samsung project (24) mouthgasm

Bubble bubble yang bisa bikin kamu bahagia.

Bubble bubble yang bisa bikin kamu bahagia.

mouthgasm adalah

A sense of pleasure derived from eating food or drinking which taste so fucking great.

Ini adalah percobaan baru dari saya, dengan mengawinkan Verona dan Cream langsung di dalam Moka Pot sebagai pengganti air, sehingga ketika air melesak melalui saringan yang berisi Verona dan menyeruak ke atas menciptakan buih-buih indah, salah satu pemandangan yang selalu ditunggu-tunggu oleh para pencinta kopi berbuih.

Bagaimana dengan rasanya, itulah, mouthgasm, rasa pahit yang bercampur dengan cream melahirkan sejuta rasa baru di lidah.

Mau?

Verona dari Jepang.

Verona. Cream dan Moka Pot.

Verona. Cream dan Moka Pot.

Creamer.

Creamer.

Bubble bubble yang bisa bikin kamu bahagia.

Bubble bubble yang bisa bikin kamu bahagia.

Siap diseruput penuh kelembutan.

Siap diseruput penuh kelembutan.

“sonofmountmalang”

 

 

 

samsung project (23) bersyukur masih bernapas

HDR SAMSUNG

“i like the smell of rain,” hujan di cipete. captured with Samsung K Zoom. 

 

Banyak orang bersyukur gajihnya naik bulan ini. Dapat bonus dua kali gaji. Bisa cuti dua minggu. Bisa liburan ke luar kota atau pun ke luar negeri. Jabatan loncat lebih tinggi dari sebelumnya. Mampu membeli rumah di Pondok Indah. Bisa mengganti mobil Avanza menjadi Ferari. Baru punya pacar lima. Mendadak dapat gebetan artis karbitan.

 Banyak lagi hal lainnya.

 Kalau saya, bersyukur, karena masih bisa bernapas hari ini, mendengarkan hujan, memandang hujan dan membaui hujan.

 Cukup itu saja. Sebab, jika sudah tak lagi bernapas, segalanya sudah tidak berguna lagi. Begitu, ‘kan?

20141126_124830

“duduk di bawah hujan yuk!”

“sonofmountmalang”

 

 

 

samsung project (22) pohon kehidupan

GALAXY K ZOOM

SAMSUNG GALAXY K ZOOM. JAMBU JAMAIKA.

Apa jadinya jika di depan rumah tidak ada pohon sebatang pun yang tumbuh atau ditanam? Kalau saya, mungkin akan merasakan penderitaan mata, batin dan kehidupan terasa hampa. Bagi saya, pohon adalah salah satu unsur penting yang tidak boleh kita lupakan. Pohon adalah pohon kehidupan.

Itulah kenapa, apa pun caranya, saya mencoba menanam berbagai jenis pohon di lahan depan rumah yang tidak terlalu luas. Untuk memberikan kesan hijau, rindang, teduh dan sukur-sukur kalau berbuah.

Salah satu pohon di depan rumah yang sudah mulai berbuah, selain jambu biji, ada jambu jamaika. Tidak pernah terasa ya, menanam dan menunggu, kemudian berbuah. Tidak masalah buahnya nanti anak-anak yang memetik, yang penting, nuansa hijau mulai memberikan rasa teduh di depan rumah.

Bagaimana dengan kalian? Sudahkah menanam pohon di depan rumah, untuk memberikan keteduhan ketika cuaca Jakarta panasnya semakin ampun-ampunan.

#berkebunisGOOD!

GALAXY K ZOOM

SAMSUNG GALAXY K ZOOM. JAMBU JAMAIKA.

GALAXY K ZOOM

SAMSUNG GALAXY K ZOOM. JAMBU JAMAIKA.

“sonofmountmalang”

Selamat datang, TURKISH COFFEE!

CEZVE. Turkish coffee.

CEZVE. Turkish coffee.

Selamat datang, CEZVE!

Selamat datang, keluarga baru, CEZVE – TURKISH COFFEE!

Salah satu benda yang mendapatkan cap Intangible Cultural Heritage dari UNESCO.

Kopi yang dihasilkan dari cara ini adalah super kelam, gelap pekat dan sangat kuat rasanya.

Tidak heranlahyah Turki punya proverb dahsyat tentang kopi, katanya “Coffee should be black as hell, strong as death, and sweet as love.”

Marilah kita berkarya dengan CEZVE!

Yuk!

 

“sonofmountmalang”

 

 

 

Dongeng (32) Puncak Bungah

Salah satu Dongeng Tidur Tala adalah bercerita tentang Puncak Bungah. Kalau dalam bahasa Indonesia artinya Puncak Kebahagiaan atau Puncak Kesenangan.

Duduk di puncak ini, saat ini pun, tanpa adanya pemandangan berbagai jenis bunga, hanya ilalang liar, tetap menyenangkan. Kapan waktu, saya akan ajak Tala dan Ranting ke sini kayanya. Kemping. Yuk!

Jalan setapak menuju Puncak Bungah di hutan Gunung Malang

Puncak Bungah yang sudah puluhan tahun bangkrut dan tinggalah bukit belantara ilalang dengan pemandangan perkebunan teh. Dan sebagian tanahnya sudah digarap penduduk sekitar, bahkan ada juga petani dari Lembang.

 

“sonofmountmalang”

samsung project (21) 3 Wise Monkeys

DSC_0232

Suka makanan Jepang? Suka minum sake-saken? Suka nongkrong? Suka makan?

Coba aja yuk! Ke resto 3 Wise Monkeys di Senopati. Enak-enak dan harganya masih masuk akal.

Foto diambil dan diedit dengan SAMSUNG K ZOOM. Salah satu gadget yang bisa membuat saya lebih leluasa foto, edit dan posting

di wordpress melalui APPS WP. *Pamer gadget baru ini sih:p*

 

“sonofmountmalang”

(1) Cerita untuk Ranting Areythuza; “Seorang Rindu”

s

“Dago.”

                       

Seorang Rindu     

            Ran, kataku, memulai sebuah perbincangan ketika kami berdua duduk di kursi kayu di sebuah café di Dago, tempat di mana asap kopi menyampaikan doa-doa ke langit hampa bintang.
            Aku pernah sekali menjatuhkan cintaku pada seorang perempuan di sini, lanjutku. Ranting, sahabat kecilku, pelanga pelongo. Ia tidak mengerti, namun ia tetap mendengarkannya.
            Akan aku ceritakan sebuah cerita, malam ini untukmu, Ran. Tentang seorang perempuan bernama Rindu, serupa cahaya-cahaya di atas kota, yang hanya mampu aku reguki dari pandangan jauh. Tanpa tersentuh, tetapi rasa senangnya meresap ke segala pembuluh darah. Membuatku, malam itu, terhanyutkan ke ladang di mana mariyuana sedang dibakar oleh pesta ria petaninya.
            Aku gele gilak!
            Aw! Sangat menyenangkan, Ran.
            Malam itu.
            Bahkan, Ran, aku bisa menuliskan dua halaman puisi cinta dengan bahasa selegit susu kental manis, dan indahnya, bisa dianalogikan segerlap-gerlap di atas kota Bandung.
            Aku menunjuk ke lautan bintang-bintang di bawah lengkungan langit semu hitam.
            Romantis sadis, ‘kan Ran?
            Saat itu.
            Cintaku pada perempuan itu, Rindu, sekali lagi, namanya, biar kamu ingat ya, Ran, sangat gaduh, kalut dan haru biru. Entah ungkapan apa lagi yang bisa memetaforakan perasaan.
            Ketika, udara Dago sedang berada di titik terdingin. Kedua tanganku memeluk, diriku. Kedua tangannya, memeluk dirinya. Kami berdua sedang disiksa nikmatnya desiran angin yang mencantuk hingga ke tulang dada.
             Kami berdua.
            Aku dan perempuan itu,
            Rindu, tentunya,
            duduk di atap mobil berasalkan syal tebal berwarna ungu tua miliknya, yang selalu ia bawa ke mana pun ia pergi. Aku tahu hal itu, karena ia pernah bercerita. Syal ungu tua itu pemberian salah satu laki-laki yang pernah mencintainya setengah mati, dan kemudian Rindu dan laki-laki itu, saling mencintai pun lah setengah mati. Setengah tahun kemudian, kedua cintanya mati.
            Kasihan ya, Ran.
            Rindu belum bisa move on dari laki-laki masa lalunya. Buktinya, syal sialan ungu tua, yang menjadi alas duduk kami berdua, selalu ia bawa. Dan aku, mau juga mendudukinya.
            Pernah ada dua cinta setengah mati saling bertubrukan, di anyaman syal ini ada sisa-sisa cinta yang terselip dan aku masih bisa menghirupinya, begitu kata Rindu, suatu hari, ketika aku tanya, ada apa dengan syal itu.
            Lupakan ya, Ran, soal syal itu. Tidak begitu penting untuk diceritakan.
            Tidak akan aku lanjutkan juga sih. Aku lanjutkan tentang Rindu saja ya.
            Malam itu, kami sudah tiga jam duduk di atap mobil. Aku sudah menghabiskan satu cangkir kopi dingin, Rindu sudah menghabiskan satu botol kecil bir dingin. Kami pun saling menyampah jutaan kata, obrolan tanpa arah.
            Terkadang tertawa.
            Tersenyum.
            Terdiam.
            Saling bertatap lama.
            Bertatapan sebentar.
            Malingkan wajah.
            Merunduk.
            Mencuri-curi pandang.
            Diam lagi.
            Oh, ya Ran. Ada satu hal lagi, sebelum berlanjut. Aku cinta mati dengan kopi, dan Rindu tergila-gila dengan bir. Baginya, kopi hanya untuk orang-orang serius. Sementara bir, hanya untuk orang-orang periang. Soal kedua jenis minuman itu, kami pernah berdebat panjang. Itu akan aku ceritakan lain kali saja.
            Setelah tiga jam duduk di atap mobil, aku, akhirnya, tetibaan saja sih, ingin jatuh cinta padanya. Pada Rindu. Tidak tahu kenapa. Mungkin sudah berteman selama lima tahun. Sudah melakukan perjalanan panjang dan tidak pernah melakukan apa-apa. Sudah sering duduk berjam-jam dan bubaran di pintu gerbang sebuah mall atau tempat nongkrong. Sementara Rindu itu, Ran, menurut pandangan mataku, sangat meresahkan jantung yang terkadang suka meletup-letup sedikit dan otak cabulku suka sekali melintas, membayangkannya, aku bisa memeluknya.
            Dan, hamparan cahaya-cahaya di atas kota Bandung, membuatku, kepadanya, menjadi romantis gilak!
            Entah aku yang romatis saja, dan Rindu tidak.
            Entah cinta tanpa logika saja atau selintasan gairah, karena malam itu, ia sedang terlihat seksi dengan botol bir yang ia dekap di antara ke dua payudara .
            Atau ia merasakan hal yang sama. Atau tidak.
            Mungkin juga, Ran, karena udara Bandung dingin dan aku jadi ingin lebih dekat dengannya. Mengunci kata-kata, melepaskan rasa. Melalui persentuhan kedua tangan kami.
            Aku hanya ingin menggengam tangannya saja.
            Setidaknya, itu yang ada di kepalaku, di larut malam.
            Akhirnyalah, aku memutuskan untuk bersabda.
            Begini sabdaku, bahasa, yang aku susun secantik aku bisa.
            Boleh jatuh cintakah aku di atas bintang-bintang bumi Parahyangan, mencintaimu sampai tak sadarkan diri, gila juga tak apalah, di ketinggian tanah berudara dingin, tetapi hanya semalam ini saja. Esok, subuh-subuh, ketika bintang-bintang daratan meluluh, begitu jugalah tentang perjatuhan cintaku, rasa yang aku ingin percikan cukup semalaman, melenyapkan dirinya.
            Bolehkah?
            Aku jatuh cinta malam ini.
            Rindu?
            Rindu, terduduk di sebelahku, sahabat tanpa syarat, perempuan berwajah lugu sedikit dungu, malaikat manis tak bersayap, merekatkan botol bir ke belahan dadanya, menatap diam ke rupa kota bermandikan cahaya. Ia hanya menarik napas pelan sekali, sedikit panjang, dihembuskan cepat, melepaskan kabut tipis dari kedua bibir memonyong kedinginan yang tetap berusaha basah oleh sisa curahan bir senyap bercampur embun dan telah berbaur dengan pelembab bibirnya yang kian menipis, namun tetap saja terlihat menggoda, untuk diarungi.
            Kira-kira kamu bisa menebak, Ran, apa jawaban Rindu malam itu. Jawabannya sangat sederhana. Tidak serumit bahasa yang aku cipta.
            Jawabannya…..
            …….
Bersambung ya…..
Note: Setelah membukukan DONGENG TIDUR TALA sebanyak 200 halaman, kini saatnya menulis Cerita untuk sahabat imut saya, Ranting Areythuza, tentang “Seorang Rindu”, salah satu kategori baru yang akan memeriahkan blog ini. Siapa sih Rindu? Ikutin aja yuk ceritanya.

“sonfomountmalang”