mimpi copywriter (48) Suku Pedalaman Airlangga

Sore-sore, saya nongkrong di jembatan kaki gunung. Kebetulan sedang akan ada pemakaman. Menurut cerita, seseorang telah meninggal karena dibunuh oleh kepala suku pedalaman Airlangga. Yang meninggal seorang wanita muda. Baru berusia 21 tahun. Wanita muda itu dibunuh ketika sedang traveling ke pedalaman suku Airlangga. Saat saya melongok jenazahnya, terlihat banyak sekali luka di sekujur tubuhnya. Luka-luka tersebut sepertinya bekas sabetan pedang tajam dan panjang. Bahkan, bagian wajahnya pun ada sebaris luka membelah wajah. Mengerikan.
 Saat saya sedang menatap jenazahnya, secara tiba-tiba jenazah itu bangkit, berdiri dan ingin merangkul saya. Sontak saja, saya berdiri dan ngabur. Jenazah penuh luka itu mengejar saya. Ketika akhirnya saya terpojok, jenazah itu bicara dengan suara diseret, karena bagian tenggorokannya nyaris putus.
            “Thhholong, bhalhaskhan dhhhendam shhayhaaa khe shuuhkhuu hahahahirlangghha.”
            Saya merinding mendengar desusannya di depan muka dengan wajah dan sekujur tubuh penuh luka. Darah kering membaris di barisan-barisan luka panjangnya.
            Saya memejam mata saking ngerinya, dan ketika terbuka, jenazah hidup itu sudah lunglai. Saya berlari ke tempat di mana penduduk kampung berkumpul untuk berdoa bersama membawa peti mati menuju kuburan.
            Di sana saya bertemu seorang pria separuh baya. Tanpa basa basi, saya langsung bertanya di mana lokasi Suku Airlangga berada.
            “Itu suku adanya di Bengkulu,” katanya.
            “Bengkulu yang ada di Sumatera?”
            “Bukan. Ini Bengkulunya beda. Bengkulunya ada di ujung perjalanan menuju Pelabuhan Ratu, tetapi harus melewati Padalarang. Lokasinya ada setelah Padalarang, tetapi setelah Bandung. Posisinya ada di atas bukit cadas. Di situlah posisi Suku Pedalaman Airlangga.”
            “Jauh banget ya lokasinya. Sedikit bikin bingung.”
            “Kata orang-orang, memang sih hanya orang tertentu saja yang bisa menemukan posisi tepat Suku Airlangga.”
            “Lalu, itu wanita meninggalnya kenapa?”
            “Menurut cerita juga, setiap orang yang datang ke suku itu akan diburu sebagai binatang liar, tetapi tidak akan ditembak di tempat. Hanya diburu saja untuk dimasukan ke kandang kambing. Kalau berusaha mencoba melarikan diri, baru dibunuh, kaya gadis desa itu.”
            “Serem banget!”
            “Kalau mas niat ke sana, pokoknya harus ikutin semua kemauannya kepala suku. Jangan membantah.”
            Kepala Suku Airlangga menurut cerita suka sekali berburu. Ia berburu menggunakan panah. Dan saya harus pergi ke pedalaman Suku Airlangga, untuk bertemu dengan kepala suku. Entah dengan tujuan apa. Yang penting saya datang dulu saja.
            Setelah menempuh perjalanan tidak jelas, akhirnya saya tiba di sebuah hutan cadas putih. Dari hutan cadas putih itu, saya harus berjalan lagi sejauh tak terhitung waktu menuju bukit tertinggi di hutan itu. Sesampainya di bukit, ada sebuah gerbang dari bambu. Gerbang sisi kiri dan kanan dipasangi tombak-tombak tajam. Di bagian depan pintu gerbang sudah mengantri para penduduk suku. Saya ikut mengantri. Untuk masuk ke perkampungannya.
            Saya dan penduduk suku lainnya digiring masuk ke kandang kambing. Kata penjaga suku, katanya untuk dipilih, mana yang layak bertemu kepala suku, jangan pernah ada yang keluar dari kandang kecuali ingin mati disabet-sabet pedang seluruh tubuhnya.
            Setelah sekian lama menunggu, akhirnya saya dipanggil oleh kepala suku. Kepala sukunya masih muda ternyata. Umurnya sekitar 25 tahun. Perawakannya kecil, di kepalanya membelit kain warna coklat dan memakai celana setengah dengkul. Ia duduk di singgasana kepala suku, di depan perapian.
            “Dari semua yang ada di kandang,” ucapnya ke arah saya, matanya setajam ujung anak panah, “Cuma kamu yang saya pilih, untuk menemani saya.”
            “Terima kasih, Kepala Suku,” saya jawab sedikit gugup. Gugup karena takut ketahuan kalau maksud saya datang ke Suku Airlangga untuk membunuh kepala suku yang telah membunuh gadis desa.
            Saya pun diajak jalan-jalan di dalam rumah kepala suku. Rumahnya terbuat dari kayu. Model rumahnya seperti campuran rumah adat Toraja dan Sunda. Kompleks perumahan kepala suku memiliki luas sekitar selapangan bola. Di belakang kompleks perumahan terhampar lautan biru pantai selatan.
            “Ini posisi kita ada di Bayah,” lanjut sang kepala suku.
            Dia pun curhat sambil menunjukkan seisi rumahnya yang didominasi kayu. Sang kepala suku curhat, bahwa semakin sedikit suku asli di kompleksnya. Semua sudah keluar dari kompleks suku asli dan berbaur dengan penduduk biasa. Penduduk biasa rumahnya sudah modern, dibata, ditembok, disemen dan sudah menggunakan genteng modern juga. Katanya ia perihatin dengan kelangsungan sukunya. Bisa jadi, sukunya, beberapa tahun ke depan, akan musnah. Padahal, katanya, hidup sebagai suku Airlangga cukup nyaman dan serba cukup. Lihat saja, katanya sambil menunjuk perkebunan anggur, jagung dan buah-buahan lainnya.
            Saya melihat sekeliling. Benar sekali katanya. Buah-buahan tumbuh subur. Bahkan anggur pun buahnya segede-gede apel. Saking suburnya.
            “Kamu harus ikut memelihara suku ini,” tutupnya, “Kalau tidak mau, saya akan membunuh kamu sekarang juga.” Ia mengeluarkan pedang dari balik punggungnya.
            Saat itulah ia tiba-tiba mengeluh mules. Ia pamit ke toilet dan sebagai gantinya untuk mengawasi saya, ia memanggil wakil kepala suku. Wakilnya lucu banget! Cantik! Chubby! Montok! Semok! Putih! Dan ramah sekali. Kemudian saya membayangkan wakil kepala suku. Seandainya saya membunuh kepala suku dan bisa menggantikan posisinya, akan saya kawin saja wakil kepala suku itu dan membuat kerajaan sendiri.
            Khayalan saya terus merajalela di kepala sampai bencana menerjang kompleks Suku Airlangga. Angin puting beliung menerjang rumah pedalaman suku dan saya berlari menyelamatkan diri di balik pohon sambil menyaksikan seluruh rumah kepala suku porak poranda.
Saya menarik napas panjang dan membuka mata. Bangun dari tidur yang panjang.
“sonofmountmalang”

mimpi copywriter (47) perang hacker di pilkada

Pilkada sedang berlangsung. Semua orang ingin menang. Semua kubu ingin menang. Semua pendukung ingin menang. Tetapi ada satu kubu yang ingin semuanya tidak menang. Kubu yang ingin semua kubu yang ikut pilkada itu saling serang satu sama lain. Saling berperang. Saling membunuh. Agar terjadi kekacauan.
Mereka menyebut dirinya sendiri HACKERIAN.
Seluruh tentara sudah dikerahkan untuk menahan serangan dari hacker, juga serangan dari para kubu pembela calon pemimpin daerah. Beberapa hacker akhirnya bergabung menjadi penyusup dengan para pembela kubu. Mereka sama-sama menyerang melawan tentara.
Adegannya ada di hutan. Hutan rimba. Hutan bergunung. Dan, tentara sudah berhasil mematahkan beberapa hacker dan kubu yang sudah terkena hasut. Beberapa tentara mati di medan hutan. Beberapa hacker juga mati, namun mereka terus melancarkan serangan untuk bisa menjadikan suasana menjadi kacau.
Saya menyaksikan semua itu, dan akhirnya ikut membantu tentara. Meminjam senjata dari mereka. Bersembunyi di barisan paling depan, di balik semak-semak, sambil menyiapkan senjata ke arah para penyusup yang datang dari segala arah.
Ketika para hacker dan berbagai kubu menyerang, tentara langsung membantainya. Darah-darah berceceran. Mayat berserakan. Hutan rimba bertanah coklat pun berubah memerah. Korban tidak hanya datang dari para hacker, tentara pun jadi korbannya. Mereka perang jarak dekat. Suara teriakan. Jeritan dan letusan serta rentetan senjata tidak ada hentinya. Tentara saling bantu membantu untuk memukul mundur para perusuh.
Saya menarik mundur diri ke bukit paling tinggi. Sembunyi di balik semak. Kali ini dengan senjata khusus untuk sniper. Senjata paling canggih. Bisa melihat musuh dari jarak lima kilometer dan bisa melihat dengan jelas gerak-gerik musuh. Kemudian menembaknya dari jarak super jauh, lalu mereka bertumbangan.
Seru juga ya. Pantesan banyak orang doyan perang. Ada sensasi seru saat peluru menembus tubuh para perusuh dan hacker. Mereka tumbang satu per satu tanpa tahu dari mana asalnya tembakan.
Tapi, ada satu orang yang tahu keberadaan saya. Dia prajurit tangguh. Berlari kencang menaiki bukit dan menerobos hutan. Semua tembakan yang saya lepaskan tidak bisa mengenai tubuh saking kencang larinya prajurit itu.
Meskipun begitu, beruntung ada beberapa peluru menembus tubuhnya. Dia tetap bisa berlari dan mencoba menembak saya dari jarak dekat. Sayang, senjata saya jauh lebih canggih padahal tinggal dua peluru. Dalam kondisi ia siap menembak dari jarak dekat, saya langsung melepaskan peluru mengenai dadanya. Dua peluru membuatnya ambruk.
Sebelum meninggal, ia berpesan ingin dikuburkan di hutan.
Adegan langsung berubah ke suasana saya berada di lapangan luas, di puncak gunung, dengan jutaan jenis tanaman berbunga dan kupu-kupu cantik terbang di sekitaran bunga.
Lalu, muncul Prabowo. Ia cengar-cengir. Katanya, “Seru kan bikin dunia kacau.”
            “Oh, jadi, semua ini ulah bapak?” tanya saya.
            “Tentu.” Jawabnya, “Tapi tenang,” lanjutnya, “Sudah saya suruh semua perusuh untuk mundur.”
            “Lalu sekarang gimana?” tanya saya lagi.
            “Kita turun gunung. Kita ketemu Pak Harto ya.”
Prabowo turun gunung. Saya ikut di belakangnya bersama beberapa pengawalnya. Sepanjang perjalanan turun gunung, kami melewati perkebunan sayuran dan kebun kacang tanah. Prabowo, sambil berjalan, mencabut tanaman kacang tanah. Setelah mencabut beberapa tanaman kacang, ia mendapatkan tanaman kacang yang sudah banyak kacangnya. Ia membagikannya ke pengawalnya.
            “Nih, cemilan,” katanya.
Ketika sampai di bawah, di kebun kacang yang lebih luas, Prabowo ketemu Pak Harto. Eh, bukannya Pak Harto sudah meninggal ya? Oh, ternyata masih hidup. Pak Harto masih segar. Ia duduk di kebun kacang. Sambil minum kopi dan makan kacang, bersama beberapa pejabat lainnya.
Lalu, datang lagi seorang bapak tua menggendong bayi raksasa. Bayi itu katanya nge-fans banget sama Pak Harto. Saat kami semua ngobrol, bayi itu keluar dari gendongan dan berubah menjadi Ucob Baba. Ucok Baba lansung memeluk Pak Harto dan menciumi Pak Harto. Sampai Pak Harto bingung harus berbuat apa.
Saat sedang kami semua sibuk di tengah kebun kacang, adegan jump cut ke gubuk di tengah kebun. Di sana, terlihat ada bapak tua mau bunuh diri dan satu cewek sedang mencari bapak tua itu. Bapak tua menyiapkan alat untuk bunuh diri berupa tambang dan sabit tajam. Sabit melilit di lehernya dan jika tambang itu diputus, maka sabit akan segera menggorok lehernya.
Si cewek mulai masuk ke gubuk, dia mencari bapak tua yang sudah menyayat tambangnya. Pelan-pelan dan penuh kepastian. Pas tambangnya putus dan sabit memutus lehernya, pas si cewek mendombrak pintu.
Sayang, sudah telat sekali. Bapak tua itu sudah meningal di tempat. Kepalanya tergantung, badannya terjatuh dan darah muncrat ke mana-mana.
Adegan selanjutnya mulai tidak jelas. Semakin tidak jelas. Dan saya pun bangun dari tidur.
“sonofmountmalang”
Cat.: Mimpi ini bertepatan dengan Pilkada dan sebelum tidur saya nonton film seri Mr. Robot.
 

mimpi copywriter (46) mijit sehat & syahwat

Sedikit siang. Jelang sore. Sekitar jam setengah empat. Matahari seolah berbenah diri. Cuaca mulai sejuk. Angin bertiup. Saya dan ketiga rekan kantor, Anggia, Yana dan Lita sedang berada di kota Bogor. Kami bertiga berjalan di pematang sawah menuju rumah tingkat dua berbilik bambu. Menurut kebanyakan orang, rumah-rumah di tengah sawah itu adalah rumah-rumah untuk pijat sehat. Ada beberapa rumah untuk pijat syahwat. Berhubung saya jalan bareng tiga teman cewek, jadinya kami menuju rumah pijat sehat.

Kami masuk ke dalam rumah. Di dalam itu saya disambut mbak-mbak resepsionis. Suasana rumahnya enak. Menyenangkan. Sejuk. Wangi. Cocok sekali untuk relaksasi sambil dipijit. Bisa tertidur enak kalau begini jadinya.

Sementara Anggia, Yana dan Lita sudah duduk di posisinya masing-masing. Mereka sudah mulai dipijit. Saya masih bingung. Pijit nggak ya.

Ketika pelayannya nanya,”Mas mau dipijit juga?”

“Belum tahu,” jawab saya.

“Kalau mau, di lantai dua juga ada,” ucapnya.

“Plus-plus?”

“Nggak, mas. Di sini khusus pijet bersih sehat. Kita nggak jual layanan esek-esek.”

“Ohhh…!”

“Kalau mau, cari di rumah lain saja,” katanya sambil menunjuk ke luar pintu,”Di sana banyak, mas.”

“Nggak deh. Saya cuma nanya saja. Ya sudah. Saya pijat di atas saja.”

“Silakan. Pelayan kami akan mengantarkan.”

Saya pun diantarkan ke lantai dua. Di sana sudah menunggu seorang pemijat cewek. Muda. Cantik. Semok. Semlokai. Bohai dan sejenisnyalah.

“Duduk, mas…” ucapnya lembut.

Saya duduk di kursi sedikit merebah. Pelayan yang mengantarkan saya pamit turun. Tinggalah saya dan cewek pemijit itu.

Mulailah dia memijit kaki saya. Posisi cewek ada di bawah, dekat kaki saya. Hmmm…! Mulai aneh nih posisinya. Aneh atau kesempatan.

“Sekalian mijit esek-esek aja yuk!” ajak saya.

“Ah, nggak boleh mas. Di sini khusus pijit bersih sehat,” ucapnya sambil terus memijit. Tapi kenapa dia mengangkat rocknya? Aneh. Katanya pijit bersih sehat, kok malah menggoda saya. Glek!

“Blowjob pelan?” goda saya.

“Nggah ah, mas. Nanti dipecat perusahaan.”

Tapi tangannya malah mijit selangkangan saya. Kemudian terjadilah adegan yang diinginkan para pria di panti pijat. Namun, baru juga rangsang-merangsang, manajernya datang ke lantai dua dan menegur kami berdua. Saya kaget. Gagal ngaceng. Gagal blowjob. Dan sesak napas. Saya meminta manajernya untuk tidak melaporkan ke teman saya, Anggia, Yana dan Lita. Takutnya kalau mereka tahu, hancurlah reputasi saya sebagai pria alim, beragama dan baik-baik.

Sang manajer terus marah-marah. Akan melaporkan ini itu. Akan menuntut ini itu. Saya pun menyogoknya dengan uang ratusan ribu rupiah.

“Lain kali jangan coba-coba. Takutnya usaha saya dibubarkan polisi. Ini kan khusus pijat bersih sehat. Tanpa esek-esek segala,” keluhnya.

Saya turun tangga sempoyongan dan sesak napas. Ketika di luar, saya muntah dan tetap susah bernapas. Ketika napas saya semakin susah, saya terperanjat dari ranjang. Kaget dan mencoba mengatur napas.

Hiuh! Sial. Bangun-bangun kondisi badan dalam kondisi cape. Ngecrod juga nggak ya. Mimpi yang gagal. Hihihihih!

 

“sonofmountmalang”

mimpi copywriter (45) rumah sakit, @tirarenton & @nadaarini

Ketibaan saja @dwiyuniartid perutnya sakit. Dia harus check up ke RS YPK Menteng. Cuma tuh RS sekarang berubah. Parkirannya luas, posisinya ada di dekat bukit tinggi dan sudah banyak gedung-gedung bertingkat, sekaligus mall juga ada.

Saya memarkir mobil di belakang, kemudian berjalan kaki selama 10 menit menuju lobi rumah sakit. Di lobi itu banyak sekali orang sedang duduk-duduk santai sambil ngobrol. Dan eh rupanya di depan lobi  ada sawah sedang masa tanam. Beberapa anak gadis sedang bermain di sawah. Ah, abaikan pemandangan itu. Saya dan @dwiyuniartid pun masuk ke dalam. Di dalam juga sudah banyak orang ngantri di depan apotek. Mereka membeli obat dalam jumlah banyak. @dwiyuniartid pun ikut-ikutan membeli obat. Saya tanya untuk apa, katanya untuk menghilangkan rasa sakit di perutnya. Oh siplah!

Dokternya mana? Katanya dwi, dokter lagi menangani pasien yang mau melahirkan. Jadi harus minum obat dulu sebelum bertemu dokter.Ohhh! Okeh!

Sesaat setelah keluar dari antrian, saya bertemu dua wanita muda. Mereka membawa keranjang buah. Katanya mau jenguk istrinya @tirarenton, @nadaarini, mau melahirkan. Oh yaaa!? Wah! Kebetulan. Padahal saya tidak kenal dua wanita itu, tapi karena teman sekantor istrinya mau melahirkan, saya kembali ke dalam rumah sakit. Di sana saya mendapati @tirarenton sedang menggendong anaknya.

“Serius ya istri loe mau melahirkan?” tanya saya.

“Iya,” jawabnya.

“Masih lama?”

“Baru bukaan pertama. Dia maunya normal. Sekarang masih ngeden-ngeden. Kayanya sih sakit banget. Kalau nggak keluar juga, mau sesar aja.”

“Ohhhh…!”

Saya membayangkan sakitnya melahirkan seperti apa. Hiiiiyy! Jadi ngilu.

“Salam buat nada ya. Semoga sukses lahirannya.”

Saya menyalami @tirarenton, begitu juga dua wanita muda tadi, mereka ikut menyalaminya dan bahkan mencium tangannya, tapi @tirarenton menepisnya. Wah! Jangan-jangan itu istri kedua atau selingkuhannya Tira ya. Ah, biarinlah. Bukan urusan saya.

Saya keluar dari rumah sakit melewati sawah di depannya. Bertemu sungai besar. Di sungai itu ada segerombolan pria berotot macam Ade Rai. Mereka pamer dada cenut-cenut, tangan gerinjil-gerinjil, otot paha dan perut, tapi gayanya pada banci semua. Ada beberapa di antara mereka malah pelukan, ciuman dan basuh-basuhan air sungai. Hanjroottt! Saya jadi geli. Ingin berlari, kaki kok terasa nancap di tanah ya. Malah mata saya terus tertuju ke mereka dan mereka semua melambai-lambaikan tangan sambil julurin lidah, gigit bibir dan kedip-kedipin mata dengan otot tetap dipamerkan. Haduh! Serem begini jadinya. @dwiyuniartid kemana sih nih? Dia malah jalan duluan meninggalkan saya sendirian.

Oi! Dwi! Dwi! Toloonggg! Tunggu!

Saya berteriak-teriak, namun suara tidak keluar dan rasanya mau bergerak juga sangat susah.

Akhirnya, dengan sekuat tenaga, saya menggerakan kaki supaya bisa berlari dan ketika bergerak, saya langsung terperanjat dari ranjang. Kaget, deg-degan, cape, kemudian bangun mengantarkan @dwiyuniartid ke RS YPK Menteng untuk check up.

“sonofmountmalang”

*Rasanya, saya, sudah semakin sulit membedakan mana mimpi dan mana realitas.

mimpi copywriter (44) memonyet memonyet kampret!

Menyore-nyore, sekitaran jam empat di dataran tinggi, sebuah pegunungan berkabut, saya dan Leli @freelancer021 sedang melakukan perliburan bersama anak-anak  lainnya. Namun entah kenapa, yang ada di hotel cuma Leli. Menurut informasi yang saya dapat, anak-anak lainnya sibuk berendam di air terjun hangat di seberang sawah yang sedang menguning.

Saat yang lainnya asik berendam, Leli sedang asik duduk-duduk di balkon belakang hotel sambil ngemil. Dia memanggil saya. Kemudian menunjuk ke bawah balkon. Di bawah sana ada danau berwarna biru laut. Sekitarnya dikelilingi kabut tipis. Sepertinya sangat dingin sekali ya. Saya pun mengajak Leli pergi ke danau tersebut. Sebelum pergi, Leli meraih sekantong cemilan baru di meja. Nih anak ya, nggak di kantor, di jalan, di mana saja tidak pernah jauh dari makanan. Gilak!

Saya dan Leli berjalan kaki menuju danau di bawah hotel. Ketika sudah sampai di belakang hotel, masih jauh ke danau sih, kami berdua berhenti. Ternyata ya, jarak hotel ke danau itu sekitar sekiloan lebih. Itu pun tidak ada tangga. Kami berdua harus merosot melewati jalanan lebarnya setengah meter penuh lumut. Saking licinnya, saya nyaris terperosok. Bisa mati menghantam bebatuan di bawah sana ini sih.

Kami berdua memutuskan untuk duduk saja sambil menikmati pemandangan berkabut tipis. Sementara itu mulut Leli tidak berhenti mengunyah. Bunyi kunyahan itu rupanya mengundang memonyet-memonyet dari hutan. Memonyet-memonyet itu merebut cemilan dari tangan Leli. Leli tidak rela cemilannya direbut monyet. Leli dan monyet tarik-tarikan cemilan. Adegan itu mengundang lebih banyak kawanan monyet. Ada sekitar enam monyet siap merebut cemilan. Saya sudah berteriak berkali-kali supaya Leli melepaskan cemilan dan segera kabur. Dasar Leli ya, dia tidak rela lho cemilannya diembat monyet. Dia mempertahankan cemilannya. Di sisi lain, memonyet-memonyet itu semakin marah. Salah satu monyet nemplok di badan Leli. Barulah Leli teriak minta tolong, tapi dia tetap saja tidak melepaskan cemilannya.

“Lepasin cemilannya! Monyetnya ngamuk tuh!” teriak saya.

“Nggak mau! Nggak rela saya berbagi sama monyet!”

Leli kesal. Dia jitak kepala monyet. Monyet itu menyeringai, menunjukkan taring-taringnya. Dan krek! Tangan Leli digigit. Gigitannya tidak mau lepas. Tapi, sekali lagi ya, cemilannya tetap tidak Leli lepas juga. Sambil minta tolong, Leli terus mengunyah dan mengambil makanan dari kantong cemilan. Saya gemes melihatnya. Saya dekati monyet itu dan PLAK! Saya keplak kepala monyet. Sial! Tangan saya telat narik, mulut monyet sudah menggigit pergelangan tangan. Adoohh! Saya berteriak kesakitan. Darah mengucur dari urat nadi di pergelangan. Saya pun berlari mencari batu di dekat hotel, dan memonyet-memonyet itu kini mengejar saya. Sementara Leli bebas dari sergapan monyet. Dengan wajah bahagianya, dia mengunyah cemilan,”Hati-hati yaaa!” teriaknya.

Hadooohhhh! Reseee!

Saya mencari batu. Memukul kepala monyet itu. Gigitannya tetap menancap. Memonyet-memonyet lainnya memberi semangat ke monyet satu yang masih nangkring di pergelangan tangan saya. Beneran nih ya monyet! Saya banting-banting badan monyet ke batu. Gigitannya terlalu kuat. Tangan saya sudah semakin sakit. Darah terus mengucur dari pergelakang tangan. Daripada saya mati konyol, saya ambil golok, entah dari mana, pokoknya tiba-tiba di tangan saya ada golok. Dengan penuh kegemasan bercampur kesal, saya menggorok leher monyet. Darah monyet dan darah saya bercampur. Saya bisa melihat perlahan golok itu memotong leher monyet sampai putus. Setelah putus, barulah gigitannya lepas. Tangan saya pun lega.

Sudah tahu temannya mati, memonyet-memonyet lainnya siap menyerang. Saya sudah punya golok, jadi saya babat semua memonyet itu. Mereka mati semua di tangan saya.

“Eh, tau ngga? Bunuh monyet itu bisa dihukum mati lho,” tiba-tiba Leli muncul di belakang saya sambil jilat-jilat jarinya.

“Hah?! Yang bener?!”

“Beneran! Makanya saya tadi nggak berani mukul monyet.”

“Terus sekarang gimana?! Ini monyet mati semua!”

“Gampang sih. Kita kubur aja, tapi jangan cerita ke siapa-siapa. Kalau ada polisi lewat, jangan panik.”

Ah! Baru Leli ngomong soal polisi, dari jalanan terlihat mobil patroli lewat. Tuh kan. Gimana nih? Saya nggak maulah dihukum mati gara-gara monyet sialan ini.

“Tenang,” katanya, “Polisi itu nggak bisa lihat monyet.”

Eh, bener juga dia. Polisi itu cuma lewat.

“Terus sekarang gimana?” tanya saya.

“Masukin ke kantong sampah. Terus kita kubur.”

“Ok. Gue gali kuburan. Loe masukin monyet ke tempat kantong sampah.” “Nggak mau ah. Saya kan lagi makan,” bantahnya sambil beneran ngunyah. NGUNYAH! DAMNIT LELI!

Duh! Kalau bukan teman kantor, sudah saya masukan sekalian nih anak ke kantong sampah gabung sama memonyet-memonyet ini.

Dengan kesal, saya pun akhirnya sebentar menggali kuburan. Sebentar memasukan mayat memonyetnya. Ketika menggali itu, Leli duduk di sebelah lubang yang saya gali. Dia mulai mengoceh,”Eh, kamu tau nggak? Ini kan monyet asalnya dari deket danau itu. Ini monyet yang suka berendam di kawah. Makanya monyet ini dilindungi. Kamu sih pake ngebunuh segala….”

Semakin lama saya menggali kuburan untuk monyet, semakin sayup-sayup suara Leli bercerita soal monyet. Suara Leli semakin tidak jelas, dan lubang untuk mengubur monyet juga tidak bertambah dalam. Sementara itu suasana di sekitar sudah mulai menggelap, dingin dan embun-embun di hamparan padi depan hotel sudah memunculan. Leli terus bercerita sampai ceritanya tidak bisa saya cerna, dan akhirnya, bersyukur kepada Tuhan yang maha esa, saya pun mendadak bangun dari tidur.

Saya menarik napas super panjang. Semoga kalau saya lanjut tidur, Leli sudah berhenti cerita soal monyet yang saya bunuh tadi. Itu doa saya sebelum tidur lagi sekitar jam 2 di pagi buta.

Zzzzz….!

“sonofmountmalang”

Catatan kecil saja. Leli @freelancer021 itu copywriter di kantor. Dia tukang makan. Kalau ada orang nanya alamat, patokan dia adalah makanan A-Z. Dan setiap benda, baginya, memiliki sebuah cerita. Rupanya, nggak di mimpi, nggak di dunia nyata, kelakuannya sama. Leli….Leli…! Onyet kamuh!

mimpi copywriter (43) pengusaha gila!

Di rumah mertua saya sedang ada acara Lenongan. Dimeriahkan artis-artis OVJ. Mereka mencoba melucu di depan saya, @dwiyuniartid dan seorang pengusaha terkenal kaya raya keturunan Arab. Artis-artis OVJ itu terus melucu, tapi kami semua tidak ada yang tertawa. Malahan hati saya cemburu melihat pengusaha Arab itu memegang tangan istri saya. Saya pukul saja dada pengusaha itu menggunakan guling sofa. Dia malah semakin erat memegang tangan istri saya. Risih melihatnya. Istri saya berusaha melepaskannya. Pengusaha Arab gilak! Berani-beraninya menggoda istri orang.

“Eh, jangan kurang ajar ya! Saya ini suaminya!” umpat saya.

“Kenapa? Masalah?” ucap pengusaha Arab itu tenang.

“Masalah! Pergi loe dari rumah gue!”

Saya mengusir pengusaha Arab itu.

Pengusaha Arab pergi menggunakan mobil Ford Escape warna silver. Katanya,”Tunggu loe di sini! Gue bunuh loe!” ancamnya.

“Gue tunggu! Gue nggak takut!” tantang saya.

Setelah dia pergi, istri saya menunjukkan BBM. Terlihat ada BBM dari pengusaha Arab itu. Isinya,”Yang bakalan gue bunuh suami loe sama Si Sule. Si Sule lawakannya nggak lucu. Suami loe udah menyinggung perasaan gue.”

Saya sedikit ciut. Sebab, katanya si pengusaha Arab itu cukup terkenal. Banyak relasi sama polisi dan preman-preman di Tanah Abang. Istri saya menyuruh sembunyi. Belum juga sempat beranjak dari sofa, suara pistol meletup-letup. Belasan peluru menghantam tembok. Saya menunduk, kemudian merangkak menuju pintu belakang. Mertua saya memunguti peluru yang menancap di dinding. Banyak sekali pelurunya.  Ukurannya sebesar ibu jari orang dewasa. Kebayang kan pistolnya segede apa.

Daripada mati konyol di tangan pengusaha Arab itu, lebih baik saya melarikan diri. Saya pun kabur lewat pintu belakang. Di sana sudah menunggu mobil bak terbuka berisi keranda ayam. Saya pun masuk ke tengah keranda. Sembunyi di tengahnya. Mobil melaju menuju suatu tempat yang sangat jauh.

Sialnya, si pengusaha itu mengirimkan pasukan premannya. Preman-preman itu mengejar mobil yang saya tumpangi menggunakan Hummer. Kepala-kepala preman keluar dari jendela. Tangannya mengacung-ngacungkan segala jenis senjata. Mereka tidak berhenti menembaki mobil. Peluru-peluru mengenai ayam. Darah ayam bercipratan. Lantai mobil bak terbuka dan keranda ayam penuh darah. Bersyukurnya saya belum terkena.

Untuk menyelamatkan diri, saya mengambil darah ayam. Membalurkan ke kaki, dada dan perut. Kemudian saya pura-pura mati. Eh, sepertinya mereka tahu saya belum mati. Mereka pun memberondong saya dengan shotgun. Pecahan pelurunya mengenai dengkul saya. Darah mengucur, tapi tidak terasa sakit. Ah, pura-pura mati deh. Gagal. Mereka sudah semakin dekat. Mobil yang saya tumpangi dihentikan. Sopirnya ditembak mati. Dua orang menarik saya dari keranda ayam. Mereka menodongkan shotgun dan pistol. Sementara di ujung jalan sana, polisi tidak berani mendekat. Si pengusaha Arab itu juga ada, berdiri penuh senyum keparat di samping polisi. Dia memberikan tanda, “Bunuh!” ke para preman itu.

Dua moncong senjata mematikan menempel di kepala saya. Dalam hitungan satu, dua dan DOR! Saya ditembak mati tepat di kepala.

Kaget, kemudian bangun, dan saya masih hidup. Hiuh….!

“sonofmountmalang”

 

 

mimpi copywriter (42) diambang cerai

Saya sudah hamil tua. Tidak lama lagi saya akan melahirkan seorang anak. Melahirkan itu tidak sulit. Tinggal ngeden sedikit, lahirlah seorang bayi perempuan mungil, gemuk dan sehat. Tidak lama kemudian dokter dan suster datang untuk mengurus ari-ari dan perbayian lainnya. Sementara istri saya terlihat sedang menggendong sang bayi. Saya merasa lemas. Pingsan.

Ketika tersadar, anak perempuan saya sudah dua tahun usianya. Sedang lucu-lucunya, gemesin dan mulai bawel tidak jelas. Saya mengajaknya bermain di pantai. Saat itu muncul salah satu anggota Color Me Badd. Saya mengenalkannya ke istri.

“Saya suka istri kamu,” kata si penyanyi itu

”Coba saja. Kali-kali dia suka juga,” jawab saya.

Sejak saya bilang begitu, istri saya mulai dekat dengan salah satu anggota Color Me Badd, yang saya sendiri tidak tahu namanya siapa. Dia merayu istri saya dengan nyanyiannya dan kharisma kebuleannya. Istri saya semakin tertarik. Dia semakin akrab dengan penyanyi itu. Begitu juga dengan anak perempuan saya. Kami sudah jarang bertemu lebih dekat. Istri saya tiba-tiba saja menjauhkan kami berdua.

Isu terakhir, istri saya meminta cerai. Dia mau menikahi si penyanyi. Penyanyi itu juga meminta restu pada saya. Awalnya saya tidak peduli. Lama-lama kok saya merasa kehilangan ya. Saya tidak ingin kehilangan istri dan anak. Tapi di sisi lain, saya juga sudah mulai dekat dengan seorang perempuan lajang. Dia juga siap dinikahi. Sementara saya masih mencintai istri, dan ingin dekat dengan anak saya. Haruskah saya menjaga istri dan anak tetap menjadi bagian dari keluarga, kemudian menikahi perempuan satunya lagi? Oh, tidak. Istri saya tidak mau. Baginya lebih baik bercerai daripada harus dimadu. Saya mulai bimbang. Memilih istri dan anak saya atau memilih perempuan lainya.

Dalam kondisi bimbang itu, istri saya masih berbaik hati. Dia memberikan kesempatan sekali lagi. Duh! Pusing begini. Saya mau istri saya, anak saya dan juga pacar saya. Maruk sekali!

Saya harus memilih. Saya bilang ke istri,”Kita tetap cerai, tapi anaknya untuk saya.” Istri saya tidak mau jauh dari anak.

Akhirnya, saya mencoba mendekati istri saya. Merangkul anak perempuan yang awalnya tidak mau. Perlahan saya rayu. Dia pun mau digendong. Senangnya bisa menggendong kembali anak sendiri.

“Please…, jangan nikah sama penyanyi Color Me Badd itu…”

Saya memohonnya.

“Boleh. Tapi kamu jangan nikah sama perempuan lain.”

“Hmmmm…”

Saya berpikir.

“Ok,” ucap saya, “Saya akan putusin dia dulu. Kamu tunggu di sini.”

Dengan hati yang masih terombang-ambing, saya berjalan menuju tempat tinggal pacar yang ada di tengah kota. Saya berjalan melewati setapak demi setapak jalanan beraspal sampai seluruh pemandangan buyar. Tersisa hanyalah suara ngorok dahsyat. Suara itu semakin keras dan nyata, dan membuat mata saya terbuka.

Setelahnya, saya tidak bisa tidur lagi karena ngorok rekan kerja yang tidur di ranjang sebelah super dahsyat. Sambil mencari ngantuk gila datang, saya merasa-rasa rasanya melahirkan seorang bayi.

Dan, ngomong-ngomong, melahirkan itu ternyata mudah yah. Heeeeee!!? #mimpibanget

“sonofmountmalang”