Nongkrong Bareng Ranting di Phoenam

saya dan sahabat mungil

saya dan sahabat mungil

Sahabat saya yang mungil, Virgillyan Ranting Areythuza, selalu memiliki antusiasme tinggi jika diajak nongkrong. Apalagi kalau sudah disodorkan cangkir. Apa pun isinya, pasti akan dia rebut dan secepat kilat dia dekatkan ke mulutnya yang sudah ia monyongkan. Ia pun siap menyeruput isi cangkir. Memberikannya ruang untuk sekedar menikmati sensasi berupa jejilatan gregetan di bibir cangkir, membuat saya tidak tega dan ingin memberikan semuanya.

Karena usianya masih bulanan, jadinya jilatan-jilatan saja ya, Ranting. Haks!

pegang erat erat

pegang erat erat

pose dulu

pose dulu

pose lagi

pose lagi

pegang pegang

pegang pegang

langsung ditarik ke mulutnya

langsung ditarik ke mulutnya

masih penasaran dengan cangkir kopi

masih penasaran dengan cangkir kopi

 

“sonofmountmalang”

Pacar baru yang menggemaskan

long black & ice cream. pacar baru saya yang menggemaskan di @toodzhouse

long black & ice cream. pacar baru saya yang menggemaskan di @toodzhouse

Saya ingin memacari ice cream yang dicelupkan ke dalam double espresso di siang bolong ketika matahari sedang asik memuntahkan cahayanya ke Jakarta kota.

Hanya sebegitulah ekspresi kalimat yang mampu tertuang ketika saya mulai keranjingan dua jenis ‘mahluk’ paling seksi. Entah saya yang terlalu berlebih atau memang rasanya, atau karena udara Jakarta ini yang selalu menyeret kaki saya untuk menemui pacar baru, paling menggemaskan.

Semenjak pindah kantor ke daerah Cipete Raya, rutinitas menikmati ice cream dan choco lava bersamaan dengan longblack atau double espresso, seolah sudah menjadi sebuah kewajiban yang nagih. Berbahaya memang berpacaran dengannya, bagi kelangsungan dompet dan perut buncit, tetapi juga sangat menyenangkan bisa menyatukannya di dalam cangkir kecil dan memanjakannya di mulut.

Di mana kah kemudian jika kalian pun ingin melakukan hal yang sama? Berpacaran dengan choco lava? Di Toodz House Cafe tepatnya. Tempat di mana kalian juga bisa melihat abg abg lucu semi dewasa bergerombol, sepasang saling suap-suapan atau cukup duduk sendiri saja, tanpa memedulikan orang-orang dan fokus menikmati pacaran dengan makanan sampai lupa daratan.

Bagaimana? Ingin memiliki pacar baru yang begitu menggemaskan? Cobalah jika mau, setidaknya, jika tidak punya pacar, ya setidaknya, kalian bisa berpacaran dengan makanan dan bebas menjilatinya sampai puas.

Dia ini kaya perempuan sexy dengan rok pendek dan belahan dada kemana mana. Bikin nagih. Kacau lo @toodzhouse

dia ini kaya perempuan sexy dengan rok pendek dan belahan dada kemana mana. bikin nagih. Kacau lo @toodzhouse

Ini double espresso. Akan menjadi sangat sensual jika dicelupkan ke dalamnya satu scope es krim coklat. Sekali lagi, dosa @toodzhouse itu bikin gendut orang:((

ini double espresso. akan menjadi sangat sensual jika dicelupkan ke dalamnya satu scope es krim coklat. sekali lagi, dosa @toodzhouse itu bikin gendut orang:((

Selamat pacaran!

“sonofmountmalang”

 

Apa yang saya lakukan ketika tidak bisa berbuat banyak dengan blog karena waktu semakin menyempit dan gerak semakin tidak leluasa, adalah mengeksplor mahluk paling lucu di dunia saya, dialah Ranting. Sudah banyak tetesan kopi yang dia resapi dan kali ini saya memberinya sensasi baru, yaitu ngopi langsung dari cup-nya.

Ekspresi bahagianya tidak terbayarkan oleh apa pun. Sayangnya, dia tidak bisa menikmati kopi sebanyak yang dia mau. Hanya jilatan-jilatan heboh saja.

Tunggu lebih besar lagi ya, Ranting. Sementara puas-puasin ASI dulu. Haks!

 

“sonofmountmalang”

 

Ngopi Bareng Ranting

Nyanyian Cinta Tonggeret

A cicada shell; it sang itself     utterly away. Haiku-Matsuo Basho.

A cicada shell;
it sang itself
utterly away. Haiku-Matsuo Basho.

 

Jam lima sore saat itu. Di kaki Gunung Malang. Jam di mana lembayung jingga merona di bebukitan. Cahaya-cahaya berhamburan di jalan, sawah-sawah, ladang pertanian, di dedaunan dan di wajah-wajah anak gunung yang sedang bermain di halaman rumah. Nyanyian lantang Tonggeret – Tonggeret menyahut bersahutan. Di pohon jambu depan rumah. Di pohon pisang samping rumah. Di banyak pepohonan. Di segala arah.

Di balik jendela yang terbuka, Ranting terlelap di tengahnya. Nyanyian Tonggeret pengantar tidur sore. Baru. Baginya. Sembari dirasuki dinginya udara sore.

Setelah lama tidak mendengarkan nyanyian lantangnya, ketika kembali ke kaki Gunung Malang, telinga saya dimanjakan suara Tonggeret di segala penjuru rumah. Tongeret, begitu orang di kaki Gunung Malang menyebutnya, atau sebagian ada lagi yang menyebutnya Ower-Ower. Sesuai bunyi yang mereka pekikan.

Beruntungnya juga, kali ini, beberapa Tonggeret – Tonggeret itu bunyinya sangat dekat. Paling dekat di pohon depan jendela kamar, tempat di mana Ranting tertidur pulas.

Saya mengambil kamera untuk menangkap momen, ketika Tonggeret, serangga yang memiliki fase metamorfosa menakjubkan, memanggil lawan jenisnya untuk kawin di pohon. Selama 17 tahun Tonggeret hidup dalam fase larva. Setelah 17 tahun, ia akhirnya menjadi serangga dewasa dalam waktu tiga hari dan segera memasuki fase repoduksi. Beberapa minggu setelah perkawinan Tonggeret akan mati.

Banyak orang bilang, Tonggeret merupakan simbol berakhirnya musim penghujan. Di kaki Gunung Malang, Tonggeret selalu menyalak waktu Sariak Layung (istilah Sunda), yaitu waktu menuju senja. Waktu di mana anak-anak di kaki Gunung Malang harus menyudahi segala permainan dan pergi ke kali atau pancuran untuk mandi (pada jaman itu. jaman kini sudah ada kamar mandi).

Begitu juga hari ketika saya membawa Ranting ke kaki Gunung Malang, ketika senja-senja mulai melayu dan suara Tonggeret perlahan saling terdiam, digantikan jangkrik-jangkrik, gaang atau anjing tanah, serangga malam dan binatang malam lainnya, saya masuk ke rumah.

Di langit biru sendu, dihias sembulan bulan seperempat dan ceceran bintang. Di kaki Gunung Malang, saya, Ranting dan Tala bagi saya, dan Madre bagi Ranting, berbaring meluruskan pikiran yang ditenangkan oleh nyanyian malam dan hembusan udara dingin dari celah-celah jendela dan bilik rumah.

Tonggeret atau Cicada.  17 tahun bermimpi 3 hari berteriak mencari pasangan sejati lantas mati

Tonggeret atau Cicada.
17 tahun bermimpi
3 hari berteriak mencari pasangan sejati
lantas mati

Tonggeret adalah pesan cinta untuk pasangannya, dan isyarat rindu yang menjejal bagi pemuda-pemuda gunung untuk gadis-gadisnya.

Tonggeret adalah pesan cinta untuk pasangannya, dan isyarat rindu yang menjejal bagi pemuda-pemuda gunung untuk gadis-gadisnya.

Tonggeret menyampaikan pesan untuk seluruh penduduk di kaki Gunung Malang yang sedang sibuk di hutan, di ladang, di sawah dan di jalan, untuk segera bergegas pulang ke rumah dan berkumpul bersama keluarga.

Tonggeret menyampaikan pesan untuk seluruh penduduk di kaki Gunung Malang yang sedang sibuk di hutan, di ladang, di sawah dan di jalan, untuk segera bergegas pulang ke rumah dan berkumpul bersama keluarga.

“sonofmountmalang”

 

Surat cinta untuk Virgillyan Ranting Areythuza (2)

Virgillyan Ranting Areythuza01-532

Selamat ulang bulan, Rantinggggg!

Dear,

Ranting

Selama empat bulan ini aku tidak pernah jalan-jalan terlalu jauh. Tidak pernah nongkrong di tempat ngopi terlalu lama. Tidak pernah lembur terlalu malam. Tidak jarang juga harus bangun malam. Menggantikanmu popok, pampers, popok, pampers. Mencuci baju, celana, popok. Memandikanmu. Menjemurmu di bawah siraman cahaya pagi. Membacakanmu cerita di jelang tidur malam, dan dibalas ocehan lucumu yang belum aku pahami.

Terkadang, aku jail juga, mengenalkanmu pada pahitnya kopi dan santainya nongkrong di cafe disesaki wangi kopi. Bersemangat penuh menyeduh kopi di pagi hari, dan meneteskan segala jenis kopi di ujung bibirmu. Kamu hanyalah melewe beriler, entah kepahitan atau sedang mencerna satu rasa baru dalam hidupmu. Sudah tidak sabar juga mengajakmu jalan lebih jauh meskipun kini hanya sebatas ke kota kembang atau kota hujan. Sampai waktunya, aku harus menunggumu siap, untuk duduk santai di Ubud dan menikmati secangkir Kintamani. Atau ke Flores, menikmati pekatnya Bajawa dan birunya lautan bersama bukit-bukit dan ke banyak tempat, yang juga belum pernah aku jelajah.

Itu kelak saja ya, Ranting. Kelak. Sabar sejenak.

Sementara ini, aku hanya bisa membawamu ke mall dan ke tempat-tempat yang tidak terlalu jauh.

Dan.

Perjalanan panjang kita akan semakin seru.

Selamat ulang bulan yang ke-4, Virgillyan Ranting Areythuza…! Semesta memberkatimu.

Ranting menikmati kopi di 1/15:d.

Ranting menikmati kopi di 1/15:d.

Virgillyan Ranting Areythuza01-546

Virgillyan Ranting Areythuza01-542

Virgillyan Ranting Areythuza01-539

Virgillyan Ranting Areythuza01-538

Virgillyan Ranting Areythuza01-537

Virgillyan Ranting Areythuza01-533

Virgillyan Ranting Areythuza01-534

Virgillyan Ranting Areythuza01-535

Virgillyan Ranting Areythuza01-536

Virgillyan Ranting Areythuza01-532

Virgillyan Ranting Areythuza01-531

Virgillyan Ranting Areythuza01-540

Pilih kado

1/15 coffee, gandaria, jakarta selatan
26 Juli 2014

“sonofmountmalang”

Dongeng (31) HAPHAP

Haphap01

Keseruan apa lagi yang pernah saya jalani ketika hidup dalam kegelapan tanpa listrik di kaki Gunung Malang? Mengejar HAPHAP!

HAPHAP? Apaan itu? Kalau kalian pernah mendengar Cekiber, ya itulah nama lainnya. Nama dalam bahasa Sunda, tepatnya. HAPHAP binatang serupa cicak atau minibunglon. Hidupnya di pohon. Makanannya serangga. Dia bisa menyaru dengan pohon yang ia tempati. Gerakannya cepat dan bisa terbang. Kulit tipis di sisi kanan dan kiri tubuhnya sangat elastis dan bisa mengembang ketika ia loncat dari satu pohon ke pohon lainnya.

Apa serunya HAPHAP ini?

Serunya? Adalah berburu HAPHAP! Tidak semua orang bisa menangkap HAPHAP dengan mudah. Pertama, harus bisa memanjat pohon dengan cepat. Kedua, harus tahu akan terbang ke pohon mana lagi si HAPHAP ini. Kelebihannya dia kan selain manjat pohonnya cepat, juga bisa terbang. Sementara saya dan anak-anak lainnya hanya bisa memanjat. Jadi harus tahu arah terbang HAPHAP supaya saya dan anak lainnya segera bisa memanjat pohon selanjutnya atau bahkan sudah siap nangkring di pohon yang akan disinggahi HAPHAP. Tidak mudah kan?

Seru, ‘kan? Memanjat satu pohon ke pohon lainnya. Berlari dari satu pohon ke pohon lainnya. Sampai kadang akhirnya capai sendiri dan HAPHAP tidak didapat. Tapi tidak selalu begitu kejadiannya. Terkadang, ada juga yang bisa mendapatkan HAPHAP. Biasanya HAPHAPnya sudah capai manjat pohon dan terbang, terpeleset kemudian jatuh ke tanah. Kalau sudah jatuh ke tanah, menangkapnya jauh lebih mudah. Kalau sudah dapat, ya dibawa pulang ke rumah dan dipelihara. Yang memelihara ya yang menangkap. Besoknya lagi, saya dan anak lainnya berburu kembali sampai semua anak memiliki HAPHAP. Kalau sudah bosan memeliharanya, HAPHAP dilepaskan ke pohon. Begitu terus. Saya dan anak lainnya hanya menikmati keseruan saat berburu. Berteriak. Berlari. Berkeringat. Bekerjasama. Jatuh bangun. Terguling di rerumputan. Terguling di tanah. Sampai tercebur sungai. Adu panjat cepat. Loncat ke sana. Loncat ke sini. Kalau ada yang berani, meloncat dari satu pohon ke pohon lainnya. Dengan catatan, jarak pohon satu dengan pohon lainnya saling berdekatan.

Jika pun tidak mendapatkan HAPHAP, hati tetap senang. Karena itulah salah satu permainan yang menyenangkan dan seru yang biasa dilakukan oleh saya dan anak-anak di kaki Gunung Malang. Setelah berburu HAPHAP selesai, saya dan anak lainnya pergi ke curug sungai. Di sana kami semua berendam air segar pegunungan sambil, tentu saja, perang air dan adu tahan napas di dalamnya curug.

Bagaimana? Sudah terbayang kan suasana serunya?

Sekarang, saya akan menceritakan mitos tentang HAPHAP.

HAPHAP itu hebat. Dia bisa loncat atau terbang dari satu pohon ke pohon lainnya tanpa terjatuh. Telapak tangannya bisa lengket ketika ia mendarat di pohon. Nah, karena ia sebegitu lengketnya, anak-anak di kaki Gunung Malang percaya, bahwa jika seorang kiper membalurkan HAPHAP yang dibakar sampai gosong ke telapak tangannya, maka ia bisa jadi kiper HEBAT. Bola tidak akan pernah bisa lepas dari tangannya ketika ditangkap. Makanya, setiap kali ada pertandingan bola antar kecamatan atau antar sekolah, seorang kiper haruslah dibalurkan arang pembakaran HAPHAP, supaya jago menangkap bola. Begitulah mitos yang lahir di kaki Gunung Malang tentang HAPHAP.

Lalu, apakah sang kiper jadi HEBAT? Ah, tidak juga. Setiap kali bertanding bola, saya dan anak-anak lainnya lebih banyak kebobolan. Kata kipernya, kita kalah, karena HAPHAP yang kita tangkap masih anak-anak. Halah! Alasan. Memang saya dan anak lainnya tidak cocok bermain bola serius. Kami cocoknya bermain bola untuk seru-seruan.

 Main bola seru-seruan kaya apa sih?

Tunggu saja DONGENG TIDUR TALA berikutnya.

Inilah bentuk HAPHAP jika belum tahu:p

HAPHAP

HAPHAP

Haphap07 Haphap03 Haphap09

“sonofmountmalang”