samsung project (41) ngegelinding ajah!

20160506_072402_Richtone(HDR)

Mau ke mana liburan panjang kali ini?

Banyak sekali jawabannya. Ada yang mau ke Bali. Ada yang mau ke Jogja, Semarang, Surabaya, Garut, Bandung, Bogor, Carita, Anyer, naek gunung dan segala jenis liburan lainnya, yang sudah fix lokasi dan penginapan serta tujuannya.

Kalau saya? Jawabannya, nggak tahu. Lihat mood besok saja, gimana maunya.

Tahunya, mood subuh buta membilang kalau saya harus segera memanaskan kendaraan dan biarkan roda menggelinding ke mana maunya.

Benar saja, roda menggelinding dari  Jakarta – Sukabumi – Cianjur – Padalarang – Bandung – Padalarang – Cianjur – Jakarta PP! Hasilnya, banyak berhenti, karena kebetulan jalan sendirian dan saking asiknya menikmati perjalanan nggak puguh, sampai malas memotret pakai DSLR segala. Alhasil, pakai Galaxy K Zoom. Simpel dan cepat.

Tapi, memang benar ya. Jalan-jalan, tanpa dibebani harus memotret itu, memang, jauh lebih menikmati. Kebayang kan, menikmati udara dingin saja, menikmati pemandangan yang membikin sejuk saja, itu sudah merasakan liburan paling menyenangkan. Tanpa harus juga dibebani posting atau check in di sosmed di setiap pengkolan berhenti. Cukup memarkir kendaraan. Keluar dan menikmati sampai kenyang. Melanjutkan perjalanan lagi sampai tidak tahu tujuannya apa. Aneh sih, tetapi itu nikmat sekali.

Coba, siapa yang pernah mencobanya?

20160506_064541

20160506_060154

20160506_07381220160506_07361720160506_072535_Richtone(HDR)20160506_072330_Richtone(HDR)20160506_072157_Richtone(HDR)20160506_07185320160506_06323120160506_06133920160506_055200

“sonofmountmalang”

samsung project (40) siapa yang suka senja?

20160217_182705

Panorama ala ala K Zoom.

Coba.

Siapa yang tidak suka senja. Bahkan Seno Aji Gumira saja menulis cerpen maha gaib, “Sepotong Senja untuk Pacarku” Bahkan penyair jaman jebot hingga penyair karbitan jaman kekinian, pun doyan memuja senja. Mengukir kalimat seanjing mungkin, hingga mampu mengalahkan keanjingan senja itu sendiri.

Memangnya, apa yang menarik dari sebatang senja? Kalau saya, padahal saya sudah berkali-kali memotret senja, menuliskan sesuatu tentang senja, dan, kemudian, kali ini, saya memotretnya lagi dan menuliskannya sesuatu lagi. Benar-benar tidak penting tulisan ini yah.

Tapi, kan, selalu ada sudut pandang baru, yang bisa ditulis, tentang keseharian senja. Jika beberapa rentang waktu yang lalu, saya menuliskan senja dari kacamata bola mata seorang wanita, yang memantulkan senja memerah padam. Dan, jika beberapa jedaan waktu di masa silam, saya menuliskan senja yang mencahayai pipi syahdu seorang gadis terduduk di atas batu dekat pohon kelapa ketika daun di atasnya melambai-lambai dan ombak membela-belai.

Kali ini, saya menulis senja dari sudut pandang berbeda. Ngomong-ngomong, masih penting banget ya si senja ini ditulis. Memangnya, apa untungnya menulis soal senja ini. Dibayar juga tidak oleh senja. Ah, tapi, ya sudahlah yah. Hitung-hitung mempromosikan senja.

Kembali ke pertanyaann di atas. Siapa yang suka senja? Kenapa?

Kalau saya, kenapa suka senja? Karena eh karena, senja itu GRATIS!

Sekian.

Lhaaa?!

20160217_181337

Siap-siap dapet senja bagus.

20160217_182450_Richtone(HDR)

Siapkan kameranya.

20160217_182532

Ada bulan segala.

20160217_183021

Sempurna!

“sonofmountmalang”

Note:

Anjing merupakan ungkapan baru untuk sesuatu yang beyond keren! :))

samsung project (39) ngopi di two cents bareng Virgillyan

20151231_075829

Bandung nggak ada matinya ya. Tempat ngopi sekarang udah jemuran kutang. Ada di mana-mana. Tempat ngopi enak lho ya, bukan tempat yang kopinya enak. Weee! Salah satu yang konon juga nggak lama-lama amad, Two Cents ini nih. Lumayan asik sih tempatnya. Lumayan mahal dibanding harga-harga di Jakarta. Dan kopinya, ya biasa aja sih. Mungkin ini yang disebut TEMPAT NGOPI HIPSTER. Kopi SINGLE ORIGIN-nya nggak seenak macam TUKU atau 1/15 atau TANAMERA, yang bisa dibeli dengan harga asoy. Jadi, kalau ke Two Cents sih ya nongkrong-nongkrong seru aja. Kaya saya sama Virgillyan Ranting Areythuza, nongkrong santai sambil ngopi bareng dan ngobrol satu arah, secara dia belum bisa berceloteh jelas.

Yuk!

 

20151231_074958_Richtone(HDR)

20151231_08182020151231_075113_Richtone(HDR)20151231_07475920151231_08152220151231_075045_Richtone(HDR)20151231_07465420151231_07583420151231_07583220151231_074414

“sonofmountmalang”

 

samsung project (38) seseruan di kubangan sawah!!

20151212_104144
Apa yang membedakan anak-anak kota dan anak-anak yang tinggal di kaki gunung atau pun di pesisir pantai atau jauh dari kota?
Siapa yang bisa menjawabnya?
Sebelum dijawab, kita melesat dulu ke keseruan anak-anak di kaki gunung, ketika sawah yang belum dibajak dan terisi sekubangan air menjadi tempat bermain. Lupakan game minecraft dan game-game lainnya.
Di sini, mereka bisa bermain di alam bebas. Kubangan sawah hanyalah tren baru tempat mereka bermain. Masih ada curug, masih ada bendungan, masih ada kebon, masih ada sawah, masih ada tempat seru lainnya. Selalu ada tempat baru dengan cara berbeda bagi anak-anak di kaki gunung untuk bisa bisa menikmati waktu bersama anak-anak lainnya.
Mereka, tidak pernah takut hujan. Seperti kebanyakan anak kota. Mereka tidak takut kotor. Seperti hampir semua anak-anak kota. Juga mereka tidak takut sakit. Karena bagi mereka, permainan itu bukan masalah bikin sakit atau tidak, tetapi bikin seru atau tidak.
Begitulah.
Bahkan, orang tuanya pun tidak pernah melarang atau pun berteriak, “JANGAN INI JANGAN ITU NANTI SAKIT INI NANTI SAKIT ITU!”
Orang tuanya hanya bilang, “HATI HATI KALAU MAEN!”
Sesederhana itulah pesannya. Sebab, orang tua di kaki gunung, tidak bisa membelikan ipad, minipad, laptop, komputer, ps, xbox atau mengajaknya ke mall. Mereka, para orang tua itu, hanya bisa memberikan izin untuk bermain. Sisanya, anak-anak bisa menikmati keseruan tanpa batas.
Lebih seru lagi pas hujan lebat. Ini, permainan ini, menjadi SURGA BASAH bagi anak-anak di kaki gunung.
Jadi, apalagi coba yang membedakan anak-anak kota dan anak-anak pegunungan atau pepantaian? Atau, ayo siapa mau gabung bareng anak-anak di kubangan ini? Rule-nya, HARUS BUGILLLLLLL! Eh!

Cat.: Dan, tentu saja, semua foto ini pakai SAMSUNG K ZOOM:d

20151212_10390720151212_102606

 

“sonofmountmalang”

samsung project (37) makro

20151018_081508Kalau ke kebun kecil di belakang rumah atau di depan rumah, jangan lupa bawa lensa makro. Kalau nggak punya lensa makro, nih kaya saya ini, menggunakan handphone samsung k zoom dengan feature MACRO bawaannya. Plus, kalau pakai kamera DSLR juga kadang bawanya rempong, berat dan tangan suka goyang karawang kalau pakai lensa gede. Tapi ya kekurangannya itu tuh, makronya terbatas. Tidak bisa mengambil belalang yang lebih kecil lagi dari yang saya ambil ini.

Sebenarnya sih, foto belalang di sini juga nggak ada maknanya apa-apa. Hanya iseng belaka dan mengisi kekosongan blog saja. Hahhahaha! Prets! Ya, kali-kali bosan pakai DSLR, bisa cobalah kamera-kameraan kaya saya ini.

• Kampung Goleah • Megamendung • Jawa Barat

Hasilnya!

20151018_080846

20151018_080937 20151018_081001 20151018_081050 20151018_081133 20151018_081346 20151018_114517 20151018_114717

“sonofmountmalang”

samsung project (36) aaaaaaaaaaaaaaaaaaaa!

20150829_125242

Sayang nih lagi musim kemarau. Debit airnya kurang bombastis.

Kalian nggak bosan tinggal di Jakarta? Menghabiskan hari-hari di meja kerja. Menghabiskan weekend di mall. Menghabiskan waktu di jalan. Menghabiskan waktu ngomel dengan kondisi macet panasnya Jakarta.

Mungkin saatnya kalian menghabiskan waktu di hutan. Dengerin suara burung. Dengerin suara sungai. Menghirup udara segar. Keringetan sehat. Dingin-dinginan. Main air. Teriak, “Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaa!” sampai puas. Lepasin semua perasaan stres dan penat mumet di kepala.

Jadi, gimana? Masih mau tinggal diam di Jakarta di weekend ini?

Yuk! Jalan ke Curug Cibeureum.

Note: Karena pas ngeluarin DSLR dari tas, pas dinyalain, pas baterenya habis. Jadi, pakai Samsung K Zoom lah. KZL!

Selamat Welcome!

Kebanyakan duduk di depan komputer, sekalinya tracking ringan pun pada gempor semua. Payah!

Yuk! Kita nikmatin tracking ringannya.

Talaga Birunya lagi hejo

Talaga Birunya lagi hejo

20150829_125531

Betah lama-lama di sini. Apalagi kalau sepi. Berduaan. Eaaaa!

“sonofomountmalang”

samsung project (35) pacaran di sini yuk

20150812_131458_Richtone(HDR)

Tempat pacaran di sini buat abg-abg yang lagi pada diamuk birahi tinggi.

Orang pacaran atau pun orang nongkrong, jaman dulu, mungkin lebih mengesankan dan lebih menantang. Misalnya, pacaran di saung di tengah sawah. Pacaran di atas pohon dengan membangun rumah pohon. Pacaran di pinggir sungai. Pacaran di kebun teh. Pacaran di kebun jagung. Pacaran di kebun cengkeh. Pacaran di bawah pohon beringin. Pacaran di semak-semak. Pacaran di atas bukit. Pacaran di hutan. Pacaran di tepi empang. Pacaran di curug.

Orang pacaran jaman dulu lebih intim. Lebih memiliki privasi. Yang melihat pun palingan monyet, musang, ikan dan binatang-binatang lainnya.

Beda dengan jaman sekarang. Orang pacaran di tempat umum. Gelendotan. Cubit-cubitan pipi. Cium-cium pipi. Pegangan tangan. Ya ngaceng-ngaceng dikit tinggal nyari kamar.

Tapi, ada nih tempat pacaran yang enak. Tentunya sambil ngobrol santai ngopi-ngopi. Di sini nih, di woodpecker coffee. Tempatnya lucu, minimalist dan enak buat duduk-duduk sambil mencari ide untuk menulis.

Jadi, kapan nih mau nongkrong? Yuk! Ngobrol yuk! Di sini. Ngobrolin mau jalan-jalan ke mana buat bahan tulisan. Haaaa!?

Tulisan yang aneh. Hahhahaah! Yuk!

20150812_131004_Richtone(HDR)

acb4516516d41d19930ff52762972dd1

20150812_130907_Richtone(HDR)

20150812_130925_Richtone(HDR)

20150812_131113

longblack

“sonofmountmalang”