4.30 pm. Sunday. 27.05.2012. West Jakarta. Indonesia.
“sonofmountmalang”
Aceh Gayo. Aceh Tengah. Berada di dataran tinggi dengan udara sejuknya, merupakan salah satu penghasil kopi terbaik dunia. Wangi kopinya sangat khas nyegrak enak dihidung dan nampol di mulut. Namun, itu semua, katanya, tergantung roasting. Itu kata seorang yang bekerja di Quintino’s beberapa tahun lalu ketika ada Coffee Mania Festival di Jalan Wijaya (Sekarang kemana tuh ya). Di sana saya sempat berbincang cukup lama dengan ibu-ibu, yang menguasai wilayah-wilayah kopi di seluruh Indonesia.
Sebelum bicara soal roasting, saya memulai dengan satu pertanyaan sederhana. Ini pertanyaan orang kere sih tepatnya. Waktu itu saya nanya,”Kenapa kopi-kopi ini mahal sekali? Padahal kalau beli di desa, dengan harga segini, saya bisa dapat setengah sampai sekarung mungkin ya.”
Dia pun bercerita sejarah kopinya kenapa bisa mahal. Katanya, kopi yang sekarung tadi, hanya akan menghasilkan sekian persen saja biji kopi paling berkualitas. Biasanya dibagi menjadi kelas. Kelas satu, kelas dua, kelas tiga dan kelas sampah. Di sini, dia bicara soal kopi kelas satu. Itu biji-biji pilihan. Biji-biji tersebut dikeringkan. Kemudian diolah menggunakan teknologi canggih. Khusus Quintino’s, dia menggunakan teknik roasting Italia. Itu salah satu teknik roasting yang bisa menghasilkan kopi berkulitas super, sehingga rasa dan aromanya keluar dengan baik. Dan sudah bisa dipastikan, setiap teknik roasting akan menghasilkan kualitas dan aroma kopi yang berbeda.
Waktu itu, dia bercerita, biji kopi berkualitas itu di-roasting-nya di Italia. Di-pack kembali dan diberi harga tinggi. Itu sebabnya, kenapa kopi ini menjadi mahal. Tidak hanya Quintino’s, dia menunjuk ke stand-stand kopi lainnya, mereka juga menjual kopinya dengan harga mahal. Karena biji kopi yang dipilih memang biji pilihan dan pengolahannya pun membutuhkan teknik tersendiri. Itu salah satu teknik yang belum dimiliki oleh para petani. Kalau mereka mengerti tekniknya dengan baik, mereka bisa menjual kopi dengan harga tinggi. Sudah ada beberapa petani yang aware, tapi banyak juga yang tidak. Mereka tahunya menjual biji kopi hasil panen saja. Tapi sekarang, sudah banyak institusi yang memberikan pendidikan kepada petani cara menghasilkan kopi yang baik dan sebagainya. Supaya nilai jualnya pun lebih baik. Lanjutnya.
Pertanyaan saya berlanjut ke soal kopi instan. Saya bertanya itu kopinya dari kopi kualitas berapa? Dia bercerita lagi. Katanya, kopi-kopi instan itu hasil dari penyaringan biji kopi. Itu kopi kualitas paling akhir, bisa dibilang itu ampasnya biji kopi. Dijual dengan harga super murah. Mereka mengolahnya, memberi nama brand dan beriklan. Keuntungannya jauh berlipat-lipat dibandingkan dengan dia menjual kopi berkualitas atau kelas satu.
Ohhhhhh! Saya angguk-angguk kepala sok ngerti. Tidak heran juga ya Starbucks menjual kopi Indonesianya dengan harga tinggi. Karena memang itulah biji kopi kualitas terbaik yang dijual.
Dan ini, salah satu kopi ASLI INDONESIA, Aceh Gayo. Mari, duduk di balkon, di samping jendela atau dimana saja sambil menunggu mendung Jakarta berubah menjadi hujan, lalu kita minum secangkir kopi hangat, kita berbincang ringan.
Selamat ngopi-ngopi!
Note: Thanks to my Executive Creative Director which is always providing the highest quality coffee in the office.
“sonofmountmalang”
Jika Anda tersesat di Cibubur dengan perut keroncongan, tenang saja. Di sepanjang jalan Cibubur berjajar segala jenis makanan. Dengan rasa dan harga sesuai dompet. Dari Seadfood sampai Hanamasa. Dari makanan Aceh sampai Betawi. Dari Junkfood sampai yang seger-seger. Bebas mau pilih makanan apa.
Sebagai perkenalan, ada restoran apa saja di Cibubur, ini saya berikan satu restoran yang penuh dengan pengunjung. Tempat parkirnya luas, tempat makannya luas, menunya pun bisa dibilang komplit.
Ini tempat makan seafood. Namanya Pondok Kemangi. Letaknya di Jalan Raya Alternatif Cibubur arah Cileungsi.
Tempat ini ramai karena luas, bersih, nyaman untuk keluarga dan tentu saja harganya cukup murah. Seratus ribu rupiahan berdua sudah kenyang diisi Cumi Goreng Tepung, Kerang Bambu, Genjer, Pepes Jamur, Nasi, Cendol dan Teh Tawar. Murah kan.
Ini hanya satu dari sederetan restoran di sepanjang jalan Cibubur. Masih banyak restoran lainnya. Kesempatan berikutnya saya akan riview restoran lainnya demi memudahkan para pemangsa makanan enak, dan juga supaya tidak terjerumus ke restoran supermahal dengan makanan yang superbiasa saja. Otreh!
Selamat berburu makanan!
“sonofmountmalang”
Maybe God was falling in love, so He painted the sky with pink color.
My homeland, Cimanggis-Depok. Indonesia
“sonofmountmalang”
Rabindranath Tagore whispered to me a minute ago, “Clouds come floating into my life, no longer to carry rain or usher storm, but to add color to my sunset sky.”
“sonofmountmalang”
Selama manusia butuh makanan, maka jual makanan apa pun, pasti laku. Dengan catatan, makanannya enak, murah, unik dan sudah dikenal, entah dari bibir ke bibir, mulut ke mulut, kuping ke kuping, iklan, sosial media dan apa saja.
Contohnya, NASI GORENG KAMBING KEBON SIRIH. Dia pastinya tidak beriklan. Beritanya dari mulut ke mulut atau word of mouth, yang cenderung memiliki dampak lebih powerful dibandingkan dengan spot iklan di prime time seharga puluhan atau ratusan juta sekali tayang.
Itu hanya satu contoh saja. Lainnya, masih banyak makanan diserbu karena rasanya, pedasnya, bedanya, namanya, penjualnya, tampilannya, cara penyajiannya, ukurannya, bentuknya dan segala jenis cara dipikirkan supaya mata-mata kelaparan itu tertarik dan melahap sampai perut melendung, kenyang!
Dan, kalau kamu-kamu mau memelendungkan perut, yuk jajan-jalan di acara tahunan La Piazza, Kelapa Gading, dengan acara bernama “Kampoeng Tempo Doeloe.”
Di sini kamu bisa menikmati segala jenis jajanan seru mengenyangkan diiringi musik dari panggung dengan seting bangunan Fatahillah. Ada Sate Padang Mak Sukur, Bakso Gun, Risol Setan, Bebek Kaleyo, Kerak Telor Betawi dan segambreng makanan lainnya. Dan, yang tak kalah serunya adalah Nasi Kucing Sambel Gledek. Ini satu-satunya stand makanan yang di depannya dipasang garis antri. Bukan untuk keren-kerenan sih, tapi stand ini memang paling panjang antriannya dibandingkan dengan stand lain. Mereka rupanya rela ngantri untuk bisa disamber Nasi Kucing Sambel Gledek. Rasanya pedasnya melecut ke ubun-ubun dengan segala jenis sate yang siap membuat mulut sibuk mengunyah. Jadi, laper yah. Werrrrrrr!
Ya, sudah. Daripada banyak obrol dengan perut kerontang, yuk mari makan segala jenis jajanan Kampoeng Tempo Doeloe.
Selamat berburu makanan enak, sodara-sodara!
Seting panggung berupa musium Fatahillah. Berasa makan di pelataran Fatahillah, dengan musik meriah ala Spanyolan, Meksikoan dan segala jenis genre dimainkan.
Buat yang dompetnya lebih tebal dari rata-rata manusia, tersedia Wine & Cheese. Bisa icip-icip wine dan borong berbotol-botol wine buat melampiaskan nafsu nge-wine.
Tinggal pilih mau makan apa, atau mau mencoba semuanya. Silaken!
Salah satu stand makanan yang namanya diambil dari musuh bebuyutan malaikat. Dialah RISOL SETAN! Sekarang, kayanya ya, nama-nama berbau jahilihay lebih menantang untuk dicicipi. Besok-besok pasti bakalan nemu makanan “bla bla IBLIS, bla bla DAJAL, bla bla bla sejenisnya.”
Nah, ini nih. Stand idaman yang pemiliknya seorang Creative Director andal di Bates Indonesia, @panggilajaoni. Ini satu-satunya stand yang menggunakan garis pembatas untuk mengantri. Antrian paling banyak. Hebring!
Nah, ini di balik dapurnya stand. Mereka sibuk dengan tugasnya masing-masing. Lihatlah, CD (mengangkat nasi bungkus) ternama sedang membungkus nasi dari jam 11 pagi sampai jam 11 malam. Salut dan sukses buat NASI KUCING SAMBAL GLEDEK!
Antrian selanjutnya jatuh ke KERAK TELOR BETAWI. Ini juga ramai. Lihatlah wajah-wajah memelas kelaparan:p.
Pemanggangan KERAK TELOR. Wanginya sih menggoda. Sayang, antrinya bikin malas.
“sonofmountmalang”
“sonofmountmalang”
Sebuah pertanyaan sederhana. Kapan terakhir kalian ke perpustakaan? Buku apa yang tidak pernah kalian kembalikan. Boleh berbagi di ujung tulisan ini yah. Sebelum menuliskannya, boleh saya memberikan intro sedikit tentang pengalaman di perpustakaan dan buku apa yang pernah saya embat.
Sewaktu kuliah di UI, saya termasuk yang rajin meminjam buku di perpus. Nyaris setiap minggu meminjam buku. Bukan di perpus FISIP, melainkan di perpus SASTRA dan perpus pusat. Malas kalau pinjam buku di perpus FISIP. Kejudesan bikin mata berasa dicolok-colok bara. Sementara petugas perpus SASTRA itu ramah dan gampangan sepertinya. Plus, waktu itu, karena saya gagal jadi anak SASTRA, saya masih tergila-gila dengan sastra dan mencoba merasakan aura sastra UI. Itu sudah cukup membuat luka di batin sebesar lubang buaya karena gagal masuk sastra sedikit terobati. #segitunya yah!
Di perpus SASTRA UI ini, banyak sekali buku-buku sastra bagus dari penjuru dunia. Dan dari situ jugalah saya belajar dan mengenal HAIKU. Suwenya, saya tidak pernah sukses menulis HAIKU. Tidak berbakat!
Selain belajar HAIKU, saya bisa membaca sastra Korea Selatan, Jepang, Rusia, Melayu dan sastra dunia lainnya. Bisa dibilang perpus sastra UI surganya buku-buku sastra. Ya iyalah! Dari sastra jadul sampai modern. Cukup komplit! Ngiler pengen ngembat!
Dan lugunya, saya tidak berani mengembat satu pun buku sastra di perpus UI. Keluguan yah. Padahal, teman saya, anak SASTRA RUSIA, sudah mengincar banyak buku yang bakalan diembat pas mau lulus nanti. Wah, tahu gitu saya ngembat sebanyak-banyaknya. Penyesalan datang tidak pernah di depan yah. Hihihihi!
Perpus SASTRA UI pun selamat dari embatan saya, begitu juga dengan perpus pusat. Di sana saya lebih tidak berani macam-macam. Jadi, lebih baik dikembalikan tepat waktu.
Saya punya pengalaman buruk dengan pengembalian buku telat waktunya. Satu sekolahan heboh, poster wajah saya ada di depan pintu perpustakaan sekolah, di kantin dan di mading. Tulisannya,”DICARI! MURID INI HARAP SEGERA MENGEMBALIKAN BUKU KE PERPUS. SUDAH TIGA BULAN TIDAK DIKEMBALIKAN. KALAU BESOK TIDAK DIKEMBALIKAN, DENDA DUA KALI LIPAT SETIAP HARINYA!”
Sejak itu, saya selalu tepat waktu mengembalikan buku di perpus mana pun. Dan hanya satu perpus yang kena korban. Dialah perpus Universitas Indonesia Esa Unggul. Saya masuk ke perpus itu bersama teman yang kuliah di sana. Buku yang saya tidak kembalikan itu tentang filsafat ekonomi. Satu-satunya buku perpus yang saya embat sampai detik ini.
Itu terjadi semasa saya masih kuliah. Keluar masuk perpus karena tidak mampu membeli buku. Miskin banget yah!
Bagaimana setelah kerja? Masihkah menikmati momen senderan di samping rak buku, duduk di lantai perpus atau serius membaca di meja, atau pura-pura mencari buku di setiap rak dengan mata tetap waspada melihat kali-kali ada gadis lugu super cantik minta bantuan dicariin buku. Kali lho ya.
Jujur saja, saya sudah bisa dibilang tidak pernah ke perpustakaan. Eh, kecuali perpustakaan satu ini.
Ini perpustakaan beda dari yang lain. Ini perpustakaan MATARI ADVERTISING. Pendirinya, tentu saja, Pak Ken Soedarto. Salah satu tokoh, dan bisa dibilang, BAPAKNYA PERIKLANAN INDONESIA! Boleh ya disebut demikian. Di perpus ini, rupanya, koleksi bukunya cukup banyak dan jenisnya pun cukup beragam. Mulai dari sastra, periklanan, copywriting, design, film, lukisan, kopi, wine dan dibutuhkan waktu beberapa tahun untuk membaca semua buku di perpustakaannya. Ini salah satu gudangnya ilmu! Sayangnya di jaman digital seperti sekarang ini, perpus sudah banyak dilupakan. Saking dilupakannya sampai-sampai, saya tidak menyadari, bahwa di perpustkaan MATARI ini pernah bekerja seorang istri Menteri Koordinator Perekonomi, Dorodjatun Kuntjoro-Jakti, yaitu Emiwaty Kuntjoro-Jakti, pustkawan andal pada jamannya. Itu sebelum Dorodjatun Kuntjoro-Jakti menjadi menteri, katanya. Pak Ken sengaja meng-hire Emiwaty Kuntjoro-Jakti untuk membereskan masalah perpustakaan di Matari dan Emiwaty menjadi kepala perpus pada saat itu. Kata penjaga perpus masa kini, Marcus, itu terjadi sejak sekitar tahun 76-an.
Jadi, usia perpustakaan ini sudah 40 tahunan. Sangat tua sekali yah. Kalau orang, ini sudah mulai bengek napasnya, dan sedikit sepuh.
Saya menarik napas, menghirup dalam-dalam bau buku usang di perpus ini. Tidak menyangka, sebegitu seriusnya seorang Ken mendirikan perpus di dalam kantor agency, sampai meng-hire seorang pustkawan. Merinding jadinya bulu-bulu di tubuh saya.
Sambil mengajak Pak Marcus ini, saya memotret beberapa koleksi bukunya sekalian ingin tahu siapa yang terakhir meminjam. Mari dilihat-lihat, tapi jangan diembat yah. Kasihan koleksinya sudah eyang semua.
Bagaimana? Menarik yah. Jadi, masih ingat buku apa yang kalian embat di perpus? Ayo, buku apa ayo…
Silakan dipantau foto-fotonya ya…:)
Perpustakaan Matari dikepalai librarian kawakan, Emiwaty Kuntjoro-Jakti. Foto ini diambil pada tahun 80′an. Saat itu Matari masih berkantor di Slipi. Jalan S Parman No. 78.
Yes! Di sini ada buku REPELITA dan lihat kapan terakhir kali dipinjam. 13 Sep 1994. 

Ini salah satu yang cukup berat, dan yang meminjam terakhir itu tahun 1990.

Buku yang isinya sangat menarik untuk dibaca. Sayangnya, tidak pernah ada yang minjam dan buku ini masih sangat bagus. Itu salah satu pertanda bahwa buku ini memang tidak dan jarang dipegang atau dibuka. Kasihan nih buku:p
Buku ini salah satu buku yang cukup banyak dipinjam. Lihat saja list peminjam dan tahunnya. Terakhir dipinjam tahun 1987. Tahun itu saya belum lahir kali ya. Haha!
Kata penjaga perpustakaan, ini buku paling tebal. Memang! Ini buku yang sangat tebal. Ketiban buku ini bisa menyebabkan kematian.
Ini buku paling besar di perpustkaan Matari.
Markus, penjaga perpustakaan Matari.
Selamat mengunjungi kembali di perpustkaan kesukaan kalian yah!
“sonofmountmalang”