(1) Cerita untuk Ranting Areythuza; “Seorang Rindu”

s

“Dago.”

                       

Seorang Rindu     

            Ran, kataku, memulai sebuah perbincangan ketika kami berdua duduk di kursi kayu di sebuah café di Dago, tempat di mana asap kopi menyampaikan doa-doa ke langit hampa bintang.
            Aku pernah sekali menjatuhkan cintaku pada seorang perempuan di sini, lanjutku. Ranting, sahabat kecilku, pelanga pelongo. Ia tidak mengerti, namun ia tetap mendengarkannya.
            Akan aku ceritakan sebuah cerita, malam ini untukmu, Ran. Tentang seorang perempuan bernama Rindu, serupa cahaya-cahaya di atas kota, yang hanya mampu aku reguki dari pandangan jauh. Tanpa tersentuh, tetapi rasa senangnya meresap ke segala pembuluh darah. Membuatku, malam itu, terhanyutkan ke ladang di mana mariyuana sedang dibakar oleh pesta ria petaninya.
            Aku gele gilak!
            Aw! Sangat menyenangkan, Ran.
            Malam itu.
            Bahkan, Ran, aku bisa menuliskan dua halaman puisi cinta dengan bahasa selegit susu kental manis, dan indahnya, bisa dianalogikan segerlap-gerlap di atas kota Bandung.
            Aku menunjuk ke lautan bintang-bintang di bawah lengkungan langit semu hitam.
            Romantis sadis, ‘kan Ran?
            Saat itu.
            Cintaku pada perempuan itu, Rindu, sekali lagi, namanya, biar kamu ingat ya, Ran, sangat gaduh, kalut dan haru biru. Entah ungkapan apa lagi yang bisa memetaforakan perasaan.
            Ketika, udara Dago sedang berada di titik terdingin. Kedua tanganku memeluk, diriku. Kedua tangannya, memeluk dirinya. Kami berdua sedang disiksa nikmatnya desiran angin yang mencantuk hingga ke tulang dada.
             Kami berdua.
            Aku dan perempuan itu,
            Rindu, tentunya,
            duduk di atap mobil berasalkan syal tebal berwarna ungu tua miliknya, yang selalu ia bawa ke mana pun ia pergi. Aku tahu hal itu, karena ia pernah bercerita. Syal ungu tua itu pemberian salah satu laki-laki yang pernah mencintainya setengah mati, dan kemudian Rindu dan laki-laki itu, saling mencintai pun lah setengah mati. Setengah tahun kemudian, kedua cintanya mati.
            Kasihan ya, Ran.
            Rindu belum bisa move on dari laki-laki masa lalunya. Buktinya, syal sialan ungu tua, yang menjadi alas duduk kami berdua, selalu ia bawa. Dan aku, mau juga mendudukinya.
            Pernah ada dua cinta setengah mati saling bertubrukan, di anyaman syal ini ada sisa-sisa cinta yang terselip dan aku masih bisa menghirupinya, begitu kata Rindu, suatu hari, ketika aku tanya, ada apa dengan syal itu.
            Lupakan ya, Ran, soal syal itu. Tidak begitu penting untuk diceritakan.
            Tidak akan aku lanjutkan juga sih. Aku lanjutkan tentang Rindu saja ya.
            Malam itu, kami sudah tiga jam duduk di atap mobil. Aku sudah menghabiskan satu cangkir kopi dingin, Rindu sudah menghabiskan satu botol kecil bir dingin. Kami pun saling menyampah jutaan kata, obrolan tanpa arah.
            Terkadang tertawa.
            Tersenyum.
            Terdiam.
            Saling bertatap lama.
            Bertatapan sebentar.
            Malingkan wajah.
            Merunduk.
            Mencuri-curi pandang.
            Diam lagi.
            Oh, ya Ran. Ada satu hal lagi, sebelum berlanjut. Aku cinta mati dengan kopi, dan Rindu tergila-gila dengan bir. Baginya, kopi hanya untuk orang-orang serius. Sementara bir, hanya untuk orang-orang periang. Soal kedua jenis minuman itu, kami pernah berdebat panjang. Itu akan aku ceritakan lain kali saja.
            Setelah tiga jam duduk di atap mobil, aku, akhirnya, tetibaan saja sih, ingin jatuh cinta padanya. Pada Rindu. Tidak tahu kenapa. Mungkin sudah berteman selama lima tahun. Sudah melakukan perjalanan panjang dan tidak pernah melakukan apa-apa. Sudah sering duduk berjam-jam dan bubaran di pintu gerbang sebuah mall atau tempat nongkrong. Sementara Rindu itu, Ran, menurut pandangan mataku, sangat meresahkan jantung yang terkadang suka meletup-letup sedikit dan otak cabulku suka sekali melintas, membayangkannya, aku bisa memeluknya.
            Dan, hamparan cahaya-cahaya di atas kota Bandung, membuatku, kepadanya, menjadi romantis gilak!
            Entah aku yang romatis saja, dan Rindu tidak.
            Entah cinta tanpa logika saja atau selintasan gairah, karena malam itu, ia sedang terlihat seksi dengan botol bir yang ia dekap di antara ke dua payudara .
            Atau ia merasakan hal yang sama. Atau tidak.
            Mungkin juga, Ran, karena udara Bandung dingin dan aku jadi ingin lebih dekat dengannya. Mengunci kata-kata, melepaskan rasa. Melalui persentuhan kedua tangan kami.
            Aku hanya ingin menggengam tangannya saja.
            Setidaknya, itu yang ada di kepalaku, di larut malam.
            Akhirnyalah, aku memutuskan untuk bersabda.
            Begini sabdaku, bahasa, yang aku susun secantik aku bisa.
            Boleh jatuh cintakah aku di atas bintang-bintang bumi Parahyangan, mencintaimu sampai tak sadarkan diri, gila juga tak apalah, di ketinggian tanah berudara dingin, tetapi hanya semalam ini saja. Esok, subuh-subuh, ketika bintang-bintang daratan meluluh, begitu jugalah tentang perjatuhan cintaku, rasa yang aku ingin percikan cukup semalaman, melenyapkan dirinya.
            Bolehkah?
            Aku jatuh cinta malam ini.
            Rindu?
            Rindu, terduduk di sebelahku, sahabat tanpa syarat, perempuan berwajah lugu sedikit dungu, malaikat manis tak bersayap, merekatkan botol bir ke belahan dadanya, menatap diam ke rupa kota bermandikan cahaya. Ia hanya menarik napas pelan sekali, sedikit panjang, dihembuskan cepat, melepaskan kabut tipis dari kedua bibir memonyong kedinginan yang tetap berusaha basah oleh sisa curahan bir senyap bercampur embun dan telah berbaur dengan pelembab bibirnya yang kian menipis, namun tetap saja terlihat menggoda, untuk diarungi.
            Kira-kira kamu bisa menebak, Ran, apa jawaban Rindu malam itu. Jawabannya sangat sederhana. Tidak serumit bahasa yang aku cipta.
            Jawabannya…..
            …….
Bersambung ya…..
Note: Setelah membukukan DONGENG TIDUR TALA sebanyak 200 halaman, kini saatnya menulis Cerita untuk sahabat imut saya, Ranting Areythuza, tentang “Seorang Rindu”, salah satu kategori baru yang akan memeriahkan blog ini. Siapa sih Rindu? Ikutin aja yuk ceritanya.

“sonfomountmalang”

 

Roromantisan di Kawah Putih

 

Karena cinta, pohon ini tetap hidup.

Tetap hidup karena cinta. Mungkin.

Kawah Putih merupakan salah satu kawasan wisata di Jawa Barat. Posisinya ada di Ciwidey. Kawah putih merupakan sebuah danau yang terbentuk dari letusan Gunung Patuha. Tanah yang bercampur belerang di sekitar kawah ini berwarna putih, lalu warna air yang berada di kawah ini berwarna putih kehijauan, yang unik dari kawah ini adalah airnya kadang berubah warna. Kawah ini berada pada ketinggian +2090 m dpl dibawah puncak/titik tertinggi Gunung Patuha.

Selain Kawah Putih, di Ciwidey juga ada banyak perkebunan kopi. Di beberapa tempat ngopi di Jakarta, Kopi Ciwidey sudah bisa ditemukan. Glek! Jadi pengen ngopi. Jadi pengen ke tempat yang dingin. Jadi pengen ke tempat yang berkabut. Yuk! Ah! Kita meluncur.

“sonofmountmalang”

Mandiri Karnaval Nusantara

Tim narsis.

Tim narsis.

Mandiri Karnaval Nusantara merupakan program brand activation yang diadakan oleh Bank Mandiri secara rutih di beberapa kota dengan memberikan product experience kepada masyarakat. Kalian bisa menikmati kuliner khas nusantara. Lumayan kan buat program gendutin perut. Biasanya acara ini diisi kegiatan mandiri run, music performance, community activity dan kegiatan lainnya. Nyari cewek lucu di daerah setempat juga bisa. Atau cuma foto-foto. Bebas.

Kebetulan saya diberangkatkan kantor untuk datang ke acara ini. Kebetulan juga, kantor memegang materi promo Mandiri Karnaval Nusantara. Sekalian makan, sekalian melihat keriaan. Seru kan. Tunggu acara di kota kalian. Kapan ya itu.:p

 

 

MKNBandung19

Rebutan model:p

Sampai bertemu di mandiri karnaval nusantara berikutnya.

 

“sonofmountmalang”

kamu harusnya seseksi ini

ss

Jika ada perempuan seseksi ini, rasanya, aku rela gila karena cintanya! *murahan*

Apa yang kamu pikirkan tentang es, kopi dan susu?

Jika aku, memikirkan seseorang, perempuan tentu saja, yang memiliki cita rasa khas, seperti segelas kopi bersusu dingin, yang bisa dinikmati, bahasa kasarnya, atau dicumbui, bahasa sedikit halusnya, di ketika cuaca sedang memanas hingga merasakan titik ternikmat yang bisa dialami sepanjang hidup.

Dan.

Gila pun aku pasrah karena terlalu memberhalakannya, cinta yang berlebihan.

Bagaimana denganmu? Mau? Bukan mau gila karena cinta wanita serasa es, kopi dan susu dalam satu ruang dingin-hampa, tetapi memang menikmati segelas rasa saja, yang seperti perempuan super manis di pagi sewaktu surya cerah menerabas wajah dan tubuhnya.

Mari!

 

“sonofmountmalang”

 

Santai Bareng Ranting di Bandung

Churros dan kopi. Siapa yang tidak ingin coba. Bakalan ketagihan ini. Ke Bandung lagi aja yuk! Nongkrong di sini, upper east.

Churros dan kopi. Siapa yang tidak ingin coba. Bakalan ketagihan ini. Ke Bandung lagi aja yuk! Nongkrong di sini, upper east.

Dua bulan tidak ke Bandung, ada banyak hal yang berubah. Bukit-bukit hijau mulai berubah jadi deretan rumah-rumah mewah. Hotel-hotel baru terus tumbuh. Guest house semakin banyak pilihan. Tempat nongkrong ada di setiap pengkolan. Di setiap tanjakan. Kemacetan semakin seru. Polusi semakin tebal. Cuaca semakin panas.

Dan ada satu hal, mungkin, yang tidak berubah. Mojang-mojangnya tetap bening-bening. Halah! Membuat udara Bandung yang semakin panas, rasanya jadi sejuk.

Semoga, pemerintahan Bandung sadar lingkungan dan berhenti mengacak-ngacak ruang hijau di Punclut atau pun Dago atau pun bukit-bukit hijau lainnya yang mampu meredam panasnya Bandung.

Okeh! Lupakan masalah Bandung. Saya cuma warga biasa yang tidak akan bisa mengubah kebijakan pemerintahan.

Seperti saya bilang tadi, setiap ke Bandung pasti ada tempat baru dan kali ini saya, dalam rangka merayakan ULANG BULAN RANTING YANG KE-6, mampir ke upper east café di Dago. Dago merupakan spot favorit saya untuk menginap dan duduk-duduk santai sambil ngopi dan melihat kota Bandung bermandikan cahaya ketika malam tiba.

Romantis, bukan?

Ranting belum mengerti arti nongkrong. Arti romantis. Arti mojang-mojang bening. Ini sih hanya kemauan saya saja. Alesannya Ranting ulang bulan. Ngeks!

Nah, kali ini tempat baru untuk nongkrong, yaitu upper east café. Tempatnya lumayan cozy dan menyajikan menu makanan berat, juga ringan. Plus ada kopi tentu saja. Meskipun tidak fokus pada kopi seperti Kopi Ireng. Dan sekali lagi, di Bandung, belum ada atau tidak ada tempat khusus yang menyajikan kopi-kopi dahsyat. Kali yak! Apa cuma perasaan saya saja.

Tapi kalau untuk urusan tempat nongkrong paling enak dengan pemandangan syahdu, ya Bandung juaranya. Dan yep! Nongkrong di upper east café enaknya saat malam. Berhubung saya bareng Ranting, jadinya hanya bisa siang-siang. Nanti deh ya, kalau Ranting bisa diajak nongkrong malam.

Yuk! Ke Bandung lagi.

Duduk di pojokan. Pacaran yuk di sini.

Duduk di pojokan enak. Pacaran yuk di sini.

Kata Madrenya Ranting, ini enak.

Kata Madrenya Ranting, ini enak.

Mau?

Mau?

Sahabt saya, Virgillyan Ranting Areythuza, selalu heboh kalau liat makanan atau pun minuman.

Sahabat saya, Virgillyan Ranting Areythuza, selalu heboh kalau liat makanan atau pun minuman.

Makan dulu ya. Bubur tepung beras merah. Kok saya berasa kaya emak emak. Ini emaknya kemana nih:))

Makan dulu ya. Bubur tepung beras merah. Kok saya berasa kaya emak emak. Ini emaknya kemana nih:))

Nyicip setengah sendok kopi. Pahit sih, tapi dia doyan.

Nyicip setengah sendok kopi. Pahit sih, tapi dia doyan.

“sonofmountmalang”

Surat cinta untuk Virgillyan Ranting Areythuza (3)

Virgillyan Ranting Areythuza

Virgillyan Ranting Areythuza Ulang Bulan ke-6.

Aku jatuh cinta untuk pertama kalinya kepada sahabat mungilku, seorang pria botak, berbadan mungil dengan senyum polos melumerkan dan tawa serenyah bunyi apel ketika digigit. Aku jatuh cinta sangat. Tak terbantahkan.

Setiap pagi, sesaat setelah terbangun dari mimpi, aku melihat selalu ke sebelah dan pria mungilku sedang tertidur tenang. Setiap pagi juga, sambil mencium jidat jenongnya, aku berbisik selalu, “I love you, ma great boy, Rantingku…” kemudian saya menyesap aroma wangi napasnya dan teringat ketika pacaran saat merayu Tala, “Ingat ya Tala, sebagian napasku adalah napasmu.” Itu sebagai ungkapan betapa gombalnya aku saat itu. Dan berlaku untuk pria mungil nan botak, Virgillyan Ranting Areythuza, ketika aku menyesapi aroma napas pagi yang ia hembuskan.

Aku berbisik, ”Selamat ulang bulan ke enam ya ma great boy. Sehat selalu dan pinter dan hebat…dan alam menunggumu, tanpa bosan mengingatkanmu, untuk eksplor dan kamu akan menikmati makanan yang kamu cicipi  pertama kalinya. Tepung beras merah, pisang, buah pir, alpukat”

Terdengar lebay-gombal. Memang. Namun aku menyukai kelebayan-gombalan.

Dia pun perlahan mulai menggeliat. Ngulet. Membuka mata sebelah kiri. Membuka mata keduanya. Tersenyum dan meraba mukaku. Dengan cepat juga tangannya meraih rambut. Ia menjambak dan menarik-narik rambutku. Sambil tersenyum jahil dan tertawa tipis. Lantas berguling dan balik lagi. Berguling dan balik lagi.

Ia mengamatiku. Aku mengamatinya. Ia tersenyum manis dan aku memeluknya. Menggendongnya. Girangnya bukan kepalang. Jejingkrakkan. Kaki dan tayang langsung goyang.

Menyejukkan sekaligus menyenangkan rasanya bisa selalu jatuh cinta di pagi hari, kepada seorang pria botak lucu, Virgillyan Ranting Areythuza, yang sudah menapaki enam bulan dan akan menikmati pengalaman pertama kalinya mencicipi makanan.

26 September 2014

Like a boss

Like a boss

Jalan jalan sore

Jalan jalan sore

Merasakan asiknya berenang untuk pertama kalinya.

Merasakan asiknya berenang untuk pertama kalinya.

Dipijat

Dipijat

Haaiiii!

Sebel dipijet lama lama!

Ngantuk?

Ngantuk kayanya yah.

“sonofmountmalang”

Secangkir Aroma Surga di Alunan Malam Penuh Hujan

 

"Black is poetic."

“Black is poetic.”

Ketika malam sudah melangkahkan kakinya memelan dari langit ke bumi hingga terang-terang sore itu segera melangkah mundur secara teratur. Kidung dari para penyembah kegelapan, di bawah tanah, di dahan-dahan pohon dan di langit redup mulai dilantunkan. Gemawan berbentuk cawan-cawan hitam dan gema guntur melantur, semakinlah menyempurnakan diri, beriringan dengan meleburnya hujan di daun-daun dan atap teras rumah.

Malam ini, saya bersama alunan hujan, akan menyempurnakannya lagi dengan secangkir aroma surga dari Nusa Tenggara Timur, pemberian seorang teman. Surga yang begitu kelam, garang dengan aroma sekuat cinta saya pada perempuan-perempuan berbincu merah membakar bibir dan rok sutera tembus pandang. Surga yang disangrai dengan tungku batu dan api dari kayu bakar, menghasilkan kegarangan rasa dan kegelapan warna.

Saya menyiapkannya dengan gaya syphon untuk mendapatkan kualitas rasa dan aroma kopi yang selaras dengan rasa serta aroma sang malam.

Hasilnya, ada rasa getir yang menggentarkan. Ada aroma yang melesak ke sudut ruangan aram-temaram dan sela-sela indera penciuman yang menggelora. Sisanya, adalah momen menyelami makna sebuah malam dengan alunan pelan hujan dan secangkir surga dari Nusa Tenggara Timur yang akan menjadikan malam saya, malam ini, menjadi sangat panjang. Hingga pada akhirnya hujan mulai pasai bercinta dengan tanah dan bulan sesempurna wajah gadis lugu di kejauhan, memaksa awan-awan memudar dan ia berpendar terang di malam langit.

Siapa yang mau membunuh malam bersama secangkir surga dari Nusa Tenggara Timur? Yuklah! Kita melayar ke sana dan menyatukan diri bersama penduduk setampat untuk belajar melakukan ritual pembuatan kopi dengan insting yang membara dan jiwa yang menyalak. Bukan dengan mesin dan waktu yang terukur.

Yuk! Yuk! *kemudian membayangkan keindahan flores sambil merenungi bulan benderang*

 

“Black as night!"

“Black as night!”

"Heaven in syphon."

“Heaven in syphon.”

“The moon is friend for the lonesome to talk to.” ― Carl Sandburg

“The moon is friend for the lonesome to talk to.”
― Carl Sandburg *langit Cimanggis*

“sonofmountmalang”