Dongeng (31) HAPHAP

Haphap01

Keseruan apa lagi yang pernah saya jalani ketika hidup dalam kegelapan tanpa listrik di kaki Gunung Malang? Mengejar HAPHAP!

HAPHAP? Apaan itu? Kalau kalian pernah mendengar Cekiber, ya itulah nama lainnya. Nama dalam bahasa Sunda, tepatnya. HAPHAP binatang serupa cicak atau minibunglon. Hidupnya di pohon. Makanannya serangga. Dia bisa menyaru dengan pohon yang ia tempati. Gerakannya cepat dan bisa terbang. Kulit tipis di sisi kanan dan kiri tubuhnya sangat elastis dan bisa mengembang ketika ia loncat dari satu pohon ke pohon lainnya.

Apa serunya HAPHAP ini?

Serunya? Adalah berburu HAPHAP! Tidak semua orang bisa menangkap HAPHAP dengan mudah. Pertama, harus bisa memanjat pohon dengan cepat. Kedua, harus tahu akan terbang ke pohon mana lagi si HAPHAP ini. Kelebihannya dia kan selain manjat pohonnya cepat, juga bisa terbang. Sementara saya dan anak-anak lainnya hanya bisa memanjat. Jadi harus tahu arah terbang HAPHAP supaya saya dan anak lainnya segera bisa memanjat pohon selanjutnya atau bahkan sudah siap nangkring di pohon yang akan disinggahi HAPHAP. Tidak mudah kan?

Seru, ‘kan? Memanjat satu pohon ke pohon lainnya. Berlari dari satu pohon ke pohon lainnya. Sampai kadang akhirnya capai sendiri dan HAPHAP tidak didapat. Tapi tidak selalu begitu kejadiannya. Terkadang, ada juga yang bisa mendapatkan HAPHAP. Biasanya HAPHAPnya sudah capai manjat pohon dan terbang, terpeleset kemudian jatuh ke tanah. Kalau sudah jatuh ke tanah, menangkapnya jauh lebih mudah. Kalau sudah dapat, ya dibawa pulang ke rumah dan dipelihara. Yang memelihara ya yang menangkap. Besoknya lagi, saya dan anak lainnya berburu kembali sampai semua anak memiliki HAPHAP. Kalau sudah bosan memeliharanya, HAPHAP dilepaskan ke pohon. Begitu terus. Saya dan anak lainnya hanya menikmati keseruan saat berburu. Berteriak. Berlari. Berkeringat. Bekerjasama. Jatuh bangun. Terguling di rerumputan. Terguling di tanah. Sampai tercebur sungai. Adu panjat cepat. Loncat ke sana. Loncat ke sini. Kalau ada yang berani, meloncat dari satu pohon ke pohon lainnya. Dengan catatan, jarak pohon satu dengan pohon lainnya saling berdekatan.

Jika pun tidak mendapatkan HAPHAP, hati tetap senang. Karena itulah salah satu permainan yang menyenangkan dan seru yang biasa dilakukan oleh saya dan anak-anak di kaki Gunung Malang. Setelah berburu HAPHAP selesai, saya dan anak lainnya pergi ke curug sungai. Di sana kami semua berendam air segar pegunungan sambil, tentu saja, perang air dan adu tahan napas di dalamnya curug.

Bagaimana? Sudah terbayang kan suasana serunya?

Sekarang, saya akan menceritakan mitos tentang HAPHAP.

HAPHAP itu hebat. Dia bisa loncat atau terbang dari satu pohon ke pohon lainnya tanpa terjatuh. Telapak tangannya bisa lengket ketika ia mendarat di pohon. Nah, karena ia sebegitu lengketnya, anak-anak di kaki Gunung Malang percaya, bahwa jika seorang kiper membalurkan HAPHAP yang dibakar sampai gosong ke telapak tangannya, maka ia bisa jadi kiper HEBAT. Bola tidak akan pernah bisa lepas dari tangannya ketika ditangkap. Makanya, setiap kali ada pertandingan bola antar kecamatan atau antar sekolah, seorang kiper haruslah dibalurkan arang pembakaran HAPHAP, supaya jago menangkap bola. Begitulah mitos yang lahir di kaki Gunung Malang tentang HAPHAP.

Lalu, apakah sang kiper jadi HEBAT? Ah, tidak juga. Setiap kali bertanding bola, saya dan anak-anak lainnya lebih banyak kebobolan. Kata kipernya, kita kalah, karena HAPHAP yang kita tangkap masih anak-anak. Halah! Alasan. Memang saya dan anak lainnya tidak cocok bermain bola serius. Kami cocoknya bermain bola untuk seru-seruan.

 Main bola seru-seruan kaya apa sih?

Tunggu saja DONGENG TIDUR TALA berikutnya.

Inilah bentuk HAPHAP jika belum tahu:p

HAPHAP

HAPHAP

Haphap07 Haphap03 Haphap09

“sonofmountmalang”

Nongkrong bareng Ranting di Ranin

Narsis. Boleh ya. Ya ya ya ya. Jarang jarang banget saya mau narsis.

Narsis. Boleh ya. Ya ya ya ya. Jarang jarang banget saya mau narsis. Narsis bareng Virgillyan RANTING Areythuza

Saya pernah berjanji begini ketika Ranting masih berada di dalam perut ibunya,”Ranting, kalau kamu sudah keluar, kita nongkrong bareng di Ranin yuk!”

Saat itu saya dan Madre, ibunya Ranting, sedang nongkrong di Ranin sembari menikmati Wamena dan ibunya Ranting menikmati es kopi susu. Obrolannya sederhana, tentang, bagaimana rasanya ketika Ranting sudah lahir dan duduk bertiga sambil ngobrol ditemani kopi. Rasanya belum terbayangkan serunya akan seperti apa.

Untuk mencoba merasakannya, saya menepati janji, sekaligus mengenalkan Ranting ke dunia kopi. Tidak hanya dunia kopi sebenarnya. Banyak dunia lainnya yang akan saya kenalkan. Perlahan saja. Satu per satu, ditanamkan sejak kecil. Seperti ketika nenek menanamkan kecintaannya pada kopi dan teh ke saya saat masih kecil.

Maka, jadilah saya pun membawa Ranting di usia dua bulan setengah ke Ranin. Rupanya, pemilik Ranin sekilas mengenali saya. Halah! Geer!

Saya memesan kopi, mikir, Wamena ala Syphon. Salah satu jenis kopi yang bisa dibilang rada susah mendapatkannya. Kayanya lho ya. Ketika pembuatannya, saya menggendong Ranting. Sambil berbisiklah, semoga Ranting mengerti, “Olla Ranting, itu Wamena, dari Papua, salah satu kopi terbaik milik Indonesia. Strong and black.” Ranting cuma bengong. Ya iyalah! Dia belum mengerti. Yang Ranting lakukan hanyalah bengong, sekali kali heboh dan menatap api membakar pantat syphon.

Ketika kopi sudah jadi, saya menjilatkan setetes kopi di bibirnya. Meksipun kata orang modern dan kedokteran, tidak boleh memberikan kopi ke new born selain ASI. Iya sih, cuma tangan saya gatal dan Ranting menjilat-jilat setetes kopi sambil nyengir. Tak apalahyah. Cuma sekali. Sekalian belajar menikmati kopi pahit.

Selain Wamena, saya pun diberikan secangkir kopi tester, sejenis cuppinglah istilahnya, secangkir Sinabung. Sinabung? Hmmm…! Baru dengar sih istilah Kopi Sinabung. Tapi karena masih kopi Sumatera, yuklah kita coba. Siapa tahu rasanya beda dari Sidikalang atau pun Mandheling.

Setelah diseduh, kali ini ala tubruk. Sinabung tubruk tepatnya. Entah lidah saya yang salah atau lidah saya yang belum ahli menikmati kopi, tapi Sinabung ini asamnya lumayan kuat. Mungkin karena dipanen setelah Sinabung meletus. Apa hubungannya. Saya tidak tahu. Saya kan asal nebak. Atau mungkin karena ini diseduh jadi beda rasanya. Secara saya tidak suka kopi tubruk. Mungkin besok besok, saya minta sinabung dibuat espresso. Okeh! Nanti ya ke Ranin lagi. Salah satu tempat nongkrong yang bisa memberikan sajian kopi dari sudut pandang berbeda. Halah! Iya dong. Ranin ini selalu mengingatkan saya akan Seniman Coffee. Setiap kali ke Ranin, pasti pengen ke Bali. Khususnya Ubud. Menikmati kopi dalam kereligiusan wangi dupa. Werrrrrr! Nunggu Ranting setahunlah baru bisa ke Bali.

Sementara, untuk saat ini, sesuai janji, saya ajak Ranting ke kedai-kedai kopi yang sering kami berdua singgahi ketika ia masih di dalam perut ibunya dan bahkan jauh sebelum ia ada, kami berdua sering membayangkan obrolan duduk bertigaan menikmati kopi. Kini, obrolan itu sudah menjadi kenyataan.

Selamat menikmati kopi, Ranting!

Ranting mantengin Wamena Syphon.

Ranting mantengin Wamena Syphon. Sabar ya mas broh! Nanti juga bakalan dicicipin:p

Ranting menyentuh alat membuat espresso manual. Mau nyoba nyoba bikin kah?

Ranting menyentuh alat untuk membuat espresso manual. Mau nyoba nyoba bikin kah? Atau mau beli? Mahas mas broh!

Ranting tertarik dengan gilingan kopi jadul.

Ranting tertarik dengan gilingan kopi jadul.

Heboh sendiri.

Ranting heboh sendiri.

Sinabung. Mau?

Sinabung. Mau? Ini GRATIS. Terima kasih Mas Ranin. Halah! Besok besok boleh dong cupping Luwak Sinabung. *ngelunjak*

Ini Madre. Ini Tala. Ini Dwi. Mencium Sinabung.

Ini Madre. Ini Tala. Ini Dwi. Mencium Sinabung.

Sekali kali narsis di blog sendiri nggak apa apa yah. Waks

Sekali kali narsis di blog sendiri nggak apa apa yah. Waks.

Yes! Sinabung! Seperti saya bilang, asamnya lumayan tinggi. Kurang cocok dengan perut saya, tapi bikin melek sampai jam 3 pagi karena strong plus saya sudah minum secangkir Wamena.

Yes! Sinabung! Seperti saya bilang, asamnya lumayan tinggi. Kurang cocok dengan perut saya, tapi bikin melek sampai jam 3 pagi karena strong plus saya sudah minum secangkir Wamena. Barentem deh tuh Wamena sama Sinabung di lambung saya.

“sonofmountmalang”

 

 

 

 

 

Kekenyangan di Warung Ethnic

Ranting, teman baru jalan-jalan, yang kerjaannya molor terus.

Ranting, teman baru jalan-jalan, yang kerjaannya molor terus. Nggak sabar bawa nih anak ke pantai:d

Jalan-jalan ke Bandung bawa Ranting itu cukup menyenangkan, tetapi juga merepotkan. Dan suwenya, saya nginep di hotel tengah kota, Golden Flower, di jalan Asia Afrika. Tidak tahu kenapa jalanan itu bisa macetnya amit-amit. Kapoklah ya nginep di tengah kota. Emang kalau di Bandung paling pas nginep di sekitara Dago atau sekalian menjauh di sekitaran Lembang. Tapi Dago itu lebih pas. Ke mana mana lebih dekat. Rasanya sih begitu.

Akhirnya, ya nggak bisa ke mana mana juga sih. Ada Ranting soalnya. Mau ke mana mana jadi mikir. Tapi akhirnya jalan juga, makan di daerah Ciumbuleuit. Nih nama susah amat ya ditulis. Weh!

Nah, di Ciumbuleuit ini ada tempat makan yang memang sudah lama banget dan cenderung ngumpet. Letaknya ada di kompleks perumahan, yang rumahnya segede bagong alias guede guedeeee!

Nama tempat makannya Warung Ethnic. Makanannya enak enak. Harganya lumayan murahlah. Untuk ukuran tempat makan dan rasa makanan, cukup adil. So, mau makan enak santai serasa di rumah. Coba aja kalau mau ke sini:p

 warung etnik06

Pintu masuk Warung Ethnic.

Pintu masuk Warung Ethnic.

Lamb chop-nya wuenakkk!

Lamb chop-nya wuenakkk!

Partner jalan jalan makannya lagi banyak banyaknya nih.

Partner jalan jalan makannya lagi banyak banyaknya nih.

Pengen nyebur!

Pengen nyebur!

“sonofmountmalang”

 

 

 

 

 

Liburan Bareng Ranting!

Ranting sebulan lebih di Bandun50

Narsis bareng Virgillyan Ranting Areythuza.

Oke! Karena tidak ada bahan liburan berupa pemandangan laut, gunung atau pun pasir putih, maka saya putuskan posting hasil liburan bareng Ranting ke Bandung. Sedikit narsis. Tidak apa-apa ya. Maklumlah newbie menjadi seorang babeh bagi seorang anak yang belum mengerti apa-apa soal konsep liburan.

Jadi liburan ke mana bareng Ranting? Tidak terlalu jauh. Cukup Bandung saja. Di Bandung, saya membawa Ranting ke tempat pacaran di masa-masa itu anak belum eksis di dunia. Dan sudah pastilah diajak ke tempat ngopi di Bandung. Kaya dia sudah ngerti soal kopi sih! Hihihihi!

Nah, kebetulan saya nemu tempat lucu dan baru di Bandung. KOLONI, namanya. Semacam mini foodcourt di bekas rumah segede bagong dan di-design menarik. Posisinya ada di Ciumbuleuit. Unpar naik terus. Di sebelah kanan jalan. Makanannya pun tidak rumit. Cuma ya kalau siang, udara di sini kurang sejuk, tidak seperti Dago. Kalau mau adem, sorean sedikit sepertinya yak.

Lantas? Kaya gimana sih bentuk KOLONI dan kemesraan saya dengan Ranting. Haks! Iseng ajalah liat-liat. Sekali-kali posting beginian boleh yaaaaa!:P

KOLONI

KOLONI

Rumah nih dulunya. Ckckckck!

Rumah nih dulunya. Ckckckck!

Ranting sebulan lebih di Bandun56

Siapa aja ya dulunya yang tinggal

Ranting sebulan lebih di Bandun55

Kalau dijadiin tempat ngopi, bukan food court, pasti lebih seru. Wew!

Ranting sebulan lebih di Bandun54

Siang siang rada panas sih di sini

Ranting sebulan lebih di Bandun53

Ngopi ngopi di pojok sini nih enak.

Ranting sebulan lebih di Bandun52

Kita coba aja kopinya:p

Ranting sebulan lebih di Bandun49

Olllaa! Ini Virgillyan Ranting Areythuza.

Ranting sebulan lebih di Bandun47

Mumpung bisa diapa-apain pasrah nih:p

Ranting sebulan lebih di Bandun44

Mau kopi?

sonofmountmalang”

Bermain Undur-Undur

Kawah UNDUR UNDUR.

Ratusan kawah UNDUR UNDUR.

Siapa yang pernah melihat bentuk kawah beginian di tanah? Anak kampung atau anak jaman jebot atau anak yang rumah orang tuanya masih berbentuk panggung dan tanah di sekelilingnya, pasti pernah melihat bentuk beginian. Yang pasti, bentuk beginian tidak akan ditemukan di perumahan-perumahan kota Jakarta. Bahkan, mungkin, di perkampungan pun sudah jarang. Mengapa sebab? Banyak rumah panggung di kampung sudah berubah bentuk, mengikuti jaman, yaitu berlantai keramik dan bertembok bata. Kecuali sangat kampung sekali, seperti beberapa rumah di kaki Gunung Malang. Tidak semuanya sudah modern. Sebagian masih berbentuk panggung.

Ini adalah bentuk kawah sarang UNDUR-UNDUR. Salah satu mainan jaman saya SD. Cara bermainnya gampang. Pertama, cari sarang UNDUR UNDUR paling besar. Kemudian tiup pelan-pelan sampai tanah halusnya tersingkap dan UNDUR UNDUR pun akan nampak. Setelah itu, ambil UNDUR-UNDURnya dan siap diadu dengan UNDUR UNDUR teman. Kedua, kalau sudah dapat UNDUR UNDUR, tinggal cemplungin saja ke sarang lainnya. Mereka akan berantem dan kita semua menontonnya.

Sesederhana itu cara bermainnya. Aturannya juga sederhana. Tidak boleh mengeruk sarang UNDUR UNDUR untuk mendapatkannya. Semuanya harus meniup sarang sampai UNDUR UNDUR terlihat. Hati-hati kelilipan tanah yak!

Gimana? Terbayang kan sesederhana itu permainan anak jaman dulu, khusus anak kampung, khusus anak di kaki Gunung Malang. Bagaimana dengan kalian? Sekampung itukah dulu?:p

Catatan: Ternyata, UNDUR UNDUR yang biasa saya mainin waktu kecil itu berguna untuk OBAT DIABETES ALAMI dan mampu meningkatkan kerja PANKREAS dalam memproduksi insulin. UNDUR UNDUR mengandung sulfonylurea. Katanya, cara konsuminya ya ditelen begitu saja. Hmm….! Mau nyoba?

 

Kawah beginian nih biasa dihuni UNDUR UNDUR dewasa dan jagoan.

Kawah beginian nih biasa dihuni UNDUR UNDUR dewasa dan jagoan.

Nah, ini menara pengawas apaan yak!

Nah, ini menara pengawas apaan yak!

“sonofmountmalang”

samsung project (20) dijejali kabut pagi

Kabut pagi di kaki Gunung Malang.

Kabut pagi di kaki Gunung Malang.

Satu hal yang saya suka dari sebuah KAMPUNG HALAMAN semacam kaki Gunung Malang, yaitu pagi yang selalu berselimutkan kabut. Bahkan gambar diambil menggunakan Samsung Galaxy Note jadul pun, rasanya, pemandangan ini, dengan kabut tebalnya, terasa menampar wajah. Dingin menggigil dan membuat pernapasan bebas udara demek. Enaknya punya kampung begini. Siapa coba di antara kalian yang masih punya kampung halaman? Dan, siapa coba yang merindukan bangun pagi, membuka jendela kamar, kemudian mendapati pemandangan seperti ini?

Nikmati saja!

Matahari begini selalu ditunggu penduduk di kampung untuk berjemur di halaman rumah.

Matahari begini selalu ditunggu penduduk di kampung untuk berjemur di halaman rumah.

Pertanian di kaki Gunung Malang.

Pertanian di kaki Gunung Malang.

Berani berjalan di tengah kebun teh ini? Saya jamin, kalian mandi embun. Basah namun menyegarkan badan.

Berani berjalan di tengah kebun teh ini? Saya jamin, kalian mandi embun. Basah namun menyegarkan badan.

Pernah membayangkan pemandangan seperti ini ketika membuka jendela kamar. Sederhana dan membuat hati semakin lega.

Pernah membayangkan pemandangan seperti ini ketika membuka jendela kamar. Sederhana dan membuat hati semakin lega.

 

 

“sonofmountmalang”

Dongeng (31) Persembunyian

Malam semakin meluluhkan tubuh gelapnya kepada kabut-kabut tipis di bawah bulan. Cahaya halusnya menembus celah tenda di atas perbukitan, tempat kami berdua berkemping. Suara malam serentak memenuhi ruang-ruang kosong di perbukitan. Suasana hening terisi oleh serangga malam. Angin terus meniupkan aroma malam. Dingin membelit kulit.

Malam ini saya akan melanjutkan dongeng sebelum tidur. Tidak seperti biasanya, dongeng kali ini saya ceritakan di bawah atap tenda. Bosan tidur di ranjang terus. Sekali-kali harus merasakan tidur di setengah alam bebas. Lampu remang-remangnya dari bulan malam saja. Itu sudah cukup.

     “Kemana kamu akan berlari jika hatimu sedang gelisah, ngambek atau marah besar?” itu pertanyaan saya sebelum memulai mendongeng sebelum tidur. Tala tidak menjawabnya. Ia tidak pernah berlari kemana-mana sepertinya.

Saya sering kali kabur dari rumah jika ribut dengan bapak atau sedang malas mendengarkan celotehan bapak atau hanya dalam kondisi gamang. Ada sebuah tempat di terpencil. Jauh dari rumah penduduk. Lokasinya ada atas bukit sisi hutan Gunung Malang.

Dari bukit ini, saya bisa melihat ke bawah. Sawah-sawah. Rumah penduduk. Ladang. Lapangan. Makam. Sungai. Sekolahan.

     “Nggak seru ah!”

     “Yah, tapi kamu harus tahu tempat ini.”

     “Buat apa?”

     “Pokoknya harus tahu supaya nanti aku tidak menceritakannya lagi. Kan semua dongeng ini baru awalan. Prolog untuk ke halaman berikutnya.”

     “Ohhhh! Lanjuuuut!”

Untuk mencapai bukit ini, saya harus berjalan kaki menanjak selama 30 menitlah. Tidak terlalu jauh. Jalananya hanya setapak saja. Kanan kiri kebun teh dan ilalang liar jelang ke bukit.

Di bukitnya sendiri tumbuh tanaman liar, buah-buahan liar dan lalapan. ada Cecenet, Antanan dan Buah Monyet. Masuk ke hutan sedikit tinggal ambil buah Canar. Diam di bukit ini, saya tidak akan pernah kelaparan. Ngambek seharian kabur dari rumah pun tetap bisa kenyang. Air jernih mengalir dari selokan hutan menuju perkampungan. Buah-buahan cukup untuk mengenyangkan perut.

Sebenarnya, ada tiga tempat yang biasa saya gunakan untuk kabur dari rumah. Bukit Sunyi, Goa di tebing dan Rumah Pohon. Ketiganya tempat nyaman untuk bersembunyi.

     “Kamu punya goa sama rumah pohon?”

     “Iya. Goanya aku bikin sendiri di tebing. Rumah pohon juga bikin sendiri.” “Wahhhh! Asiknya.”

     “Tempat itu yang tahu hanya aku dan kedua sahabatku. Dan ada satu lagi. gadis kecilku. Hmmm….”

     “Wahhh! Siapa? Halimah ya? Ngapain aja sama Halimah itu?”

     “Bukan Halimah! Ini gadis kecilku. Gadis yang akan menuntun ke sebuah dongeng besar selanjutnya. Nanti ceritanya. Belum sampai ke sana.”

     “Ahhhh! Nggak asik banget sih!”

     “Lanjut nggak nih?”

     “Ya deh!”

Di Bukit Sunyi ini saya biasa rebahan di atas daun Rasamala atau Puspa kering bersama dua sahabat saya atau gadis kecil itu. Suasananya sepi dan sejuk. Bebas untuk berbuat apa saja, melakukan apa saja, tanpa diketahui orang lain. Biasanya saya rebahan persis di bawah pohon Rasamala. Kadang pohon Puspa. Kedua pohon ini sama-sama enak untuk berlindung dari matahari.

Dari ketinggian bukit ini, saya bisa mendengar sayup-sayup suara orang memanggil, suara lengkingan ayam, kambing, domba, suara elang di lembah, suara burung-burung di atas pohon dan segala jenis suara, dengan jelas. Enak. Damai. Tenang. Sejuk dan wangi hutan tertiup angin gunung. Kamu harus merasakan berada di Bukit Sunyi. Cuma jalannya ya pasti ngos-ngosan. Kapan-kapan ya kalau kita ke Gunung Malang, saya ajak kamu ke tempat itu. Kita duduk sambil menikmati pemandangan dan suasananya.

      “Sekarang sudah tahu kan tempatku bersembunyi?”

      “Iya, tapi kurang seru ah! Nggak ada adegan adegan seru!”

      “Nanti juga bakalan seru.”

      “Sekarang aku mau diceritain tentang dua sahabat kamu dong. Ceritain gadis kecil itu dong. Ceritain Halimah lagi dong.”

      “Hahahaha! Penasaran banget sih sama mereka berdua.”

     “Habisnya, dongengnya masih prolog terus. Kapan masuk ke ceritanya. Ceritain Halimah aja deh, pernah diajak ke Bukit Sunyi itu nggak sih?”

     “Halimah?”

     “Iya.”

     “Pernah.”

     “Ayo ayo, ngapain sama Halimah di situ?”

     “Hmmm….!”

Seperti yang pernah saya dongengkan, Halimah hanyalah partner in crime. Kami berdua tidak pernah melakukan hal-hal senonoh meskipun kami berdua pernah bugil bareng, mandi bareng, berenang bareng, tidur bareng dan banyak hal dilakukan bareng-bareng. Entah kenapa, saya tidak berpikiran aneh-aneh ketika melihat Halimah telanjang bulat atau pun setengah bulat.

     “Aku tidak pernah berbuat apa-apa, kecuali pernah meremas payudaranya tanpa sengaja dan memeluknya.”

     “Wohhh! Mulai seru nih.”

     “Udah, segitu doank sih.”

     “Ahhhh! Di Bukit itu, sama Halimah, nggak pernah ngapa-ngapain?”

     “Nggak pernah. Aku sama Halimah cuma rebahan doank sambil melihat ke perkampungan dan sawah-sawah.”

     “Ahh…! Masa sih,” Tala mencoba mengorek-ngorek tentang Halimah.

     “Iya!” Saya ngotot, “Nanti deh aku ceritain soal Halimah lagi.”

     “Yah….! Udahan nih dongengnya?”

     “Kan cuma pengenalan Bukit Sunyi doank. Nanti apa yang terjadi di Bukit Sunyi ya akan ada ceritanya ya.”

     “Selalu ya, gantung dongengnya.”

Tala meminta saya menceritakan lebih jauh soal Bukit Sunyi, dua sahabat saya, Halimah dan gadis kecil itu. Tetapi karena udara dingin di tenda membuat saya harus segera meringkuk tidur di balik selimut tebal.

“sonofmountmalang”