Kemping ala ala di Ciwidey Valley

ciwidey-valley14

Paling seru itu kemping yang bukan ala-ala. Alias kemping beneran di tengah hutan, di atas gunung, di samping situ atau danau belantara, di sisi sungai berbatu dan di tempat di mana sangat jauh dari hiruk pikuk jalanan dan kebisingan kota serta manusia. Namun juga ada kalanya, kita terlalu malas untuk kemping serius karena harus masak sendiri, pasang tenda sendiri, mandi air dingin dan sebagainya. Dan kalau lagi malas, carinya ya tempat kemping yang menyediakan semua fasilitas, sementara kita tinggal santai-santai manis dan menikmati semuanya.

Makanya saya coba Ciwidey Valley Resort dengan harga 850 ribu/malam, dapat sarapan pagi dan tersedia restoran tinggal telepon atau kalau mau makan ya tinggal keluar Jalan Raya Ciwidey. Mau makan apa saja atau beli apa saja ada. Tapi ya itu, jadi nggak ada seninya. Terasa tidak kemping. Terlebih lagi, posisi tempat kempingnya persis tidak jauh dari Jalan Raya Ciwidey pas tanjakan, jadinya kalau malam, yang harusnya kita menikmati suasana khidmat kemping pun sedikit terganggu dengan ngedennya suara kendaraan dan ngegasnya suara knalpot motor di tanjakkan.

Buat yang nggak terbiasa bising dan ingin menikmati kemping sunyi, kayanya kurang mantap nih. Tapi kalau buat kemping ala-ala, masih sah-sah saja sih untuk bisa menikmati kemping bersama keluarga atau pasangan cabul Anda.

Silakan. Nextnya kita di Ranca Upas aja yuk!

20161022_172645_richtonehdr-01ciwidey-valley05ciwidey-valley08ciwidey-valley09ciwidey-valley13ciwidey-valley15ciwidey-valley20ciwidey-valley25ciwidey-valley27

“sonofmountmalang”

Kota Seribu Curug

gunung-bunder100

Ya astagaaaa! Hampir lima tahun saya tidak nulis blog. Maafkan saya ya BLOOGG! Bukan niat saya menganggurkanmuuu, tapi aku sibuuuk bangett nyari uang buat membeli satu pulau di KEPULAUAN KARIBIAN! Hah!

Nah, demi menebus ketidak-blog-an saya selama bertahun-tahun, saya posting dengan tema “KOTA SERIBU CURUG!”

Kota apalagi kalau bukan Kota Hujan. Entah siapa yang sesuka-sukanya menjuluki Kota Hujan dengan Kota Seribu Curug. Namun setuju atau tidak, ya sudahlah terima saja dan coba iseng-iseng ke beberapa hutan di sekitaran Bogor. Dan anyway, Bogor itu luaaassss banget. Kalian keliling Bogor sebogor-bogornya tidak akan habis sebulan. Tidak percaya, coba saja.

Saya hanya iseng jalan santai ke Gunung Bunder dan beneran ya banyak banget curugnya, yang meskipun sebenarya di mana ada perbukitan dan sungai mengalir maka di situlah akan ada curug demi curug.

Ah, daripada banyak omong, cobalah kalian iseng ke Gunung Bunder – Taman Nasioan Gunung Salak Halimun, di mana kalian bisa mandi dari satu curug ke curug lainnya dan tentu bisa kemping!

Silakan! Ayo kita ngeblog lagiii!

 

gunung-bunder142gunung-bunder131gunung-bunder120gunung-bunder112gunung-bunder109gunung-bunder107gunung-bunder106gunung-bunder99gunung-bunder89gunung-bunder84gunung-bunder77gunung-bunder61gunung-bunder56gunung-bunder53gunung-bunder49gunung-bunder46gunung-bunder45gunung-bunder38gunung-bunder35

“sonofmountmalang”

Kabur dari Jakarta; Dari Jakarta Kembali ke Jakarta!

_MG_6039

Mau pesta duren. Jangan lupa abis itu makan sate kambing dan minumnya bir!

Kenapa, ketika berada di tempat baru, kita selalu bilang,

“Enak ya tinggal di sini!”

“Enak ya tinggal di pesisir pantai!”

“Enak ya tinggal di pegunungan!”

“Enak ya tinggal di tempat dingin!”

“Enak ya tinggal di pulau terpencil!”

Apalagi coba. Yang pernah ke Iceland, pasti bilang, “Enak ya tinggal di Iceland!” atau yang pernah ke tempat baru, pasti pernah terbersit kalimat itu.

Seperti kata pepatah dari monyet yang bergelantungan di pohon, sesuatu yang indah atau pun enak itu bisa kita nikmati ketika hanya sesaat saja. Bener juga tuh monyet. Nonton kembang api juga bosen kalau kelamaan. Orgasme juga bosen dan cape kalau kelamaan. Coba saja orgame seharian non stop atau nonton kembang api semalam suntuk. Ledeh deh tuh mata.

Makanya, saya percaya pepatah monyet. Sesuatu yang indah itu memang sewajibnya hanya bersifat sementara, supaya kita selalu merindukan momen itu lagi. Sama halnya juga bepergian ke tempat –tempat baru, sudah selayaknya kita hanya diperkenankan mampir sejenak saja, lalu pergi dan kelak, jika alam semesta mengizinkan, kita akan kembali menikmati pemandangan yang kita rindukan. Entah pantai, entah gunung, entah desa atau pun kota.

Begitu pun kemampiran saya di Lampung. Bersifat sementara. Untuk bisa menikmatinya lagi dengan antusiasme yang sama kelak, kini saya harus merelakannya pergi, segera meninggalkannya. Jika ada waktunya, saya akan kembali.

Jadi, marilah kita pulang ke Jakarta.

Sebelum mampir ke toko oleh oleh YEN YEN, kita makan dulu di rumah makan murah meriah. Makan kenyang berempat cuma bayar 175 ribu!

Pulang ke Jakarta, di sepanjang jalanan, bagi yang doyan durian, bisa berhenti kapan saja, sebab segala ukuran dan harga durian memancing pemangsanya di setiap tenda-tenda durian pinggir kanan kiri jalan.

Doa saya, SEMOGA KETIGA TEMAN SAYA NGGAK TERGODA MAKAN DURIAN!

Namun, semesta berkata lain. Mereka tergoda juga makan durian. Bangke! Alamat bau durian dah. Tapi, beruntung, niat mereka membeli durian untuk dibawa ke Jakarta tidak jadi. Mereka makan di tempat sampai pada keliyengan. Tinggal minum bir aja tuh sama ditutup makan sate kambing.

Tiwaaasss!

Dan benar saja kan, sepanjang perjalanan, setiap kali sendawa, mobil pun dipenuhi BAU NAPAS DURIAN. Hoeeeeeks! Ampun dah ah! Nasib nggak doyan durian ya, disiksa bau durian aja rasanya udah kesel bingits!

Untuk meredam bau napas durian, saya ajak mereka ngopi. Tentu saja ngopi di tempat heits Lampung. Eh, susah ya nyari kedai kopi di Lampung. Datang ke dua tempat yang rekomen dari blogger banget, dua-duanya tutup. Lhaaa!? Gimana ceritanya ini, Lampung sebagai daerah terkenal penghasil kopi Robusta namun jarang banget ada kedai kopi, nggak kaya ke Pematang Siantar atau Aceh yah.

Karena kecewa sudah macet-macetan di Lampung demi menikmati kopi kedai kopi yang ternyata tutup, akhirnya kami memutuskan ambil jalan Trans Sumatra dan melesat menuju Bakauheni.

Mobil melaju dengan kecepatan tak terkira, menyalip truk, menyalip kontainer, menyalip bis, menyalip motor, menyalip penjual duren yang selalu ada lagi dan ada lagi, menyalip rumah, menyalip ratusan pohon, menyalip sepeda, warung dan orang-orang, lobang dihajar, tikungan ngepot, turunan digeber, tanjakkan digas abis-abisan sampai mentok, jalan lurus koprol-koprol dan akhirnya mendarat di kapal juga.

Kapal melaju dari Bakauheni menuju Jakarta. Kita pulang dengan aman, dengan perut kenyang dan pikiran senang.

Dan, ada cerita yang bisa diceritakan di blog dan untuk anak cucu kita kelak.

Sampai ketemu di KABUR DARI JAKARTA berikutnya!

Cau!

 

_MG_6037

Isi bensin di RM Ika. Enak dan murah.

_MG_6033

Ikan apaan ya lupa ini. Kayanya sih baronang ya. Atau kue. Sejenis dua itu.

_MG_6035

Nunggu makanan komplit. Abis itu kita gerak ala Piranha.

_MG_6042

Lanjut pada makan durian. Eeeeewww!

_MG_6045

Nih orang Jepang nih aneh juga ya, dia doyan makan duren.

20160207_182336

Goodnight. Have some rest!

“sonofmountmalang”

 

 

 

 

Kabur dari Jakarta; Menyusu(ri) Pulau Kelagian

 

 

 

_MG_5962

Salah satu spot! Plis, jangan buang sampah sembarangan di pulau, plisss! Yang di dekat sungai juga plissss jangan buang sampaahhh plisssss!

Kelagian, malamnya diguyur hujan, membuat kami khawatir, bangun-bangun di tenda, tendanya sudah berada di tengah lautan alias hanyut terbawa arus ombak. Tapi, ketika ditanyakan ke petugas, petugasnya jawab, “Ombaknya nggak pernah gede. Palingan sebentar lagi surut. Paling jauh sampe di situ,” petugas menunjuk ke batas ombak, yang jaraknya sekitar satu meter dari pintu tenda.

Baiklah!

Benar saja. Paginya tiba, airnya surut, menyisakan sisa-sisa sampah yang terbawa arus gelombang. Kemudian, kami membereskan tenda. Saat yang lain sibuk foto-foto di dermaga sambil ngopi dan nyemil, saya memisahkan diri, mencoba mencari sesuatu yang unik di Pulau Kelagian. Harusnya sih, Pulau Kelagian ini dijelajah sampai ke hutannya, cuma takut juga kalau nggak ada pemandu, tiba-tiba nanti menginjak ranjau dan sejenisnya, mampuslah saya. Dan, harusnya juga, di arah barat pulau ini, setelah dilihat-lihat dari Google Earth sih, di arah barat Pulau Kelagian ini ada spot sepi, pasir putih dan mungkin lebih bersih karena nggak dilewati arus laut yang dilewatin sungai isi sampah.

Namun, berhubung hari memiliki keterbatasan, sementara mobil terkunci belum diapa-apain, perut lapar karena semalam cuma makan Indomie dan siangnya mau jalan-jalan di kota Lampung untuk mencari kedai kopi enak!

Jadinya, saya cuma menyusuri pantai di sebelah kanan dermaga, yang sama sekali nggak ada penghuninya dan nggak ada yang berani main, plus juga di baliknya hanya ada belantara savana.

Saya luntang lantung sendirian. Pantainya lebih landai dari pantai di dekat dermaga. Cuma memang tidak diurus. Sampah dibiarkan berjejalan di perbatasan pasir dan daratan. Sampahnya pun banyak yang bukan sampah alami. Banyak sampah plastik. Sengaja saya tidak foto sih. Saya foto yang bagus-bagusnya saja.

Mungkin di pulau ini butuh tenaga ekstra untuk membersihkan sampah-sampah yang terbawa arus. Mungkin jangan hanya membayar 50 ribu per tenda. Mungkin membayar 200 ribu per tenda untuk uang lebih para pembersih ekstra. Mungkin tidak usah ada warung rombong supaya less sampah di pulaunya juga. Mungkin harus lebih disadarkan lagi bagi semua pengunjung untuk peduli lingkungan.

Mungkin.

Karena saya bawel, mungkin saatnya pulang, meninggalkan Pulau Kelagian yang sedang dibersihkan dari sampah-sampah oleh petugas yang jumlahnya hanya dua.

Semangat!

Selamat tinggal, Pulau Kelagian! See you when i see you!

 

_MG_6009

Bangun pagi, air sudah surut. Papan kayu yang hanyut pun sudah menjadi dari depan tenda. Petugas sudah membersihkan sampahnya dan pengunjung mulai main air. Saya masih kriyep-kriyep!

_MG_5879

Kasihan juga si bapak ini yah. Setiap hari membersihkan sampah di pantai demi pantainya tetap terlihat cantik. Ayo kita kasih uang ke si bapak ini.

_MG_5880

Semangaattttt!

_MG_5896

Sementara foto-foto dulu buat meregangkan otot-otot yang kram karena tidur berempat di satu tenda.

_MG_5921

Pagi aja masih mendung nih yaaaaa.

_MG_5980

Ini lokasi saya jalan-jalan sendirian.

_MG_5928

Asik juga bikin rumah pohon. Tinggal digigit gigit segambreng semu rangrang aja sih.

_MG_5956

Ombaknya pelaaaann banget.

_MG_5964

Naek pohon, nongkrong di sini sampe bosan.

_MG_6017

Bisa juga kemping di sini sih yah. Lebih enak kayanya.

_MG_5927

Kalau jalan ke ujung sana lagi, itu bisa juga, cuma waktunya nggak ada.

_MG_5943

Masih asriiiii bangetttt!

_MG_5975

Saya suka pantainya, cuma nggak suka sisa sampah plastiknya.

_MG_5945

Jalan-jalan setengah jam demi nyari spot foto bagus.

_MG_5930

Melewati pohon-pohon yang melintang di pantai.

_MG_6000

Tembus pandang yah.

_MG_5950

Mau deh dikasih pantai bagian ini. Akan saya urus deh habis-habisan. Ya kelessss!

_MG_6031

Tanpa basa basi lagi, dengan perut lapar, LETS GO BACK to Dermaga Ketapang.

 

Note:

Jangan percaya tukang foot

“sonofmountmalang”

Kabur dari Jakarta; Brokeback Beach di Pulau Kelagian

_MG_5865

Pemandangan langsung dari pintu tenda.

          “Masih ingat nggak, dialog apa di Brokeback Mountain saat di dalam tenda, yang membuat dua pria itu akhirnya begituan?”
          Lempar pertanyaan seorang teman yang batangan, seakan memancing kami yang semuanya batangan untuk menjawab, kemudian dia berharap, skandal Brokeback Mountain menjadi Brokeback Beach. Asli yah! Pertanyaan jebakan. Untung nggak ada yang hapal dialognya, dan kami terlepas dari jebakan. Ya keleesss ya empat batang pria kemudian tergoda main gila di tenda sempit. Jangan bayangin! Hahhaaha!
          Jangan bayangin yaaa!
          Lupakan!
          Lupakan!
          Eh, kok bayangin sih!
          Jangaaannnn!
          Hahahahha!
          Lupakan! Okeh! Cukup! Bakar tendaaaaaa!
          Jadi, setelah dari Pulau Pahawang, perahu diarahkan menuju Pulau Kelagian, kami berkenalan dengan penjaga Pulau Kelagian. Niatnya mau mendirikan tenda persis di pinggir pantai. Hanya berjarak dua meter dari siraman ombak pelan.
         “Kalau mau nenda, bayarnya 50 ribu. Pertenda. Bukan per orang. Kalau mau pake saung, bayarnya beda lagi. Itu bayar ke ibu-ibu di warung sana,” kata petugasnya yang sedang sibuk membersihkan sampah di pantai.
            Lima puluh ribu itu murah banget yah. Okehlah! Nggak masalah. Kami orang kaya raya. Ya, kalau kaya ke Maldives kelesssss! Tenda didirikan di bawah pohon, menghadap laut dan asiknya nggak begitu ramai. Cuma, sayang banget. Sayaaangggg banget! Pantainya banyak sampah. Padahal pantainya masih bagus. Ketika saya tanya ke petugas yang sibuk membersihkan sampah. Ia pun bercerita.
           Begini ceritanya.
         “Lagi musim hujan nih. Di sana ada sungai besar banget. Semua yang dibawa sungai, mampir juga di pulau ini. Arusnya melewati pulau ini. Apalagi kalau hujan besar, penuh sampah nih pantai.”
         “Wah! Sayang banget yah pak!”
         “Iya, sayang banget!”
          Kemudian kami berdua berpelukan. Sayang-sayangan. Moduussss. Hahahhaha!
          Ya, nggak begitu juga sih.
         “Ya udah pak, semangat ya! Saya mau bangun tenda.”
         Ia pun menunjuk lokasi untuk membangun tenda yang enak, di bawah pohon rindang.
          Setelah membangun tenda, saya pergi lagi ke sisi laut. Kembali melihat si bapak yang sibuk membersihkan sampah di sisi pantai. Mulai dari batangan kayu, segala jenis papan, buah kelapa, pelapah kelapa, pohon pisang, ranting, sekumpulan plastik dan sampah-sampah lainnya. Belum aja ada kasur, bantal dan sekalian aja mobil gitu, koper isi dolar atau cewek cantik ikutan ngambang. Itu pasti saya yang pertama membereskannya.
           Sebenarnya, jujur saja, saya lebih suka Pulau Kelagian. Cuma entah saya lagi sial atau bagaimana, ya rasanya ini sampah nggak habis-habisnya ya. Plus, kalau saya, lebih baik di pulau itu nggak ada gubuk-gubuk dan penjual indomi-indomian sama sekali. Saya lebih milih Pulau Kelagian yang bener-bener natural. Cuma karena tuntutan ekonomi sebagian warga, jadilah ada gubuk-gubuk warung Indomie, toilet umum. Itu sih okeh ya. Toilet wajib ada. Jangan sampai ada yang BAB di kebon atau gali pasir. Iuyyyyyyy!
           Jadi, kalau saya jadi pemkot sekitar, lebih baik itu pulau di biarkan alami. Lha!? Emang masih alami sih. Nggak ada rumah permanen. Semuanya gubuk. Tapi kan mendingan nggak usah ada gubuk sekalian. Kok gue yang ngatur yah!
           Tapi ya itu sih resikonya, kalau musim hujan, sampah bawaan dari sungai besar tidak bisa dihindari. Plus juga, Pulau Kelagian itu memang diperuntukan untuk LATIHAN MILITER, di mana para tentara bisa nembak-nembakan. Cieeeee!
           Jadinya, memang bukan wisata minded sih pulaunya. Alias wisata ala kadarnya. Kalau sampahnya sampah alami sih masih bisa diterima, cuma kalau udah ada plastik, pempers, botol, dan mungkin ada BH atau cangcut kalau mau nyari juga ada. Hahahaha!
           Udah dulu ya. Mau foto-foto!
20160207_091224_Richtone(HDR)
Dermaga di Pulau Kelagian. Terbuat dari papan pohon kelapa. Dermaganya sepi. Cocok untuk pacaran, curhat dan menatap masa depan.
20160207_091215_Richtone(HDR)
Pos jaga. Selamat datang di Pulau Kelagiaaaannnn!
_MG_5908
Santai dulu. Tuh kan, santai tapi batangan semua sih.
_MG_5828
Aslinya, pantainya bagus dan sampahnya itu kebanyakan sampah hasil sisa dari sungai besar.
_MG_5853
Karena mendung, sunset-nya pun nggak bagus.
IMG_7010
Di sini kita membangun tenda.
_MG_5835
Tuh kan banyak sampah ngambang.

 

 

_MG_5874

Hujan mulai turun.

_MG_5872
Siap-siap masuk tenda.
_MG_5858
Ini nih salah satu sampah yang hanyut. Kayu sebagong ini dan kalau bisa saya bawa nih buat bikin kursi atau meja. Sayangnya jauhhhh.
_MG_5867
Santai di dermaga sambil nunggu hujan deras beneran turun.

 

Note:

  1. Jangan lupa bawa alat snorkeling.

  2. Jangan lupa bawa tenda.

  3. Jangan lupa bawa autan.

  4. Jangan lupa bawa perlengkapan masak karena kalian cuma bisa makan Indomie dan mie sebangsanya doank di warung.

  5. Jangan lupa bawa perlengkapan bahan untuk dimasak.

  6. Jangan lupa bawa alat ngopi

  7. Jangan datang pas musim hujan. JANGAN! HARAM!

  8. Jangan lupa bawa lampu badai.

  9. Jangan lupa bawa senter.

  10. Jangan lupa bawa powerbank.

  11. Bayar nge-charge handphone lima ribu sampai penuh.

  12. Mandi bayar lima ribu/mandi.

  13. Kalau mau bakar-bakaran, jangan lupa bawa ikan sendiri.

  14. Jangan lupa bawa pasangan.

  15. Kalau ngga bawa pasangan, jangan sampai terjadi skandal Brokeback Beach!! Hahahhahaha!

  16. Sebisa mungkin jangan batangan semua kalau nenda. GARIIINGGG!! KERIINGG!

 

“sonofmountmalang”

Kabur dari Jakarta; Episode Berburu Paha di Paha(wang)

_MG_5754

Orang yang beruntung itu adalah orang yang pertama kali datang ke Pulau Pahawang saat belum ada siapa pun yang datang ke pulau ini atau pun ke pantai ini. Betewe, jangan percaya tukang foto ya, mereka selalu mengambil angle yang baik-baik ajah. Haks! Percayalah sama Tuhan! Amin. Lhaaa!

Sebelum menginjakkan kaki. Sebelum mencium laut. Sebelum menceburkan. Sebelum bersentuhan. Ada baiknya tahu sejarah di balik nama Pulau Pahawang. Menurut cerita Pak Agus, Pulau Pahawang berawal dari datangnya Ki Nokoda tahun 1.700-an yang diikuti oleh datangnya Hawang yang merupakan keturunan Cina. Hawang menetap di sebuah pulausampai memiliki seorang anak perempuan yang kerap kali dipanggil Pok Hawang. Kebiasaan memanggil Pok Hawang akhirnya menjadi nama pulau di mana Hawang menetap dengan sebutan Pahawang di tahun 1850-an.

Pahawang sendiri dibagi menjadi dua. Pahawang Kecil, yang sudah dimiliki oleh WNA dan tidak boleh memasuki kawasannya karena ya nggak boleh aja. Pahawang Besar itu dihuni oleh penduduk dan terdapat penginapan, tapi saya tidak menginap di Pulau Pahawang Besar. Saya ke Pahawang hanya untuk bermain air, snorkeling dan foto-foto underwater. Tapi, nggak bawa alat snorkeling, nggak bawa underwater casing buat DLSR, ya udah yah, KE LAUT AJAHHH!

Jadi, bisa ngapain aja di sini, di Pahawang ini, selain bisa melihat paha-paha supir kapal, paha-paha cowok dan paha-paha cewek? Kalian juga bisa melihat paha-paha ikan di balik karang, berenang, kejar-kejaran dan cinta-cintaan. Bisa juga banana boat-an. Saya? Bengong aja. Habis bingung mau ngapain. Soalnya ruameeeeeee! Jadi males ngapa-ngapain. Foto-foto aja ah. Demi laporan kalau saya sudah pernah ke Pahawang meskipun nggak jelas.

Plus, gegara kapal di Merak bangke itu, jadi telat juga main lebih pagi di Pahawang. Jadinya itu sudah kesorean dan sudah dipenuhi banyak orang. Airnya juga butek karena kebanyakan orang. Termasuk saya juga ikut-ikutan sih bikin butek pantai.

Dan, personally, tanpa menyinggung siapa pun, saya ternyata, pada kenyataannya, tidak begitu suka pantai yang padat merayap dan menjadi tujuan wisata utama rakyat banyak. Soookkkk!!!! Haahahahha! Bodo! Pantai sepi is the best! Yang setuju angkat ketek tinggi-tinggiiiiiii!

Akhirnya, manggil Pak Agus untuk lets go ke Pulau Kelagian.

_MG_5757

Ini karang atau kayu ayooo tebak ayoooo?

_MG_5751

Mati gaya gini kalau ga bawa alat lho pada.

_MG_5758

Rameeeeeee!

_MG_5759

Arependil.

_MG_5762

Heboh nemu bangke.

_MG_5771

Siap diperkosa jin laut.

_MG_5772

Hmmmm….! Mau nyebur?

_MG_5786

Begini nih akibat nggak bawa alat. Hahahah!

_MG_5799

Selamat datang di pulau lainnyaaaa!

Note:

  1. Kalau ke Pahawang, usahakan jangan pas long weekend.
  2. Sebisa mungkin hindari long weekend.
  3. Hindari ya long weekend.
  4. Datanglah pas musim kemarau.
  5. Datangnya jangan sore-sore.
  6. Jangan lupa bawa camera underwater.
  7. Jangan lupa bawa alat snorkeling.
  8. Jangan ngotorin PANTAI!

“sonofmountmalang”

 

Kabur dari Jakarta; Episode Kekebutan Bakauheni – Pantai Klara

20160206_142905

Satu-satunya perahu di Pantai Klara yang mau kita bawa kabur, tapi pemiliknya langsung mengejar kami. Haks!

Setelah Episode Insiden Merak, kapal pun akhirnya berlabuh di Pelabuhan Bakauheni. Jarum jam sudah menunjukkan pukul setengah sepuluhan. Hujan mengguyur pelabuhan. Cukup deras.
Mobil ngebut kesetanan di tengah guyuran hujan. Menyalip truk, menyalip bis, menyalip kontainer, menyalip mobil, menyalip motor dan angin pun disalip. Meliuk kanan, meliuk kiri. Guling-guling. Jungkir balik. Nyetir mobil kok kaya mainan di atas kasur.
Tiga jam perjalanan, akhirnya sampai juga di Dermaga Ketapang. Tapi, kami tidak masuk ke dermaga, kami melanjutkan ke Pantai Klara. Dermaga Ketapang terlihat ramai, penuh dan umpel-umpelan parkirnya.
Karena GO SHOW dan asal jalan saja, jadi pas di Pantai Klara nemu kapal kosong. Pas naik ke kapal, eh pemiliknya teriak-teriak panik. Kirain nggak ada pemiliknya. Ya udah, sekalian aja nanya harga nyeberang ke Pahawang.
            “Mau pakai perahu ini, pak.”
            “Mau ke mana?”
            “Keliling pulau, pak.” Padahal jam sudah menunjukkan setengah empat sore.
            “500 ribu ya.” kata si bapak pede banget.
            “Kita mau keliling pulau, kemping di Pulau Kelagian, terus besoknya minta dijemput lagi.”
            “Oh, 500 ribu nggak bisa.”
            “Ya, udah berapa? Uang nggak masalah, pak. Kami orang kaya.” Hahahaha! EEK!
            “900 ribu.”
            “Yakin, pak? Segitu doank?”
            “Iya, nggak bisa kurang.”
            “Kalau beli perahunya aja berapa pak?”
            “25 jutaan.”
            “Okeh! Saya sewa aja.”
Akhirnya, kami berempat sewa perahu PAK AGUS, begitu namanya pas saya kenalan.
Sebelum semua barang masuk perahu, Pak Agus bilang, mobil jangan diparkir di Pantai Klara. Soalnya nggak ada yang jaga. Mobil ditaroh di halaman rumahnya, yang lokasinya di Dermaga Ketapang.
Tidak lama kemudian terjadi kehebohan. Setelah mobilnya dibawa ke halaman rumah Pak Agus, mobilnya nggak sengaja kekunci dari dalam. Hahahahah! Gilak! Bijimana bisa, mobil jaman gini kekunci dari dalam. Mobil yang aneh.
Sibuk nelepon bengkel, eh pada jauh yah. Sekitar 30 KM-an dan ya udahlah, pikirin besok aja itu mobilnya. Sementara kita peperahuan di pulau dulu. Pas mau naik perahu, baru ingat nggak bawa alat snorkeling. Pas mau sewa alatnya, eh sudah habissssss. Hahahhaha! Eeklah! Terus kita ini kaya Deni Manusia Ikan. Nyelam bebas. Ya kelessss! Kita bisa.
Ya udah, namanya juga go show. Liat nanti saja gimana jadinya. Yang penting sampai dulu ke tujuan. Perkara di tujuan mau ngapain, itu urusan belakangan. Seru kannn!??!!
Let’s GOH kita ke Pahawang!
Ayo, pak AGUS! Genjot perahunyaaaa! Jangan kasih ampuunnn!
20160206_142925

Menatap masa depan, CEKREK!

20160206_142942

Menatap masa suram, CEKREK!

_MG_5734

Ini lho ketiga teman GO SHOW saya. Yang depan itu emak-emak aslinya. Yang di tengah itu Matsuke Sinaga asli kelahiran Tokyo. Bahasa Indonesianya masih terbata-bata. Yang di belakang itu KOMIKUS yang gagal nyaingin Raditya Dika.

_MG_5735

Berasa naik kapal Titanic nggak sihhhh! Tinggal nunggu Rose aja. Berhubung batangan semua, kecuali emak-emak itu, ya gagal Titanicanlah.

_MG_5738

Backpacker bener gayanya!

_MG_5744

Itu pulaunya sudah kelihatan. Siap-siap! Siapkan peralatan snorkeling! Lhaaa! Pan nggak bawaaa!

_MG_5745

Gilak nih emak emak satu ini, berani lho dia berdiri di anjungan kapal. Padahal Pak Agus ngebut banget.

_MG_5806

Kayanya mereka pacaran ya.

_MG_5810

Iklan Emeron banget nggak sihhhhh!

_MG_6025

Bosen nih di laut ga sampe-sampe!

_MG_6029

Yes! Udah mau sampai di Pulau Pahawang.

Note:

  1. Kalau mau ke Pahawang, sewa kapal di Dermaga Ketapang
  2. Kalau bisa nawar, ya tawar
  3. Kalau kasihan, nggak usah nawar
  4. Jangan lupa sewa alat snorkeling
  5. Jangan lupa bawa cemilan
  6. Jangan lupa bawa minuman
  7. Jangan lupa booking kapal jauh-jauh hari, kecuali punya kapal sendiri

“sonofmountmalang”