Hoverdomeh! Hitamnya Jumat Malam

Hoverdomeh! Hitamnya Jumat Malam

 

 

Seandainya saja malam ini ada wanita memakai parfum aroma kopi sekuat Aceh Gayo ini, saya tidak segan-segan menuangkannya ke dalam cangkir. Meminumnya sampai tak bersisa.

Puas!

Itu hanyalah lamunan ngawur sesaat setelah pesanan secangkir kopi Aceh Gayo tiba di meja. Warna hitamnya sepekat malam. Aroma tajam sebilah samurai Jepang, terbungkus rindu pada seseorang.

Hmmm…

Kalau ia masih hidup, saya akan membawanya ke Jakarta. Mengajaknya duduk berdua di sudut kafe. Berbincang santai tentang pengalaman hidupnya semasa penjajahan Belanda. Saya tidak pernah bosan mendengarkan cerita perang sambil menyeruput kopi panas.

Seru!

Sayangnya, ia sudah meninggal belasan tahun lalu. Lebih sayangnya lagi, saat meninggalnya, saya tidak hadir. Saya dapat kabar tiga hari setelah beliau dikuburkan.

Saya pun berduka. Puasa kopi selama tujuh hari.

~

Dialah seorang nenek bergaya nyentrik. Perokok daun kawung, penyirih ulung plus pembuat kopi sejati! Dia adalah nenek saya. Si pemilik kebon kopi seluas kurang lebih setengah hektar. Kopi ini lebih tua dari usia nenek saya.

Kebon kopi dipelihara turun temurun. Diwariskan dari generasi ke generasi sejak jaman Belanda menjajah Indonesia. Saking tuanya, pohon kopi itu ukurannya sebesar paha orang dewasa, bahkan mungkin lebih besar. Tingginya bisa mencapai 10 meter. Satu pohon terdiri dari puluhan cabang ukuran besar. Cabang-cabang itu sudah melebar kemana-mana. Batangnya kuat dan lentur. Bisa dijadikan tempat ayunan. Bisa juga untuk bermain monyet-monyetan. Loncat dari satu batang ke batang lain.

Asik ‘kan?!

Lebih seru ketika panen tiba. Saat biji kopi sudah memerah, kami sekeluarga sibuk memanen kopi. Tidak seperti kopi jaman modern sekarang ini, pohon kopinya pendek-pendek. Memanennya cukup berdiri sudah bisa meraih biji kopi. Jaman itu, memanen kopi harus menggunakan tangga bambu atau pengait untuk menarik dahan penuh biji kopi.

Hasil panenan kopi dimasukkan ke dalam kerangjang bambu. Bosan mempreteli biji kopi dari batangnya? Gampang. Biasanya saya duduk di samping keranjang bambu. Memilih biji kopi paling besar dan merah. Dengan santai saya mengunyah kulitnya. Rasanya manis-manis canggung.

Itu tidak bertahan lama. Orang-orang mulai berteriak.

Jangan dimakan, katanya. Nanti berubah jadi Careuh!

Saya langsung kembali menaruh biji kopi ke kerangjang. Melepehkan kulitnya.

Serem ah nanti berubah jadi musang.

Musang dalam bahasa Indonesia atau Careuh dalam bahasa Sunda itu salah satu musuh bebuyutan nenek.

Setiap malam, ketika kopi-kopi itu sudah mulai memerah, nenek meronda ke tengah kebun kopi. Dia membawa obor bambu, ketapel plus sekantong batu untuk senjatanya. Agar tidak merasa kesepian, dia selalu mengajak saya untuk ikut mengusir musang. Satu-satunya hewan paling dibenci semasa hidupnya.

Setiap melihat musang di pohon kopi, dia selalu ngumpat keras-keras sambil melesatkan batu dari ketapelnya.

“Hoverdomeh!!!” umpatnya.

Awalnya saya tidak tahu apa artinya. Lama-lama penasaran dengan artinya. Saya pun bertanya. Dia bilang, artinya kurang lebih “sialan”, “kurang ajar”, “bedebah” dan sejenis umpatan  lainnya sebagai ungkapan rasa kesal.

“Careuh! Hoverdomeh!!!”

“Hush! Masih kecil. Nggak boleh ngucapin itu.”

Saya langsung diam. Berjalan pelan mengintip musang di dahan kopi.

Nenek sudah kesal, dia sering menggunakan golok untuk melempar musang atau menggunakan jerat terbuat dari tambang.

Musang yang terjerat atau pun terkena sambitan golok dijadikan santapan lezat. Nyam! Nyam!

~

Daging musang, menurut saya, merupakan salah satu daging terenak pada jamannya. Dagingnya juicy, gurih serta empuk. Lidah terasa meleleh dibuatnya.

Sangat lezat!

Saat itu, saya, atau pun nenek, tidak tahu sama sekali soal Kopi Luwak. Coba pengetahuan tentang Kopi Luwak masuk kampung sewaktu dia masih hidup, pasti musang itu tidak akan diburu atau pun dimakan.

Tapi, tidak semua musang diburu. Hanya beberapa saja dari mereka yang diburu. Beberapa dibiarkan menikmati kopi.

Kenapa ya?

Ternyata, selidik punya selidik, musang itu selain merugikan, ada menguntungkannya juga. Dia berperan menyebarkan benih kopi. Jadi, nenek tidak perlu bersusah payah memilah biji kopi untuk benih. Kotoran musang sudah bisa dipastikan akan menghasilkan benih kopi terbaik.

~

Dia, nenek saya, pembuat kopi terbaik. Darinyalah saya mengenal kopi. Dicekoki kopi juga olehnya. Dia selalu menunjukkan dan melibatkan saya bagaimana cara membuat kopi.

Pertama dia merendam kopi. Setelah direndam barang sejam, bijo kopi dimasukkan ke tempat menumbuk. Dia menumbuk kopi untuk melepaskan kulit dari biji. Biasanya dilakukan sambil menembang. Katanya, biar kulit kopi lepas dengan cepat.

Biji kopi yang sudah terpisah dari kulitnya di jemur di bawah semprotan matahari. Biasanya dia lakukan berhari-hari. Sampai biji kopi betul-betul kering. Tahap selanjutnya, biji kopi kering dimasukan ke dalam wajan raksasa untuk disangrai.

Nenek seringkali mengeluarkan air mata saat menyangrai. Bukan karena ia sedih, melainkan asap dari kayu kabar. Membuat matanya pedih. Belum ada gas saat itu. Eh, jangankan gas, listrik saja belum ada.

Berhubung dia sudah biasa dengan kepulan asap, ia terus menyangrai kopi sampai wanginya tercium oleh orang sekampung.

Hmmm….!

Mencium wanginya saja sudah nikmat. Apalagi menyeduhnya.

Bisa dibayangkan, bukan?

Acara menyangrai sudah selesai. Saatnya menumbuk biji kopi sampai halus. Untuk mendapatkan tekstur kopi halus, nenek menyaringnya. Sisa penyaringan kembali ditumbuk. Sampai tak ada sisa sedikit pun.

Biji kopi pun berubah menjadi kopi tumbuk. Halus. Segar. Tanpa campuran apa pun. Murni kopi.

Langkah selanjutnya, nenek memanaskan teko di atas perapian. Ia membiarkan air berjelok menguap. Lalu memasukan kopi ke dalamnya.

Tugas saya membawa cangkir dari tanah liat, gula merah, gula putih dan singkong kukus ke bale-bale.

Inilah saat-saat yang paling ditunggu. Menikmati segarnya kopi panas dan singkong rebus sambil mendengarkannya bercerita.

~

Hoverdomeh! Umpatnya dengan intonasi khas Belanda Sunda.

Satu kali ia bercerita ketika tentara Belanda datang ke kampung halaman dengan tank bajanya. Walana gila, katanya. Walana sebutan untuk Belanda.

Belanda itu secara membabi buta menebaki kampung dengan senjata dan martil. Martil sebutan untuk bom lontar. Mungkin lebih tepatnya bom lontar kali ya. Dia menunjuk bom martil yang sudah tidak aktif di gantung di dinding rumah.

Mendengar Belanda datang, nenek dan keluarganya langsung lari ke hutan. Di hutan, Walana itu masih tetap mencari penduduk kampung. Caranya menembak sembarang tempat, lempar granat dan lempar bom martil sesuka hati. Sampai ada satu warga kampung sakit berbulan-bulan. Trauma gara-gara dikejar bom martil. Padahal tidak ada yang mengenainya.

Banyak cerita darinya setiap kali ngopi bersama di bale-bale rumah. Hoverdomeh selalu menjadi andalan umpatannya. Sebenarnya, banyak kosakata Belanda lainnya yang ia tahu. Tapi, dari semua bahasanya, hanya satu yang selalu saya ingat sampai sekarang.

Hoverdomeh!

Itulah yang saya tahu.

“Hoverdomeh, Nek!! Kopi Aceh ini sangat nikmat. Tapi, masih kalah nikmat dengan kopi buatanmu.”

Saya menyeruput panasnya kopi di cangkir.

Mari ngopi, Nek!

Semoga di surga sana disajikan kopi terbaik buatan malaikat Tuhan.

 

sonofmountmalang

25032011, anomalicoffee

 

 

 

Advertisements

Any comments, please....

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s