ketika adegan di awal saya memberikan kunci.

“Terima kasih, pak.” ucap saya.

Satpam itu tersenyum. Dia berlari ke jalanan sambil teriak,”Terus! Terusss!”

Saya menyiapkan uang sepuluh ribu. Itu pun saya pinjam dari art director.  Ketika mobil sudah berada di jalanan, saya membuka jendela dan memberikan uang tersebut ke satpam yang sama.

“Terima kasih, bu..!! Hati-hati di jalan…”

Hujan pun menderu deras, dan teman saya tertawa terpingkal-pingkal sampai Tea Addict Senopati.

“Elo sih nggak punya kumis!” protesnya.

Saya menunjukkan kumis saya yang tebal kaya gubernur Jakarta, janggut saya yang rimbun macam Osama dan cambang yang lupa saya cukur mirip Rhoma Irama.

“Kurang cowok apalagi gue!?”

“Ya loe emang basicnya banci kali!”

Kemudian dia tertawa lagi dan hujan pun semakin deras di tengah kemacetan selatan yang semakin menggelap.

Sesampainya di rumah, saya berdiri di depan cermin. Kemudian berakting ala pria perkasa. Dan memang saya terlihat perkasa di depan cermin itu. Ah, mungkin mata satpam itu sedang tertutup gerimis genit. Maafkan saja ya dia. #sokbijak *realitasnya pengen markirin satpam itu ke lautan terdalam*

“sonofmountmalang”

Note: Tag Copywriter Banci akan terus meramaikan suasana blog ini. Jangan lupa untuk membaca Copywriter Banci berikutnya. Hitung-hitung hiburan mengenaskanlah yah. Halah!

Copywriter Banci; Kondektur Gila

Suatu waktu di suatu masa muda, di bis Mayasari Bakti 81 jurusan Kalideres – Depok. Seperti biasa, hari-hari kuliah saya selalu menyetop bis 81 di depan Untar. Saya masuk lewat pintu belakang. Saat berada di dalam, semua bangku sudah penuh. Saya pun berdiri di bagian belakang dekat pintu. Supaya kalau turun lebih gampang dan cepat.

Tiba-tiba terdengar teriakan kondektur dari arah depan ,”Neng! Neng! Maju! Jangan berdiri di belakang! Maju ke tengah!”

Kondektur itu melambai-lambaikan tangannya. Dia melihat ke arah saya. Semua orang yang duduk di bagian belakang ikut-ikutan melihat saya.

“Neng! Maju neng!” teriaknya lagi.

Orang-orang yang duduk di bagian tengah ke depan pun mulai menengok ke belakang. Saya belaga tolol saja. Saya melihat ke belakang, eh memang tidak ada siapa-siapa lagi yang berdiri. Perasaan mulai tidak enak.

“Neng kaos hitam! Maju, neng!” teriak kondektur.

Sial, tidak ada orang yang berdiri dan mengenakan kaos hitam selain saya. Perasaan semakin tidak enak. Tapi demi gengsi, harga diri dan moral, saya tetap tidak bergerak. Belaga gila. Berdiri dan pura-pura ngetik SMS.

Setelah jalan berapa menit, bis berhenti untuk menaikkan penumpang. Kondektur pindah ke pintu belakang. Dia mencolek saya,”Yeee! Si eneng disuruh maju diem aja. Maju neng!”

Saya nengok, menatap wajahnya dengan geram, tatapan nanar ala sinetron, bibir komat-kamit, jantung menriukan suara simbal berkali-kali, perasaan zoom in zoom out. Dalam sekejap saja kondektur itu ngomong,”Eh, mas, tolong maju mas….”

Saya pun maju ke tengah. Semua orang sepertinya geli menahan tawa atau apalah, saya tidak tahu itu. Sgrookk!

Penderitaan banyak salah panggil oleh kondektur itu saya alami sekitar tiga tahunan. Setelah lulus kuliah, saya kerja, uang transport sedikit meningkat plus saya jadi trauma naik bis. Jadinya saya lebih sering menggunakan taksi.

Lalu…bagaimana dengan supir taksi?

Hmmmm…..! Tunggu cerita Copywriter Banci berikutnya. Tatahhh….!

“sonofmountmalang”

*Derita copywriter banci akan terus di-update. Jangan sampai terlewatkan ya:p

Copywriter Banci; Cewek Atau Cowok?

Cewek atau cowok? That’s the question! 

Setelah potong rambut pendek beberapa minggu lalu, tidak ada lagi yang menebak-nebak, memanggil dan sejenisnya lagi saya perempua, mba, neng dan sebutan lainnya. Tetapi, rekor itu terpecahkan juga. Saat turun dari lantai lima, saya langsung menuju basement. Di depan lobi, saya menghentikan mobil untuk parkir sejenak. Rencana sih mau buang air kecil. Tiba-tiba keluarlah dua orang cewek. Satu ibu-ibu, satu lagi cewek muda. Ibu-ibu itu menatap saya dari arah lobi.

“Eh, itu cowok atau cewek sih ya?” dia bicara ke temannya. Sementara matanya terus menatap penasaran ke arah saya. Kok saya jadi bingung ya ditatap ibu-ibu seperti itu.s

“Tanya aja langsung ke orangnya,” suruh temannya yang masih muda dengan nada bercanda.

Tanpa ragu lagi, si ibu nanya dari jarak dua meter ke arah saya.

“Kamu cewek atau cowok ya?”

Ngehe!

Tanpa kata-kata, memasang muka gondok seberat lima puluh kintal, saya menutup kaca mobil dan melesat menuju jalanan raya. Air kencing yang tinggal crod di ujung titit pun hilang sudah.

Cewek atau cowok, ibu itu tidak akan pernah tahu jawabnya. Haks!

 

“sonofmountmalang”

Copywriter Banci; Ababil Gatal Gagal Horny!

Teman kantor mengajak pergi jalan-jalan ke puncak. Katanya mau menghirup udara segar. Sekalian juga teman saya mau belanja mata melihat neng-neng geulis bakar jagung sambil joget-joget.

Setelah berputar-putar melampiskan hasrat teman saya melihat neng-neng geulis bakar jagung, kami semua santai-santai di parkiran Rindu Alam. Melihat pemandangan malam sambil menghangatkan tubuh dengan sebotol bir.

Ngobrol ngalor ngidul. Ngobrolin kerjaan, ngobrolin mau pindah kemana, ngobrolin revisian tiada akhir. Sampai kami semua diam menikmati udara malam.

Tibalah mobil karimun hitam. Dia parkir tepat di belakang saya. Isinya cowok ababil semua. Terdengar dari suaranya. Saya tetap menikmati pemandangan dengan membelakanginya. Sementara teman lainnya menggeser sedikit menjauh dari saya. Jadilah saya seolah-olah tinggal sendirian.

Tidak lama kemudian, cowok ababil itu keluar. Mereka bergosip di belakang saya. Bicara soal ada cewek tuh lagi sendirian ngebir. Temenin gih. Feeling saya sudah mulai terasa tidak enak. Nih ababil ababil gatal pasti mengira saya perempuan. Sementara teman saya sepertinya sudah tahu kalau saya sedang didekati ababil gatal.

Salah satu ababil memberanikan diri berdiri di samping saya. Dia sok-sok cool memandang ke depan. Karena saya sudah merasa saatnya membuat mereka muntah darah dan lari tunggang langgang, maka saya pun balik badan. Tepat menghadap ababil-ababil gatal di depan mobilnya.

Spontan uhuy! Mereka malu setengah mampus. Antara nahan ketawa geli bercampur gagal horny. Mereka semua langsung masuk mobil. Terdengar suara-suara,”Parah! Itu cowok!!”

Behuahahhahaha! Nyalain mobil dan cabut dari parkiran Rindu Alam.

Teman-teman saya mendekat. Mereka tertawa. Mereka mencela.

“Cieeee…! Abis digodain ABG…”

“Hahhahahaha! Tae loe semua!”

But, anyway…malam itu saya sudah membuat ababil-ababil gatal gagal horny dan muntah darah sepanjang jalanan puncak. Haks!

“sonofmountmalang”

“Semenjak kejadian itu, saya langsung membabat rambut sampai bener-bener keliatan laki banget!”

Note: Tunggu cerita Copywriter Banci selanjutnya ya:p